Universitas Tidar (Untidar) melangsungkan wisuda ke-74 diikuti 300 wisudawan. Dari 300 wisudawan ini lulusan terbaik diraih anak buruh bangunan dan ibunya buruh masak, Muhammad Irvan Ardianto (23) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98 sekaligus dinyatakan lulus tanpa skripsi.
Perjuangan laki-laki kelahiran 19 November 2003 sudah dimulai sejak dirinya lulus SMKN 1 Magelang atau SMK Cawang. Perjuangannya pun tak mudah, ia sempat menunda berkuliah untuk berkerja agar bisa mengumpulkan uang.
Pekerjaan itu ia jalani mulai dari jasa cetak foto, marketing kendaraan hingga berjualan cemilan basreng. Dari pekerjaan yang dijalani tersebut, ia bisa menyisihkan uang untuk ditabung guna biaya kuliah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Irvan yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara baru mendaftar kuliah di Untidar tahun 2022 melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) atau jalur Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).
Saat itu yang dipilih program studi (prodi) S1 Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Dia menyebut orang tuanya sempat khawatir perihal biayanya.
"Tahun 2022 jalur SBMPTN, UTBK. Tapi, saya coba mengusahakan biar dapat beasiswa. Mungkin karena di awal semester tidak dapat beasiswa jadi memang masih bayar (UKT sebesar Rp 3 juta)," kata Irvan kepada wartawan usai wisuda di Kampus Untidar Tuguran, Sabtu (27/6/2026).
"Kemudian saya usahakan, saya cari beasiswa sana sini dan Alhamdulillah di transisi ke semester dua saya dapat beasiswa (KIP-K). Mulai semester dua dapat KIP, ya full (beasiswa)," sambung Irvan.
Semenjak kuliah di prodi Pendidikan Matematika FKIP Untidar, Irvan aktif untuk proyek penelitian dan pengabdian masyarakat bersama dosen. Ia sering menulis dalam jurnal.
Bahkan capaian akademik untuk penulisan karya ilmiah terbit di jurnal internasional. Irvan menuliskan karya ilmiah berjudul 'How Does Computational Thinking Affect Mathematical Complex Problem-solving?'.
"Tahun ini mulai dari angkatan saya ada program tugas akhir pengganti skripsi. Saya menggunakan publikasi ilmiah. Alhamdulillah artikel saya dapat terbit di jurnal internasional terindeks Scopus," ujarnya.
Anak pertama pasangan Sarwanto (45) dan Gunarsih (46) yang tinggal di Magersari, Kota Magelang menambahkan, karya ilmiah mengenai soal kemampuan berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah matematika yang kompleks. Penyusunan karya ilmiah yang dilakukan sekitar 6 bulan.
"Alasan pertama karena saya dulu lulusan SMK. Saya merasa prihatin kok kenapa lulusan SMK justru menduduki tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia dibanding lulusan seperti SMA dan SD dan sebagainya," ujarnya.
"Ternyata salah satu penyebabnya adalah kurangnya kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah yang kompleks. Maka saya menawarkan solusi yaitu computational thinking yang mana mungkin di Indonesia belum banyak, tapi di luar negeri sana sudah banyak diterapkan," tegasnya.
Irvan pun dinyatakan lulus tanpa ujian skripsi pada 4 Mei 2026 dengan lama studi 3 tahun 8 bulan 17 hari. Ia dengan IPK 3,98 dinyatakan cumlaude.
SMP-SMK Berjualan
Irvan menceritakan, semenjak di SMPN 8 Magelang berjualan pisang cokelat. Cemilan yang dibuat dari rumah tersebut, kemudian dibawa ke sekolah untuk dijajakan kepada teman-temannya.
"Saya coba berjualan, dari SMP sampai SMK. Banyak yang saya jual, mulai dari SMP pertama jual jajanan (cemilan). Jadi saya bikin di rumah, saya bawa ke sekolahan jual ke teman-teman," ujarnya.
"Kalau dari SMP sama SMK, Alhamdulillah dapat beasiswa dari sekolah yang cukup membantu," katanya.
Saat di SMP tersebut, Irvan mulai menyukai Bahasa Inggris. Kemudian ditambah dengan belajar Bahasa Inggris secara autodidak. Hingga saat duduk di SMKN 1 Magelang, Irvan bergabung dalam program pelatihan Bahasa Inggris.
"(Jurnal internasional Bahasa Inggris) Awal SMP itu saya mulai suka sama Bahasa Inggris. Terus belajar autodidak. Setelah itu, SMKN 1 ada program pelatihan Bahasa Inggris selama setahun kelas 10. Saya ikut, kemudian di kelas 11-nya ternyata ada kelas tambahan (yang mau bergabung Bahasa Inggris), saya juga ikut itu," tambahnya.
Perihal di kampungnya Magersari yang dikenal dengan zona merah, kata Irvan, lahir dan besar di kampung Magersari. Ia bersyukur kedua orangtuanya mendukungnya.
"Cuma kan belum tentu daerah di situ terkenal buruk pasti buruk semua nggak mungkin juga. Alhamdulillah, saya lahir di Barakan Magersari. Bapak dan ibu selalu menanamkan prinsip boleh berteman dengan teman-teman, tapi jangan kebablasan, jangan terpengaruh. Karena banyak teman-teman seangkatan itu yang SD putus sekolah," ujar dia.
Atas prestasi yang diraihnya, kebahagian serta rasa bangga terpancar dari wajah, Sarwanto dan Gunarsih. Mereka berdua bersyukur anaknya bisa menjadi lulusan terbaik di Untidar.
"Sebagai lulusan terbaik bersyukur banget," kata Sarwanto terharu.
Hal senada diungkapkan Gunarsih. Ia merasa bangga atas capaian prestasi yang diraih anak sulungnya.
"Ya, saya bangga dengan anak saya. Saya nggak bisa ngomong," ujar Gunarsih sambil mengusap air mata.
Sementara itu, Rektor Untidar, Prof Sugiyarto mengatakan, untuk yang lulus tanpa skripsi dalam panduan akademik sudah diimplementasikan ke fakultas dan prodi.
"Kan ada variasi masing-masing (prodi). Mungkin di FKIP lebih cenderung ke apresiasi publikasi direkognisi untuk pengganti skripsi. Kalau di Ilkom (Ilmu Komunikasi) punya produk membangun sistem atau punya pengalaman membina satu entertain," kata Sugiyarto.
"Jadi, itu sudah diberlakukan beberapa waktu yang lalu. Sudah mulai 2023 panduan akademik sudah mengakomodasi (lulus tanpa skripsi). Style Teknik, FKIP kan beda. Kalau Teknik mungkin bisa membuat prototipe yang dipatenkan. Tapi, amanah dari panduan akademik sudah diberi peluang lulus tanpa skripsi," tegasnya.
Simak Video "Belajar Kehidupan Lewat Pendidikan"
[Gambas:Video 20detik]
(afn/afn)
