Warga Semarang Sambat Harga Obat Naik Diduga Imbas Dolar Naik

Warga Semarang Sambat Harga Obat Naik Diduga Imbas Dolar Naik

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Jumat, 12 Jun 2026 14:55 WIB
Close-Up Of Medicines Over White Background
Ilustrasi obat. Foto: Getty Images/EyeEm Mobile GmbH
Semarang -

Sejumlah warga Kota Semarang mulai merasakan kenaikan harga obat dan perlengkapan kesehatan. Harga obat naik diduga imbas kenaikan harga dolar.

Hal itu dirasakan salah satunya oleh warga Tembalang, Hani (40), yang kerap membeli cairan infus dan perlengkapan home care untuk kebutuhan perawatan pasien di rumah.

"Ya ngerasa banget semua sekarang naik, obat-obatan juga harganya naik," kata Hani saat dihubungi detikJateng, Jumat (12/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, kenaikan memang belum terlalu besar. Namun, sejumlah kebutuhan kesehatan yang rutin dibeli mengalami penyesuaian harga dalam beberapa waktu terakhir.

"Harga cairan infus jenis RL (Ringer Laktat) sama NaCl ukuran 500 cc itu naik. Sebelumnya harganya Rp 9 ribu sekarang jadi Rp 11 ribu per botol. Tapi beda-beda tiap apotek," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Tak hanya itu, obat penurun demam yang biasa dibelinya juga mengalami kenaikan harga. Namun meski harga naik, ia mengaku tetap membeli obat-obatan tersebut.

"Sanmol dari Rp 3.500 jadi Rp 4.500. Tapi ya kita tetap beli, kan biasanya kita sudah tersugesti sama obat itu. Kalau ganti yang lain nanti takutnya merasa nggak sembuh-sembuh," ungkapnya.

Hani yang juga bekerja sebagai perawat itu pun menilai kenaikan harga obat berpotensi semakin memberatkan masyarakat yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Sebab selain membayar biaya pemeriksaan, mereka juga harus menanggung biaya obat secara mandiri.

"Yang nggak punya BPJS jadi mikir kalau mau berobat, karena biaya berobat naik dan harga obat-obatan juga naik," katanya.

"Kenapa harga obat ikut naik terus? Kasihan orang-orang kecil yang BPJS-nya mati jadi terdampak, sehingga banyak yang datang berobatnya terlambat, kondisi sudah parah baru berobat," lanjutnya.

Hal senada dikatakan warga lainnya yang juga bekerja di apotek, Indah (27). Ia menyebut, kenaikan harga obat sudah terjadi sekitar dua bulan terakhir.

"Untuk beberapa PBF (pabrik besar farmasi) kebanyakan sih belum naik secara signifikan. Biasanya obat-obat paten yang naiknya lumayan banyak," ucapnya.

"Obat paten itu kayak obat yang diproduksi sama perusahaan atau pabrik farmasi yang udah ngelewatin uji klinis yang panjang bertahun-tahun, terus jadi hak patennya perusahaan," lanjutnya.

Ia mengatakan, harga kenaikan obat bervariasi, dengan adanya kenaikan itu banyak pembeli yang lebih memilih untuk membeli obat PBF yang lebih murah.

"Harganya ada yang naik dari Rp 2-5 ribu paling kecil, kalau yang paling besar sekitar Rp 10-20 ribuan," ucapnya.

Sementara itu, Ketua IDI Kota Semarang, Prihatin Iman Nugrohi menyebut, pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang menjadi pemicu kenaikan harga obat. Pasalnya, banyak bahan baku obat yang masih bergantung pada impor.

"Memang dengan adanya kenaikan kurs rupiah terhadap dolar, potensi untuk kemungkinan terjadi peningkatan harga obat memang ada," kata Nugroho saat dihubungi.

"Karena bagaimanapun obat yang saat ini banyak digunakan di Indonesia itu banyak komponen yang masih dari impor. Sehingga memang sangat berpotensi ada kenaikan harga obat," lanjutnya.

Meski demikian, hingga kini pihaknya belum menerima laporan adanya kenaikan harga obat yang sampai mengganggu pelayanan kesehatan di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya di Kota Semarang.

"Sebelum itu tapi memang sudah ada beberapa obat yang kosong produksinya. Jadi apakah ini terkait langsung dengan kenaikan dolar, ini masih debatable, kita belum dapat info kenapa obat itu kosong," jelasnya.

Ia pun tetap mengingatkan pentingnya menjaga ketersediaan dan keterjangkauan obat bagi masyarakat, terutama pasien penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan berkelanjutan.

"Pasien kronis misalnya pada kasus hipertensi, kemudian kanker, ginjal, itu mereka harus mendapat obat-obatan yang digunakan untuk meminimalkan agar masalah kesehatan bisa dikontrol," jelasnya.




(afn/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads