Blak-blakan Karyawan Gym di Semarang Cerita Dihajar Atasan gegara Story WA

Blak-blakan Karyawan Gym di Semarang Cerita Dihajar Atasan gegara Story WA

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Sabtu, 09 Mei 2026 11:59 WIB
Ilustrasi Kekerasan
Ilustrasi kekerasan perempuan. Foto: Getty Images/iStockphoto
Semarang -

Seorang wanita yang menjadi korban kekerasan di tempat pusat kebugaran (gym) di Kota Semarang buka suara soal penganiayaan yang menimpanya. Ia mengaku dipukul atasannya usai mengunggah candaan di media sosial.

Hal itu disampaikan korban, A (24), yang kini telah diberhentikan dari tempat kerjanya. Ia menceritakan, peristiwa itu terjadi pada Kamis (30/4/2026) sore di sebuah tempat fitnes di Kota Semarang.

"Awalnya aku buat story WhatsApp sekitar jam 17.30 WIB tentang obrolan grup chat kerjaan. Jadi di situ poinnya bercandaan biasa," kata A kepada detikJateng, Sabtu (9/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, unggahan itu berkaitan dengan keluhan terduga pelaku yang merupakan atasannya bagian leader, yang tidak suka melihat karyawan berkumpul atau bergerombol saat jam kerja.

"Katanya dia migrain lihatnya," ujarnya.

ADVERTISEMENT

A kemudian mengunggah tangkapan layar obrolan grup tersebut, dengan menuliskan caption bernada candaan di unggahannya. Namun, unggahan itu diduga membuat pelaku tersinggung.

"Dia nggak komentar tapi langsung di-screenshot dan dikirim ke grup tim, menandai aku bilang 'oh sengaja ya'. Aku baru buka grupnya terus dia langsung nyamperin aku di lounge," tuturnya.

"Dia nyamperin terus bilang 'maksudmu apa?' terus sambil marah dia jambak rambutku, habis itu dipukul, aku sadar dipukul kepala kiriku dan telinga tiga kali terus kliyengan (pusing)," lanjutnya.

A mengaku setelah itu terduga pelaku masih memukulnya berkali-kali di bagian kepala sebelah kiri, bahkan sempat mencekik korban sebelum akhirnya dipisahkan rekan kerja lain.

"Ada saksi lihat aku dipukul sampai mungkin 10 kali. Setelah itu dipisah dan aku diarahkan ke office (ruang kerja manajer). Di situ aku masih dipukul lagi," katanya.

A juga menyebut manajernya yang berada di dalam ruangan tidak berusaha melerai saat kejadian berlangsung. Sementara manajer disebut hanya diam, rekan kerja korban langsung menghentikan pemukulan itu.

"Terus manajerku bilang 'ini gimana?' aku masih syok, nggak merespons terus dia bilang sudah nggak bisa satu tim sama aku. Intinya dia memberhentikan aku di situ. Katanya 'sudah, kamu hari ini hari terakhir saja'," jelasnya.

Korban pun langsung melapor hari itu juga ke Polrestabes Semarang, pada malam hari setelah kejadian. Ia juga telah menjalani visum di rumah sakit.

"Jam 06.30 WIB langsung lapor, terus visum," ujarnya.

Akibat penganiayaan itu, A mengalami luka memar dan bengkak di area pipi serta telinga kiri. Ia mengaku kesulitan makan selama beberapa hari.

"Dua sampai tiga hari aku nggak bisa makan. Pemulihan sekitar lima hari. Kalau sekarang sudah baikan," katanya.

A mengaku telah bekerja sekitar delapan bulan di tempat fitnes tersebut. Namun, hingga kini ia tidak pernah menerima surat resmi pemutusan hubungan kerja.

"(Setelah itu ada pemberitahuan PHK secara resmi?) Nggak ada, cuma lisan. (Pernah minta maaf?) Minta maaf sampai sekarang nggak ada, pesangon juga nggak dikasih," katanya.

Korban pun berharap kasus yang dialaminya bisa diproses secara adil dan tidak terulang terhadap pekerja lain. Ia menyebut, hingga kini masih belum bekerja setelah dipecat dari tempat kerjanya.

"Aku belum pernah mengalami kejadian kayak gini. Pelaku itu juga sebenarnya kalau sama teman-teman bercandaan biasa, cuma nggak tahu kenapa dia benar-benar sampai kayak gitu," terangnya.

"Aku juga nggak pernah punya masalah sama dia. Kita juga menghargai dia sebagai leader. Jadi kalau balas dendam kayaknya nggak," lanjutnya.

Sebelumnya diberitakan, dugaan kasus kekerasan terjadi di tempat pusat kebugaran (gym) di Kota Semarang. Seorang pekerja di pusat kebugaran tersebut diduga mendapat kekerasan dari atasannya.

Informasi itu viral di media sosial usai diunggah akun X @hspkhm2589. Kasat PPA dan PPO Polrestabes Semarang, Kompol Ni Made Sriniti mengatakan, korban sudah melapor pada Kamis (30/4) lalu.

"Di sini identitasnya belum jelas. Nanti kita lakukan pendalaman lebih lanjut dari saksi-saksinya," ucapnya.






(ahr/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads