Menjajal Manis-Gurihnya Kue Bokong, Jajanan Nyleneh Khas Purbalingga

Menjajal Manis-Gurihnya Kue Bokong, Jajanan Nyleneh Khas Purbalingga

Anang Firmansyah - detikJateng
Minggu, 12 Apr 2026 07:30 WIB
Kue Bokong
Kue Bokong. Foto: Anang Firmansyah/detikJateng
Purbalingga -

Aroma gula jawa yang menguar dari dapur tradisional itu seolah membawa cerita panjang lintas generasi. Di tempat inilah, kue khas Purbalingga tak hanya dipertahankan, tetapi juga terus berinovasi mengikuti selera zaman. Salah satunya adalah kue toso atau dikenal juga dengan nama kue bokong (pantat).

Bagi Yohanes Andrianto, kue toso bukan sekadar produk, melainkan hasil dari perjalanan panjang keluarga dalam menjaga sekaligus mengembangkan warisan kuliner.

"Kalau sejarah kue toso sendiri, awal mulanya kami produksi nopia. Toso itu mirip-mirip nopia, cuma dia pengembangan," ujarnya saat ditemui detikJateng, Jumat (10/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Produsen kue bokongProdusen kue bokong Foto: Anang Firmansyah/detikJateng

Ia menjelaskan kue toso lahir dari modifikasi bahan dan teknik pembuatan nopia. Secara bentuk, kue ini masih menyerupai nopia, namun memiliki ciri khas dilipat di bagian tengah. Tak heran, masyarakat setempat pun memberi julukan unik.

ADVERTISEMENT

"Orang sini ada yang bilang kue bokong atau kue bibir," katanya.

Produksi kue di keluarga Yohanes sudah dimulai sejak era 1960-an, dirintis oleh kakek buyutnya secara tradisional. Usaha tersebut kemudian diteruskan lintas generasi hingga kini memasuki generasi keempat.

Namun, perubahan selera pasar menjadi tantangan tersendiri. Yohanes menyadari konsumen bisa jenuh jika produk tidak berkembang.

"Sekitar tahun 2000-an kita mulai produksi toso. Waktu itu kita berpikir konsumen mungkin jenuh dengan produk yang itu-itu saja," jelasnya.

Berangkat dari situ, inovasi terus dilakukan. Mulai dari menambah varian rasa pada nopia, membuat versi mini, hingga akhirnya muncul ide unik, yaitu melipat nopia menjadi bentuk baru yang kini dikenal sebagai kue toso.

"Akhirnya muncul ide bikin toso atau kue bokong itu," tambahnya.

Meski berinovasi, Yohanes menegaskan kualitas bahan tetap menjadi prioritas utama. Ia bahkan mengaku sangat selektif dalam memilih bahan baku, terutama gula jawa.

"Kalau gula Jawa warnanya tidak pekat atau terlalu banyak campuran gula pasir, biasanya kita tolak. Karena itu berpengaruh ke hasil akhirnya," tegasnya.

detikJateng berkesempatan mencicipi kue bokong ini. Teksturnya hampir mirip dengan nopia. Hanya saja ukurannya memang lebih kecil.

Rasanya juga tidak berbeda jauh. Pada gigitan pertama, citarasa gula jawa bercampur dengan bawang merah goreng sangat terasa. Isiannya juga padat dengan bentuk yang menyerupai bokong.

Yang membuat beda juga pada proses pemanggangannya. Nopia dipanggang dengan cara khusus dan kayu bakar. Sedangkan kue bokong dipanggang dengan menggunakan oven.

Proses pembuatannya juga nyaris satu hari penuh. Para pekerja biasa meracik adonan dari jam 7 pagi. Kemudian diproses dengan seperti layaknya membuat kue. Hingga akhirnya selesai proses pemanggangan jam 15.00 WIB.




(par/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads