Demo para sopir yang tergabung dalam Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) di Jalan Jagir Wonokromo, Surabaya akhirnya berkahir. Ini setelah tuntutan mereka dipenuhi Pertamina saat negosiasi kedua.
Koordinator I GSJT, Angga Ferdiansyah, menyebut salah satu poin utama yang disetujui adalah mekanisme perlindungan terhadap seluruh anggota GSJT terkait persoalan barcode BBM subsidi.
"Alhamdulillah pihak Pertamina di sini membantu kami secara totalitas. Salah satunya untuk pendaftaran seluruh anggota kami dan itu akan mereka jaga. Jadi kalau ada pemblokiran, mereka akan konfirmasi dulu ke kami," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Pertamina juga disebut menyanggupi pembukaan barcode yang terblokir dalam waktu maksimal 1x24 jam. Sementara untuk kendaraan pengangkut kebutuhan mendesak seperti sayur dan buah-buahan atau yang mudah busuk, proses pembukaan blokir dijanjikan lebih cepat, yakni sekitar tiga jam.
"Ini sudah disepakati dan berlaku mulai besok," kata Angga.
Tak hanya soal barcode, GSJT juga menyebut ada jaminan bahwa tidak akan ada penangkapan atau penindakan terhadap kendaraan bertangki dobel yang melintas di Jawa Timur, selama digunakan untuk kebutuhan operasional di luar Pulau Jawa dan bukan untuk diperjualbelikan kembali.
Dengan adanya kesepakatan tersebut, Angga memastikan aksi massa selesai malam ini dan tidak akan berlanjut keesokan harinya. "Alhamdulillah sudah selesai semua," tegasnya.
Meski begitu, GSJT memberi peringatan jika hasil kesepakatan tidak direalisasikan, mereka siap menggelar aksi dengan massa yang lebih besar.
"Kalau tidak ada realisasi, berarti Pertamina mengkhianati hasil ini. Yang pasti kami akan datang lebih besar, tidak seperti hari ini yang sifatnya dadakan," tegasnya.
Sementara itu, terkait tuntutan penyesuaian tarif tol bagi sopir logistik, Angga menyebut persoalan tersebut masih dalam tahap kajian bersama Jasa Marga dan pihak terkait lainnya.
"Sabtu kemarin sudah ada diskusi dan tarif tol masih dikaji pihak jasa marga serta DPRD," ujarnya.
Hal tersebut dikarenakan menyangkut banyak instansi terkait, begitu pula terkait tuntutan penindakan mafia BBM.
Angga juga meyampaikan bahwa meski hampir 95% seluruh sopir tergabung dalam GSJT, tidak menutup kemungkinan kepada yag belum tergabung untuk bisa melapor ke perwakilan kota atau kabupaten.
Di akhir, Angga menyampaikan rasa terima kasih kepada aliansi yang sudah semangat menyampaikan dan menyuarakan haknya hingga akhir.
"Tak lupa kepada pemerintah dan Pertamina, kami sangat mengapresiasi di mana mereka mendukung kami. Di sisi lain, kawan-kawan ini bekerja memang untuk angkutan logistik," pungkasnya.
Rombongan aksi pun mula meninggalkan lokasi pada pukul 22.00 WIB. Pantauan di lokasi, pihak aparat bekerjasama dengan security Pertamina untuk membantu mengamankan lokasi sekaligus megatur jalannya lalu lintas di Jalan Jagir Wonokromo yang kembali dibuka sejak penutupan siang hari. Meski demikian, selepas demo sopir, tampak sampah berserakan di sepanjang area.
Sebelumnya, ratusan sopir truk yang tergabung dalam Gerakan Sopir Truk Jawa Timur (GSJT) menggelar aksi di depan kantor Pertamina dengan membawa sejumlah tuntutan terkait distribusi BBM bersubsidi pada Rabu (29/4/2026). Rombongan aksi tiba di depan Kantor Pertamina, Jalan Jagir Wonokromo, pada 14.21 WIB dan rombongan kedua pada 14.50 WIB.
Aksi kali ini memprotes sistem barcode MyPertamina, pemblokiran kendaraan, hingga pembatasan kuota solar yang dinilai mengganggu operasional angkutan logistik.
Koordinator GSJT Jatim, Supriyono mengatakan, persoalan tersebut sebenarnya sudah lama terjadi dan mulai disuarakan sejak 2024. Menurutnya, banyak kendaraan sopir truk tiba-tiba terblokir sehingga tidak bisa membeli solar subsidi.
"Yang tidak ada sebabnya tahu-tahu diblokir. Akhirnya teman-teman tidak bisa mendapatkan solar. Kalau itu ada, itu akan berkurang oleh jatah 200 liter, 350 liter, tinggal 100 liter," ujarnya saat aksi, Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan, kuota pembelian BBM untuk kendaraan angkutan saat ini dinilai tidak sesuai kebutuhan di lapangan. Dalam sehari, kendaraan hanya mendapat jatah sekitar 200 liter, sementara kebutuhan riil bisa mencapai 300 hingga 400 liter, terutama untuk perjalanan antarpulau.
"Kalau dari Banyuwangi kirim ke Jakarta misalnya. Jadi kami harus berhenti, tunggu hari berikutnya, baru mengisi kembali. Itu sangat menyulitkan," katanya.
(ihc/abq)