Sebuah monumen di Dukuh Karangasem, Desa Pacing, Kecamatan Wedi, Klaten, menyimpan jejak kelam Agresi Militer Belanda tahun 1948. Monumen itu didirikan untuk mengenang belasan warga sipil yang meninggal ditembak tentara Belanda.
Monumen yang diberi nama Monumen Perjuangan Korban Perang (MPKP) itu letaknya cukup jauh dari pusat kota Klaten, sekitar 15 kilometer ke arah selatan. Monumen itu dibangun di pojok dusun di tepi Sungai Birin.
Tugu tersebut berlatar bentangan sawah dan Perbukitan Seribu wilayah Kabupaten Gunungkidul, DIY. Jaraknya dengan jalan tembus Wedi-Gunungkidul sekitar satu kilometer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Monumen MPKP wujudnya berupa tugu tembok berbentuk seperti pensil dengan tinggi sekitar delapan meter. Di atas bangunan yang dikelilingi pagar tembok setinggi satu meter itu terdapat simbol kelopak bunga.
Monumen MPKP di Karangasem, Desa Pacing, Kecamatan Wedi, Klaten, Sabtu (8/8/2026). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng |
Di pangkal tugu, di sisi timur searah dengan pintu masuk terdapat prasasti semacam batu marmer hitam. Di prasasti tertulis:
"GUGURNYA KYAI MARTO KARYO AL NGADIMO (PENDUDUK KORBAN PERANG) AGRESI KE II BELANDA TH 1948.
KORBAN BERSAMAAN :
1.NY.NOYODIMEDJO
2.AMAD DASUKI
3.NY.MARTODRIYO & BAYINYA
4.SETROIDJOYO
5.NY.SOMAWIKARTO
6.SUTARNO ( TNI AD )
7.SONTOREJO
8.IMAN YOSO
9.IMANKARTONO
10. MARTOKARYO
11 ARJOSAMINO
12. PRAKARSO
DIRESMIKAN : 12-8--1995
OLEH BUPATI KEPALA DAERAH TK II KLATEN H.SUHARDJONO
Sesepuh sekaligus perawat monumen, Suroto (76) mengatakan monumen MPKP itu dibangun untuk mengenang kakeknya Marto Karyo alias Ngadimo yang meninggal ditembak tentara Belanda saat agresi militer Belanda tahun 1948. Monumen tersebut bukan dibangun pemerintah, tetapi oleh pribadi keluarganya.
"Ini kan bangunan pribadi, jadi tidak dibangun pemerintah, tapi murni pribadi. Bagi pemerintah mungkin tidak berarti, tapi bagi keluarga itu berfungsi untuk mengenang," ungkap Suroto saat ditemui detikJateng, Sabtu (8/8/2026) sore.
Suroto mengatakan monumen itu dibangun pamannya atau anak Marto Karyo pada 1995 dan diresmikan oleh Bupati Klaten pada waktu itu.
"Diresmikan Bupati dulu sama meresmikan jembatan. Waktu peresmian itu diundang semua, para ahli waris korban dan para veteran," tutur Suroto.
Peristiwa kelam yang menimpa kakeknya itu, sebut Suroto, terjadi akhir tahun 1948. Saat itu kakeknya atau Mbah Marto ditembak patroli militer Belanda.
"Zaman tahun 1948, ada patroli Belanda mau ke pos Gempol (Desa Kadilanggon) lewat sini, Simbah ditembak. Ya oleh tentara Belanda," jelas Suroto.
Suroto menjelaskan, kakeknya bukan pejuang atau TNI tetapi hanya petani biasa. Namun demikian memang kakeknya merupakan tokoh masyarakat waktu itu.
"Memang tokoh masyarakat. Selain kakek saya ada belasan lainnya yang ditembak, tapi tidak satu tempat, ada yang di Tegalrejo, Pacing, sampai Kadilanggon," lanjut Suroto.
Pamong budaya ahli pertama Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, Wiyan Ari Tanjung, menyatakan monumen tersebut sudah masuk data di dinas. Monumen itu didirikan untuk mengenang korban agresi militer Belanda.
"Monumen tersebut didirikan untuk mengenang gugurnya Kyai Marto Karyo Al Ngadimo beserta 12 warga pada saat Agresi Militer II oleh Militer Belanda. Nama para korban diabadikan pada prasasti di monumen tersebut," terang Wiyan Ari Tanjung saat dimintai konfirmasi detikJateng.
Cerita Kejinya Militer Belanda di Wedi
Suroto (76) salah seorang cucu korban penembakan menceritakan saat kakeknya, Marto Karyo alias Ngadimo, dieksekusi tentara Belanda. Menurut cerita ayahnya, saat kejadian, kakeknya sedang di teras rumah memilah kapas kapuk.
"Rombongan tentara Belanda lewat sini (jalan depan rumah tepi tanggul sungai Birin), mereka tahu Si Mbah duduk di teras. Lalu si Mbah dipanggil tentara Belanda," tutur Suroto kepada detikJateng, Sabtu (8/8/2026).
Tanpa curiga, kata Suroto, kakeknya beranjak mendatangi tentara Belanda di tepi jalan. Saat itu kakeknya ditanya apakah bisa merangkak.
"Ditanya apakah bisa merangkak, lalu diminta merangkak. Saat merangkak itulah justru ditembak sampai tubuhnya tercebur di sungai," ujar Suroto.
Rombongan tentara Belanda itu, ungkap Suroto, sebenarnya hanya pindah ke pos dari Tegalrejo (Desa Sembung) ke Gempol (Desa Kadilanggon). Namun diduga mereka jengkel dengan para pejuang.
"Mungkin jengkel dengan kegigihan para pejuang. Tidak ditanya-tanya, cuma disuruh merangkak lalu ditembak dan itu ada saksinya," ucap Suroto.
Setelah menembak kakeknya sampai terjun ke sungai, tentara Belanda itu pergi. Para tetangga yang bersembunyi di kebun dan semak tepi sungai kemudian menolong.
"Ditolong oleh warga yang bersembunyi di sungai. Nenek selamat karena di dalam rumah, bapak saya dan adik-adiknya juga tidak di rumah," sambung Suroto.
Kengerian hari itu, sebut Suroto, ternyata tidak hanya menimpa kakeknya, tetapi juga 12 orang lain di desa tetangga sepanjang rute perjalanan tentara Belanda. Bahkan di Desa Kadilanggon ada ibu bersama bayinya yang jadi korban.
"Di Kadilanggon bahkan ada ibu dan anaknya juga ditembak. Makamnya di desa masing-masing," imbuh Suroto.
Warga Dukuh Karangasem, Mino (66) mengatakan dari cerita keluarganya rombongan tentara Belanda tersebut jalan kaki lewat di kampungnya. Tidak terjadi perang di lokasi.
"Mboten perang, mung lewat, nembaki mawon (tidak perang, cuma lewat dan asal tembak). Saat itu ibu saya mengungsi ke Kayen Gunungkidul sana," ungkap Mino kepada detikJateng di lokasi.

