Aksi Kamisan Semarang Ajak Pengguna Jalan Bunyikan Klakson

Aksi Kamisan Semarang Ajak Pengguna Jalan Bunyikan Klakson

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Kamis, 11 Jun 2026 20:37 WIB
Aksi Kamisan Semarang di depan Kantor DPRD Jateng, Jalan Pahlawan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Kamis (11/6/2026).
Aksi Kamisan Semarang di depan Kantor DPRD Jateng, Jalan Pahlawan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Kamis (11/6/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Aksi Kamisan Semarang yang digelar petang tadi tak hanya diisi orasi. Sejumlah pengguna jalan mulai dari pengendara motor, sopir taksi, hingga pemilik mobil mewah membunyikan klakson sebagai simbol kekesalan terhadap pemerintah.

Sejumlah poster ditempatkan dalam Aksi Kamisan yang berlangsung di Jalan Pahlawan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. Namun, yang menarik perhatian adalah poster bertulisan 'Klakson Jika Muak dengan Pemerintah'.

Utami (31), salah seorang pengendara motor, termasuk salah satu yang membunyikan klakson panjang saat melintas di lokasi aksi. Ia berkata, hal itu menjadi cara sederhana untuk meluapkan kekesalannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tadi ikut mengklakson karena saya sudah kesal banget sama pemerintah. Di situ ada tulisan 'klakson jika kesal dengan pemerintah', ya saya kesal sama pemerintah," kata Utami kepada detikJateng, Kamis (11/6/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, salah satu pemicu kekesalannya adalah kenaikan harga BBM jenis Pertamax yang dinilai memberatkan masyarakat. Terlebih, kondisi ekonomi masyarakat kini juga dinilai sulit.

"(Apa yang bikin marah?) Yang terbaru terkait kenaikan BBM. Kebetulan saya pengguna Pertamax dan naik Rp 4 ribu itu menurut saya sudah nggak masuk akal. Saya kecewa dan kesal," ujarnya.

Utami juga menyoroti sikap pemerintah yang dinilainya tidak menunjukkan empati kepada masyarakat setelah kebijakan kenaikan harga BBM tersebut.

"Saya kesal karena pemerintah tidak punya penyesalan, bahkan tidak minta maaf. Naik sampai Rp 4 ribu tapi tidak ada perkataan apa-apa ke masyarakat," tuturnya.

"Menurut saya itu sangat mengecewakan, semoga pemerintah segera sadar. Menurut saya kondisinya sudah parah banget tapi mereka tidak menyadari bahwa kita pelan-pelan mulai hancur," lanjutnya.

Hal senada dikatakan pedagang cilok keliling, Ajmono (55), yang ikut membunyikan klakson. Ia mengaku mulai merasakan ekonomi sedang sulit, sehingga ikut membunyikan terompetnya.

"Kalau BBM naik ya penginnya jangan naik, biasa aja. Dampaknya berkurang keuntungannya, pendapatan berkurang, barangnya naik (harganya)," keluhnya.

Ia menyebut telah merasakan dampak kenaikan plastik yang dibarengi dengan penurunan penjualan. Jika sebelumnya ia bisa membawa sekitar 1.000 butir cilok untuk dijual setiap hari, kini jumlahnya turun menjadi sekitar 800 butir.

"Sekarang bos nggak berani bawain banyak karena sering nggak habis. Pendapatan ya turun juga," ujarnya.

"Saya takut juga kalau semua barang naik terus. Nanti ngambil untungnya dari mana," tambahnya.

Presiden BEM Universitas Negeri Semarang (Unnes), Septia Linasari, menuturkan aksi klakson dipilih dalam Aksi Kamisan untuk menunjukkan bahwa keresahan terhadap kondisi saat ini tidak hanya dirasakan mahasiswa.

"Klakson ini menggambarkan bahwa masyarakat sipil juga muak. Sekarang anggapannya mahasiswa saja yang kesal, sedangkan masyarakat tidak," ucapnya.

"Padahal nyatanya tidak, dibuktikan dengan klakson hari ini. Mereka yang pulang kerja, ojol, tukang parkir, pedagang, semuanya merasa lelah dengan Indonesia," kata Septia.

Menurutnya, banyaknya pengendara yang ikut membunyikan klakson, termasuk pengguna mobil-mobil mewah, menunjukkan keresahan telah dirasakan berbagai lapisan masyarakat.

"Kalau kita bicara ekonomi, dampaknya bukan hanya masyarakat bawah. Menengah sampai atas juga terdampak. Tadi banyak yang naik mobil-mobil bagus ikut klakson karena memang sudah muak dengan kondisi yang ada," ujarnya.

Menurutnya, selain kenaikan harga BBM, aksi Kamisan kali ini juga menyoroti disahkannya RUU Polri yang sebelumnya menuai banyak penolakan dari kelompok masyarakat sipil dan mahasiswa.

"Sangat disayangkan sekali kenaikan Pertamax dibarengi pengesahan RUU Polri yang sudah menjadi UU Polri. RUU Polri itu sudah kita desak supaya tidak disahkan, karena banyak pasal yang kontroversial," ujarnya.

Namun, Septia menilai perjuangan mahasiswa tidak berhenti di sini. Ia berharap, pasal-pasal yang dianggap bermasalah dapat diuji kembali melalui mekanisme judicial review di Mahkamah Konstitusi.

"Perjuangan tidak berakhir di sini. Harapannya MK membuka pintu untuk melakukan judicial review terhadap UU Polri yang sudah disahkan ini," tegasnya.

"Polisi tugasnya mengayomi dan melindungi masyarakat. Karena itu pasal-pasal yang tidak disepakati rakyat Indonesia perlu ditinjau kembali," imbuhnya.

Hal senada disampaikan Presiden BEM Polines, Kevin Kurnia Priambodo, yang juga memegang poster tersebut. Ia mengatakan, aksi tersebut menjadi cara sederhana untuk mengukur keresahan publik terhadap pemerintah.

"Tadi yang mengklakson beragam. Ada ojol, sopir taksi. Jadi saya rasa nggak hanya kalangan ekonomi ke bawah, kami rasa ini bukan bualan, memang semua orang saat ini muak. Tadi ada mobil mewah HR-V, Avanza, Fortuner juga ada," ungkapnya.

"Tadi juga ada BRT Trans Semarang, tukang becak, pedagang cilok bahkan pakai klakson terompetnya. Jadi memang semua dari lapisan manapun ngelakson," tambah Kevin.

Ia menilai, aksi klakson yang jadi wadah meluapkan kekesalan itu memang terlihat sederhana dan bahkan terkesan jenaka. Namun di balik itu, terdapat pesan serius yang ingin disampaikan kepada pemerintah.

"Walaupun mungkin terdengar jenaka, lucu, tetapi output gerakan kami justru harus ditanggapi pemerintah sebagai bentuk tamparan," tegasnya.

"Walaupun kita terlihat memegang poster ketawa-ketawa, bercanda, riang, ini justru merupakan tamparan kita terhadap pemerintah melalui cara sesederhana ini," sambungnya.

Halaman 2 dari 2
(apu/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads