57 Biksu Thudong Tiba di Muntilan Magelang, Besok Naik Puncak Candi Borobudur

57 Biksu Thudong Tiba di Muntilan Magelang, Besok Naik Puncak Candi Borobudur

Eko Susanto - detikJateng
Rabu, 27 Mei 2026 22:04 WIB
Para biksu yang melakukan Indonesia Walk For Peace 2026 telah tiba di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan, Kabupaten Magelang, Kamis (27/5/2026).
Para biksu yang melakukan Indonesia Walk For Peace 2026 telah tiba di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan, Kabupaten Magelang, Kamis (27/5/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng
Magelang -

Sebanyak 57 biksu yang melakukan thudong, atau perjalanan spiritual dengan jalan berjalan kaki, lewat Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026 telah sampai di Muntilan, Kabupaten Magelang. Besok siang, mereka bakal berjalan menuju puncak Candi Borobudur.

Pantauan detikJateng, sekitar pukul 17.30 WIB, rombongan para biksu tiba di Kelenteng Hok An Kiong di Jalan Pemuda, Muntilan, Kabupaten Magelang. Saat memasuki halaman kelenteng, para bhante ini disambut dengan taburan bunga mawar.

Dalam kelenteng, para bhante ini disambut Bupati Magelang Grengseng Pamuji, Kapolresta Magelang Kombes Herbin Garbawiyata Jaya Sianipar, Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Buddha Kemenag RI, Nyoman Suriadarma, hingga pejabat lainnya. Usai penyambutan, para bhante memasuki di kompleks kelenteng yang juga Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) untuk istirahat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Nasional Indonesia Walk For Peace 2026, Tosin, mengatakan total biksu yang datang ada 50, terdiri dari 43 biksu dari Thailand, 4 Malaysia dan 3 Laos. Kemudian untuk hari ini ditambah 7 biksu.

ADVERTISEMENT

"Yang hari ini ditambah ada 7 bhikkhu yang tergabung. Jadi ada 57 bhikkhu yang tergabung," kata Tosin kepada wartawan di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan, Rabu (27/5/2026).

Ia melanjutkan, malam ini para biksu akan bermalam di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan. Besok, (28/5), mereka direncanakan untuk naik ke puncak Candi Borobudur, sebelum beristirahat di Pusdiklat Catra Jinadhammo, Borobudur.

"Jam 6 sampai jam 7 itu makan pagi, jam 7 mereka melakukan perjalanan, besok akan menuju Vihara Mendut. Setelah Vihara Mendut menuju Candi Borobudur sampai ke puncak. Itu sebagai spirit atau tujuan mereka melakukan perjalanan mulai dari Bali hasil akhir memang ada di Candi Borobudur," ujar dia.

"Estimasi kalau secara rundown 2.30 (14.30 WIB), bisa digeser karena kita juga lihat udara kalau terlampau panas kan juga tidak baik. Dan Bhikkhu yang bawa rombongan ini, Bhikkhu yang bijak, dia melihat teman-teman ini semua agar bisa jalan semua. Jadi tidak tinggalin rombongan, dia sangat kuat," lanjut Tosin.

Dalam kesempatan ini, Tosin kemudian mengklarifikasi istilah thudong yang diganti dengan Indonesia Walk For Peace. Thudong, katanya, berasal dari bahasa Pali Dutangga.

"Dutangga itu cara hidup. Sementara aktivitas ini kan perjalanan damai. Maka lebih ideal kita nambahkan Indonesia Walk for Peace atau jalan damai," jelas Tosin.

"Karena memang bhikkhu itu hidupnya sangat sederhana ada di hutan, tapi ini yang kita kemas adalah jalan damainya. Bukan cara hidup pertapaan yang mereka lakukan di hutan," imbuhnya.

Tosin menyampaikan, selama perjalanan para biksu tidak mengalami kendala. Justru sebaliknya, adanya sambutan dari masyarakat yang sangat luar biasa.

"Oh tidak ada (kendala sama sekali). Kalau sambutan sangat hangat sekali, semua elemen masyarakat apakah itu dari berbagai agama semua sambut luar biasa. Dari anak kecil, orang dewasa, orang tua bahkan orang sakit saja sampai menunggu untuk menyambut dan mereka sangat bahagia," lanjutnya.

"Ya ini yang luar biasanya para bhikkhu ini, walaupun udara yang sangat terik, panas sekali, kemudian ada beberapa titik kehujanan, mereka tetap lakukan (perjalanan). Walaupun kaki lecet sampai luka, mereka tetap berjalan. Jadi kadang-kadang malam mereka akan jahit kakinya supaya tidak lepas gitu loh. Artinya besok istirahat, masih tetap jalan. Jadi kalau kita lihat kaki yang ada di telapak, bisa jadi ada 3 sampai 5 jahitan. Tapi ini luar biasa, mereka tetap mengusung spirit perdamaian ini sangat tinggi sekali," tambahnya.

Sementara itu, Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Buddha Kemenag RI, Nyoman Suriadarma mengatakan, pesan utamanya bahwa di tahun 2026 ini Direktorat Jenderal bersama masyarakat Buddha telah merumuskan satu tema Waisak, Dharma Menjaga Perdamaian Dunia.

"Terkait dengan itu, maka rombongan peserta para bhante ini dikemas melalui sebuah nama yang kita berharap mendunia yang namanya Indonesia Walk For Peace," kata Nyoman.

"Pesan utamanya, tentunya yang saya sampaikan dan di berbagai tempat bahwa kita ingin memperlihatkan, mengumandangkan kepada semua pihak sampai seluruh dunia bahwa spirit perjalanan beliau ini menunjukkan satu pesan bahwa keharmonian, keharmonisan, kerukunan, keakraban, kebersamaan perlu terus menerus dihadirkan. Itu terbukti dari perjalanan dan terbukti dari semua dukungan masyarakat. Oleh karena itu kondisi seperti ini dapat dilihat dan juga dapat memberikan satu vibrasi kepada dunia bahwa menghadirkan satu perdamaian untuk semua orang, semua bangsa sangat penting dan itu lahir atau dimulai dari Indonesia melalui spirit perjalanan ini," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Ribuan umat Buddha mengikuti kirab Waisak dari Candi Mendut ke Candi Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]
(apu/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads