Harga Terus Naik, Puluhan Pedagang Daging Sapi di Salatiga Mogok Jualan

Harga Terus Naik, Puluhan Pedagang Daging Sapi di Salatiga Mogok Jualan

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Senin, 22 Jun 2026 19:04 WIB
Penampakan los daging di Pasar Rejowinangun Kota Magelang, Kamis (18/6/2026).
Ilustrasi. Foto: Dok. detikJateng
Salatiga -

Puluhan pedagang daging sapi di Pasar Raya I, Tingkir, Kota Salatiga, mogok jualan. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap kelangkaan sapi potong yang menyebabkan harga sapi terus mengalami kenaikan.

Salah satu pedagang daging sapi, Apri, mengatakan pasokan sapi di sejumlah pasar hewan di Jawa Tengah semakin terbatas. Hal ini membuat harga sapi terus merangkak naik hingga memberatkan pedagang maupun pemasok.

"Harga daging sekarang sudah mencapai Rp 140 ribu per kilogram. Dulu masih sekitar Rp 120 ribu per kilogram. Harga sapi juga naik, yang sebelumnya sekitar Rp 25 juta per ekor sekarang bisa mencapai Rp 35 juta," kata Apri kepada awak media di los pasar daging Pasar Raya I Salatiga, Senin (22/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apri menjelaskan bahwa sekitar 75 pedagang di los pasar daging tersebut berhenti berjualan selama lima hari, terhitung sejak hari ini. Alasannya karena kelangkaan sapi.

"Tidak berjualan yang intinya satu kelangkaan sapi. Penyuplai sapinya tidak ada," ujar Apri.

ADVERTISEMENT

Apri menuturkan bahwa faktor utama yang diduga menjadi penyebab kelangkaan sapi yaitu wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang melanda dalam beberapa tahun terakhir.

"Dua tahun lalu PMK berkepanjangan, banyak sapi yang punah. Akhirnya petani pada tidak ternak sapi. Namanya sapi kan usianya kan hidupnya kan cuma sehari dua hari, enggak satu bulan dua bulan, berarti kan tahunan. Petani ternak itu ya dari pedet dulu," ujar Apri.

"Sekarang apa pakan ternak yang mahal. Singkat cerita berjangka dua tahun itu sapi lama-lama punah dipotong ya kan di mana-mana satu Jawa Tengah itu sudah enggak ada, sapi berkurang gitu loh," imbuhnya.

Karena jumlah ketersediaan sapi yang terus berkurang dan permintaan konsumen yang tidak seimbang, harga daging sapi terus merangkak naik. Hingga pada puncaknya, pedagang hingga supplier tidak mampu lagi mengakomodir kenaikan harga.

"Terus akhirnya dipotong setiap hari naik terus (harganya), pedagang tidak mampu, penjual ecer juga tidak mampu, ke supplier ini juga tidak mampu semua. Ya, akhirnya intinya merugi semua. Terus yang penyuplai sapi pun sudah angkat tangan. Aku tidak mampu karena tidak punya sapi dan di pasar pun tidak ada sapi," ungkap Apri.

"Antara sapi dan yang beli sapi itu banyak yang beli gitu loh. Makanya harganya melambung padahal dia tiap hari harus menyuplai ke pedagang kita," imbuhnya.

Apri berharap ada uluran tangan dari pemerintah untuk memberikan subsidi harga sapi karena kelangkaan ini.

"Harapannya minta dari pemerintah ya mohonlah iki kita itu rakyat tolong diperhatikan. Kondisi pasar memang ya seperti ini dan memang kondisi seperti ini ya secepatnya minta disubsidi sapi siap potong dan sapi yang nanti akan dipotong ya minta disubsidi juga karena memang langka beneran," harap Apri.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Salatiga, Enny, mengakui ketersediaan sapi potong saat ini semakin terbatas.

Enny menjelaskan bahwa dengan kebutuhan pemotongan sekitar 15 ekor sapi per hari, stok yang tersedia saat ini diperkirakan hanya mampu mencukupi kebutuhan pasar selama sekitar 22 hari ke depan.

"Kami sudah berkoordinasi dengan provinsi untuk meminta bantuan pasokan dari daerah lain yang surplus sapi agar bisa masuk ke Salatiga dan memenuhi kebutuhan masyarakat," kata Enny.

Lebih lanjut, Dispangtan Kota Salatiga juga bakal berkoordinasi dengan para blantik dan pelaku usaha peternakan di wilayah Salatiga guna mencari solusi bersama terkait kelangkaan sapi potong.




(apl/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads