Kisah haru dirasakan seorang warga Batang bernama Anto (52). Terpisah lebih dari 30 tahun, dia akhirnya berhasil menemukan ibunya, Gim Suyati (73), di Malaysia.
Anto, warga Desa Adinuso, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang sekaligus anak kedua dari empat bersaudara ini menceritakan proses mencari ibunya yang berbuah manis. Ibu dan anak ini berhasil bertemu berkat bantuan warga Malaysia.
Diketahui, Suyati berpamitan kepada keluarganya untuk bekerja di negara tetangga itu pada tahun 1995 silam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama dua tahun pertama, komunikasi masih terjalin melalui telepon umum. Pada 1997, ibu sempat berpamitan hendak pulang ke Indonesia, tetapi tak pernah tiba di rumah. Sejak saat itu, keluarga kehilangan kontak dan tak pernah mengetahui keberadaannya," tutur Anto yang saat ini masih berada di Malaysia mengurus administrasi kepulangan ibunya saat dihubungi detikJateng, Rabu (13/5/2026).
Ia mengungkap keluarganya sudah mengusahakan berbagai cara untuk menemukan Suyati. Bahkan, Anto sempat memutuskan bekerja sebagai penjahit di sebuah pabrik di Batu Pahat, Johor, pada 2002-2004 dengan harapan bisa mendapat informasi keberadaan sang ibu. Ayahnya saat itu juga ikut merantau ke Malaysia.
Di sela waktu luang saat kerja di Malaysia, ia menyusuri berbagai tempat, termasuk terminal bus di Kuala Lumpur seperti Puduraya (Pudu Sentral), berharap bisa bertemu ibunya.
"Kalau libur, saya habiskan waktu di terminal, seharian, melihat orang lalu lalang. Barangkali ada ibu di sana. Tapi sampai empat tahun tidak ketemu," katanya.
Di tahun 2004, Anto dan ayahnya kembali ke kampung halamannya karena habis kontrak kerja. Momen pilu harus dirasakan Anto pada tahun 2005 lantaran sang ayah meninggal dunia.
Sepeninggal sang ayah, Anto berusaha melanjutkan pencariannya dengan kembali bekerja ke Malaysia pada tahun 2005-2008. Namun hasilnya tetap nihil. Ia pun akhirnya kembali ke Indonesia dan hanya bisa berharap ibunya masih hidup.
"Kami berdoa, bahkan menggelar doa bersama tahlil untuk ibu, dari seminggu, 40 hari hingga seribu hari," ucapnya.
Selama puluhan tahun itu, belakangan terungkap Gim Suyati bertahan hidup di Kuala Lumpur tanpa dokumen resmi. Ia diduga berangkat ke Malaysia melalui jalur tidak resmi, sehingga tidak memiliki paspor maupun identitas.
"Dulu ibu saya itu pergi ke Malaysia karena ditipu orang, cuman lewat agen tidak resmi, tidak dibekali dokumen apa-apa, ya diselundupkan. Sampai Malaysia tidak dibekali paspor atau apapun jadi status ibu saya betul-betul kosong blong," kaya Anto.
Kondisi itu membuatnya kesulitan untuk pulang ke Indonesia meski beberapa kali mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur.
"Di Kuala Lumpur, ternyata ibu kerja apa saja untuk bertahan hidup. Saat itu ibu juga pengin pulang. Bahkan, beberapa kali ibu pergi ke KBRI, namun karena tidak ada dokumen identitas tidak ada hasilnya," jelas Anto.
Pertemuan Penting Gim Suyati dengan Penolong
Titik balik yang mengubah hidup Gim Suyati terjadi 10 bulan lalu, saat dia bertemu seorang warga Malaysia bernama Kamarudin Harun. Keduanya pun akrab sehingga bisa berbagi cerita.
Dari pertemuan tersebut, Kamarudian berinisiatif mencari keluarga Suyati di Indonesia.
"Cik Kamarudin Harun orang Malaysia asli, beliau usia sebaya dengan ibu saya. Setelah ketemu ngobrol akhirnya jadi sahabat, sering ketemu berbagi cerita. Akhirnya mereka akrab dan orang Malaysia sering pergi ke kontrakan ibu, sampai suatu ketika beliau memutuskan bulan April mencari keluarganya ibu ke indonesia," tuturnya.
Pada 14 April 2026, Kamarudin datang ke Indonesia dan langsung menuju ke Desa Adinuso, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang. Berbekal alamat yang diingat oleh Gim Suyati, Kamarudin akhirnya berhasil menemukan keluarga Anto.
Di hari yang sama itulah, kali pertama Anto dan ibunya bertemu meskipun hanya melalui panggilan video. Meski sempat sulit mengenali karena perubahan fisik selama 31 tahun, keluarga akhirnya memastikan identitas Gim Suyati.
"Awalnya pangling, tapi setelah dikenali oleh saudara yang lebih tua, akhirnya yakin itu ibu saya," jelas Anto.
Berdasarkan kesepakatan keluarga, Anto lantas berangkat ke Malaysia pada 21 April 2026 untuk menjemput ibunya. Saat itulah, dia bisa bertatap muka dengan sang ibu. Suasana haru pun tercipta.
Proses Pemulangan Tidak Mudah
Meski sudah bertekad memulangkan Gim Suyati, ternyata Anto menemui kendala pelik. Lantaran pergi dalam kondisi tak membawa dokumen dan belum merekam e-KTP, Gim Suyati harus mengajukan status kewarganegaraannya di Kementerian Hukum di Jakarta.
"Saya dikejar waktu karena izin tinggal di Malaysia juga terbatas, proses administrasi memakan waktu lama. Sudah dua pekan belum ada hasilnya," kata dia.
Dalam proses itu dia akhirnya dibantu oleh warga Batang yang saat ini menjadi legislator. Proses administrasi Akhirnya selesai.
"Alhamdulilah berjalan cepat," ungkapnya.
Setelah melalui proses yang cukup panjang dokumen perjalanan sementara atau Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) akhirnya berhasil diterbitkan.
Selain itu, Gim Suyati juga harus membayar denda imigrasi Malaysia sebagai pendatang tanpa dokumen. Beruntung, saat itu sedang ada program pemutihan sehingga biaya yang harus dibayar jauh lebih ringan.
Anto mengaku sangat bersyukur akhirnya bisa bertemu kembali dengan ibunya setelah puluhan tahun berpisah. Ia juga mengapresiasi bantuan warga Malaysia yang telah membantu menemukan keluarganya.
"Kalau tidak bertemu orang baik itu, mungkin sampai sekarang kami tidak tahu keberadaan ibu," ungkapnya.
Rencananya, Anto akan membawa pulang ibunya ke Indonesia pada pertengahan Mei 2026 untuk kembali berkumpul bersama keluarga setelah lebih dari tiga dekade terpisah.
