Tragis Bilqis Bocah Sragen Jadi Korban Ketiga Pembunuh Berdarah Dingin

Round-Up

Tragis Bilqis Bocah Sragen Jadi Korban Ketiga Pembunuh Berdarah Dingin

Tim detikJateng - detikJateng
Kamis, 11 Jun 2026 05:30 WIB
Suparman (53), perampok yang membunuh Bilqis (11) di Desa Dawung, Sragen, saat dibawa ke Polres Sragen, Rabu (10/6/2026).
Suparman (53), perampok yang membunuh Bilqis (11) di Desa Dawung, Sragen, saat dibawa ke Polres Sragen, Rabu (10/6/2026). Foto: Dok. Istimewa
Solo -

Bilqis Rajiansyah Lestari (11) yang ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di dalam rumahnya di Desa Dawung, Jenar, Sragen, Jumat (5/6) lalu, ternyata dibunuh rampok bernama Suparman (53) alias Blendus. Bilqis adalah korban ketiga dari rampok berdarah dingin ini.

Ditemukan Bersimbah Darah

Mayat siswi SD itu ditemukan oleh ibunya, Dewi Sri Lestari (34), pada Jumat (5/6) sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu Dewi baru pulang kerja. Tetangganya saat itu segera melapor ke RT dan diteruskan ke Kepala Desa Dawung, Aris Sudaryanto.

"Kondisi jenazah banyak bekas bacokan, di bagian tangan dan muka. Bahkan mukanya sudah tidak berbentuk. Di lantai juga banyak bekas telapak kaki, kondisinya (darah) sudah kering. Karena itu langsung saya suruh warga keluar semua dan melarang ada yang memfoto," kata Aris saat ditemui di lokasi kejadian, Jumat (5/6/2026) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Motor Ortu Raib

Selain membunuh korban, pelaku saat itu juga diduga menggondol satu sepeda motor Honda Vario warna biru milik orang tua korban.

"Sepeda motor hilang," ucap Aris.

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, Bilqis ditemukan tewas dalam kondisi masih mengenakan seragam sekolah.

"Korban ini anak tunggal, anak bawaan dari ibunya. Ayah kandungnya sudah meninggal, lalu ibunya menikah lagi dengan Pak Sukardi. Mereka juga baru sekitar 3 bulan pindah dan menempati rumah baru ini," ujar Aris.

Kasat Reskrim Polres Sragen AKP Catur Agus Yudo Praseno, mengatakan, pembunuhan sadis itu diperkirakan terjadi beberapa jam sebelum jasad korban ditemukan.

"Kalau berkaitan dengan kronologi kejadian sementara, kurang lebih kejadian kisaran pukul 10.00 sampai 10.30 WIB," ujar Catur di lokasi kejadian.

Pintu Rumah Tertutup Rapat

Dewi mengatakan, saat itu pintu rumahnya dalam kondisi tertutup rapat.

"Saya baru pulang kerja, mau masuk ada gembok, pintu posisi ditutup rapat, tapi gemboknya tidak terkunci. Setelah itu saya masuk, kunci gembok ada di dalam rumah di atas meja," kata Dewi.

Begitu masuk ke dalam rumah, Dewi sempat memanggil Bilqis, tetapi tidak dijawab. Ia lantas menemukan anaknya berada di kasur ruang tengah, dan mendekatinya untuk membangunkannya.

Saat itu juga dia histeris karena Bilqis dalam kondisi bersimbah darah. Jasadnya tengkurap dengan setengah badannya ditutup selimut. Dewi langsung keluar dan meminta pertolongan warga sekitar.

"(Yang hilang) Motor dan HP anakku. Motor dipakai anak sekolah dan main. Motor lama, beli bekas," terangnya.

Residivis Curas, Sudah 3 Kali Bunuh Korban

Polres Sragen berhasil menangkap Suparman alias Blendus (53) perampok yang membunuh Bilqis (11). Suparman diketahui sebagai residivis kasus pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan dua korbannya meninggal.

Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indiyasri mengatakan, pelaku ditangkap di rumahnya, Kedung Sopo, Desa Bumiaji, Gondang, Sragen, Selasa (9/6) malam. Ia mengatakan, pelaku selama ini bekerja sebagai buruh tani.

