Ada praktisi animal communicator di Kota Semarang. Salah satunya Asih Hardianti di Kecamatan Semarang Barat yang mampu menjembatani komunikasi nonverbal antara hewan peliharaan dengan majikan.
Beralamat di Jalan Puspanjolo Tengah Raya, rumah yang ditempati Asih penuh dengan puluhan kucing. Dari depan gerbang rumah, suara meong sahut-menyahut dari teras.
"Maaf, Mas. Kondisinya begini, banyak kucingnya," kata wanita lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu saat menyambut detikJateng di rumahnya, Sabtu (27/6) sore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian anabul itu terlihat tenang di kandang. Beberapa lainnya tampak bermain-main di halaman rumah.
Kebanyakan kucing yang diselamatkan oleh Asih berjenis domestik. Beberapa merupakan kucing Persia.
Kecintaan Asih kepada hewan tersebut membawanya ke profesi sampingannya sebagai animal communicator atau ancom. Kegiatan tersebut bermula saat seorang abdi negara itu sering menyelamatkan kucing terlantar di lingkungannya di Jogja pada paruh 2018 silam.
"Perjalanan saya sebagai praktisi animal communicator itu diawali dengan kegiatan saya sebagai rescuer atau menyelamatkan atau menolong hewan-hewan terlantar, khususnya kucing-kucing terlantar, yang ada di lingkungan sekitar saya," ungkap Asih.
Asih yang mulanya bekerja di Jogja itu lantas pindah ke Kota Semarang pada 2019 sebab alasan keluarga. Dia juga memboyong kucing-kucing yang telah diselamatkan saat di Jogja dulu.
Banyaknya anabul di rumah membuat wanita yang juga lulusan Universitas Islam Indonesia (UII) itu kelimpungan. Kucing-kucing bertengkar hingga trauma karena mendapat perilaku tak layak sebelumnya.
Asih pun menyadari hewan tidak hanya membutuhkan penanganan medis, tetapi juga psikis. Saat itu, dia mendapatkan informasi dari temannya terkait ancom.
Informasi tersebut lalu ditelusurinya. Dia pun menjajal untuk mengikuti kursus ancom dari seorang praktisi dari Tangerang pada 2023.
"Dan kemudian saya mulai mencari info pihak-pihak yang menyelenggarakan kursus animal communicator. Sampai akhirnya, saya mendapatkan info tentang dokter hewan Rajanti Fitriani, di mana domisili beliau itu di Tangerang," tuturnya.
Animal communicator di Semarang Barat, Asih Hardianti, dengan kucing peliharaannya. Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng |
"Saya tertarik dan merasa bahwa inilah yang saya cari. Di situlah saya baru merasakan memang ternyata keterampilan ini adalah keterampilan yang penuh tantangan," lanjutnya.
Mengantongi keterampilan nonverbal itu, Asih menjajal ke kucing-kucingnya yang sering bertengkar. Ternyata, komunikasi itu membuahkan hasil.
"Yang pertama itu saya terapkan ke kucing-kucing yang saya rescue, saya rawat di rumah saya. Dan itu memang berhasil. Kucing-kucing yang tadinya sulit akur, bisa menjadi akur, ada kucing yang suka menyerang kucing yang lain juga akhirnya bisa saya kendalikan, bisa saya tenangkan. Di situlah saya merasa keterampilan ini adalah keterampilan yang benar," ujarnya.
Cara Asih Komunikasi dengan Hewan
Asih membeberkan caranya berkomunikasi secara nonverbal dengan hewan. Dia mengklaim, dirinya menggunakan kekuatan pikiran atau mind power.
"Kami menggunakan metode mind power namanya. Kita menggunakan gelombang alfa melalui otak kanan kita," bebernya.
"Sebenarnya semua orang itu mengalami gelombang alfa, yaitu posisi antara kita sadar kemudian menjadi tidak sadar, khususnya ketika kita tidur. Gelombang alfa adalah kondisi yang kita alami ketika kita perjalanan dari sadar menuju ke tidur," lanjutnya.
Melalui gelombang alfa, Asih menemukan seekor hewan di alam bawah sadar melalui cahaya putih.
"Di gelombang alfa ini nanti di alam bawah sadar, kita akan melihat hewan melalui white light, melalui sinar cahaya putih. Itu yang kita mohonkan dari Tuhan. Itu sebabnya karena ini menyangkut komunikasi nonverbal melalui alam bawah sadar, oleh guru kami, kami selalu diingatkan untuk memulainya dengan berdoa. Supaya hasilnya nanti sesuai yang kita harapkan dan pada prosesnya nanti akan berjalan dengan lancar, tidak ada kendala apapun," jelasnya.
Hewan yang berada di cahaya putih itu tidak serta-merta langsung ada. Si majikan perlu memberikan data peliharaan seperti nama, usia, hingga ciri-ciri. Praktik tersebut bisa dilakukan Asih secara langsung di lokasi maupun dari jarak jauh.
"Saya akan memanggil hewan yang akan saya ajak komunikasi sesuai dengan data yang diberikan oleh pemiliknya. Misalnya, saya punya kucing Bela, usia 3 tahun, jenis kelamin betina, warna bulunya putih dan hitam, milik Ibu Asih," jelasnya.
"'Bela datang ke sini, Bela' gitu. Nanti datang. Saya melihat Bela seperti sosok yang digambarkan, kalau online ya melalui foto atau melalui video, atau kalau saya ketemu langsung ya seperti yang saya lihat," imbuhnya.
Apa yang Asih sampaikan kepada peliharaan adalah seputar pertanyaan atau pesan dari si majikan.
"Yang saya sampaikan adalah pertanyaan-pertanyaan ataupun pesan yang sudah dititipkan oleh pemilik hewan ke saya. Jadi saya saya menanyakan sesuai dengan yang diminta oleh pemilik hewan," sebutnya.
Ancom juga memiliki etik dalam menjalin komunikasi dengan hewan peliharaan. Asih kudu mendapat izin dari pemilik sebelum berkomunikasi secara nonverbal dan hanya menyampaikan apa yang ingin dikatakan atau ditanyakan oleh majikan.
"Jadi dalam melakukan ancom kita juga ada etikanya. Pertama, kita harus mendapatkan izin terlebih dulu dari pemilik hewan jika hewan itu ada pemiliknya. Jika hewan itu hewan stray, hewan liar, tidak perlu izin," ungkapnya.
Tidak seperti manusia yang bisa dicecar banyak pertanyaan. Hewan memiliki keterbatasan dalam menyerap pertanyaan. Jika hewan ditanya banyak hal, maka akurasi yang didapat akan semakin kecil.
"Kita kan juga batasi ya pertanyaannya. Tidak boleh terlalu banyak karena hewan adalah makhluk yang kecerdasannya di bawah manusia sehingga mereka nanti bisa bingung kalau kita cecar dengan banyak pertanyaan. Kita harus tanyanya yang simpel-simpel dan jumlahnya juga dibatasi supaya akurasi jawabannya hewan tadi itu valid, sesuai dengan yang dia rasakan," beber Asih.
Usai berkomunikasi dalam alam bawah sadar, Asih akan menyampaikan apa yang dikatakan peliharaan kepada majikan. Pesan-pesan hewan bakal divalidasi dengan menanyakannya ke pemilik.
"Saya akan sampaikan kepada pemilik hewan hasil komunikasi saya. Di situlah nanti kita melakukan apa yang namanya validasi atau konfirmasi. Benar tidak Bela (contoh nama hewan peliharaan) itu seperti ini, benar nggak Bela itu makannya maunya cuman ikan nggak mau makan makanan kering. Atau juga yang ditanyakan oleh pemilik, kenapa kok Bela sekarang susah makan," bebernya.
Usai proses validasi itu, maka akan ditemukan titik masalah mulai dari perilaku hingga psikis hewan. Meski begitu, Asih menegaskan, dirinya tidak bisa langsung menyelesaikan masalah itu, butuh peran aktif sang majikan.
"Jadi nanti kalau setelah selesai validasinya, akhirnya pemilik hewan akan mengetahui apa sumber masalah hewannya, menjadi berubah perilakunya, atau menjadi berubah psikisnya," katanya.
"Jadi animal communicator itu sebagai mediator, sebagai orang yang bisa melakukan komunikasi dengan hewan. Hewan punya masalah apa tidak bisa menyampaikan kepada pemiliknya. Demikian juga pemilik merasa bingung," tegasnya.
Asih juga menyarankan pemilik hewan untuk lebih dulu berkonsultasi kepada tenaga medis hewan jika masalahnya adalah seputar kesehatan. Misal tak kunjung menemukan solusi, di situ Asih berperan untuk mengetahui kondisi psikis hewan.
"Nanti ketika ternyata hewan ini belum kunjung berubah, masih murung, nggak mau makan, di situlah nanti saya bisa dilibatkan. Saya menangani psikisnya. Jadi, antara animal communicator dengan dokter hewan itu bermitra, bekerja sama," pungkasnya.
Simak Video "Rajanti, Dokter Pendengar Suara Hati Hewan"
[Gambas:Video 20detik]
(afn/afn)