"Alhamdulillah, tadi malam, Selasa tanggal 9 Juni 2026 sekira pukul 23.00 WIB, tim dari Resmob Satreskrim Polres Sragen berhasil mengamankan pelaku kejahatan pencurian dengan kekerasan. Pelaku ini berhasil diamankan di rumahnya yang beralamat di Kedung Sopo, Desa Bumiaji, Gondang, Sragen," katanya di Mapolres Sragen, Rabu (10/6/2026).

Dewiana mengungkapkan, pelaku merupakan residivis kasus curas. Sebelum membunuh Bilqis, Suparman pernah melakukan hal yang sama sebanyak dua kali di dua lokasi berbeda.

"Pelaku ini juga kebetulan adalah seorang residivis, di mana sudah pernah dua kali melakukan kejahatan serupa, yaitu pencurian dengan kekerasan (curas), dengan korban dua-duanya meninggal dunia. Jadi, ini Ananda Bilqis adalah korban yang ketiga," jelasnya.

Dewiana mengatakan, aksi sadis Suparman pertama kali dilakukan pada 2008 silam. Suparman membegal seorang wanita hingga meninggal. Aksi sadis kembali dilakukan Suparman pada 2012. Ia kembali melancarkan aksi curas yang menewaskan seorang waria.

"Yang pertama korban seorang wanita meninggal dunia. Yang kedua korbannya adalah waria juga meninggal dunia. Sekitar tahun 2008 dan 2012 kalau tidak salah, nanti kami cek lagi. Kedua aksi terdahulu itu juga dilakukan di wilayah hukum Polres Sragen," ujarnya.

Dewiana mengatakan, motif pelaku yakni ingin menguasai harta korban.

"Motifnya adalah pelaku ingin menguasai harta milik korban, yaitu sepeda motor Vario dan juga satu handphone," katanya.

Atas perbuatan sadisnya yang berulang, pelaku dijerat dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP Pasal 479 ayat 1 dan 3 tentang pencurian dengan kekerasan.

"Ancaman hukumannya 15 tahun penjara," pungkasnya.

Jual Motor-HP Hasil Rampokan

Setelah membunuh Bilqis, Suparman (53) kemudian menjual sepeda motor dan handphone milik korban.

Kapolres Sragen, AKBP Dewiana Syamsu Indiyasari, mengatakan pihaknya bergerak cepat melacak keberadaan barang-barang berharga tersebut. Saat ini, seluruh barang bukti beserta penadah yang membeli motor korban telah berhasil diringkus oleh tim Resmob Satreskrim Polres Sragen.

"Untuk barang bukti Honda Vario itu sempat dijual kepada seseorang, dan ini orang yang membeli (penadah) juga sudah kita amankan. HP-nya juga dijual dan sudah kita temukan," kata Dewiana saat ditemui di Mapolres Sragen, Rabu (10/6/2026).

Lebih lanjut, Dewiana mengatakan dalam aksi pencurian dengan kekerasan (curas) ini, buruh tani asal Kedung Sopo, Desa Bumiaji, Gondang, itu sebagai pelaku tunggal. Meski begitu, pihaknya masih mendalami adanya peran orang lain.

"Ini masih kita dalami lebih lanjut. Tapi untuk saat ini, tersangka masih pelaku tunggal," tuturnya.

Dewiana menegaskan, pihak penyidik masih mendalami lebih lanjut mengenai total uang yang didapat pelaku dan digunakan untuk apa saja uang hasil penjualan tersebut.

"Masih kita dalami lebih lanjut (penggunaan uang hasil kejahatan)," terangnya.

Selain melacak aliran barang bukti yang dijual, polisi juga melakukan penyisiran di sekitar Jembatan Ndrojo, Sambungmacan. Langkah ini dilakukan untuk mencari pakaian berupa kaus dan celana yang dikenakan pelaku saat mengeksekusi korban.

"Jadi, untuk mencari pakaian yang dikenakan oleh pelaku ketika melakukan kejahatan (penelusuran hingga jembatan Ndrojo). Berdasarkan pengakuan dari pelaku, bahwa pelaku setelah melakukan kejahatan tersebut membuang pakaiannya, yaitu kaus dan juga celana di sekitar Sungai Bengawan Solo dan alhamdulillah sudah ketemu semua," jelas Dewiana.

Halaman 2 dari 2
(dil/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads