Dua dekade usai semburan lumpur Lapindo pertama kali muncul pada 29 Mei 2006, jejak bencana yang mengubah wajah Kabupaten Sidoarjo, ternyata masih menyisakan banyak cerita.
Di tengah peringatan 20 tahun semburan lumpur, muncul sejumlah fakta terbaru yang memunculkan pertanyaan di kalangan warga, mulai dari aliran lumpur ke Sungai Porong yang tak lagi terlihat, peninggian tanggul yang sempat memicu kekhawatiran, hingga fenomena penurunan tanah yang masih terjadi di kawasan terdampak.
Salah satu hal yang menjadi perhatian warga dalam beberapa waktu terakhir adalah tidak terlihatnya lagi aliran lumpur dan air dari pipa-pipa pembuangan menuju Sungai Porong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini, air dan lumpur dari semburan Lapindo dialirkan menuju area penampungan sebelum sebagian dipompa ke Sungai Porong. Aliran tersebut menjadi salah satu faktor terbentuknya Pulau Lusi di muara Sungai Porong akibat sedimentasi lumpur selama hampir 20 tahun.
A drone view shows steam rising at the site of the Lapindo mudflow, which has been flowing since a 2006 gas exploration accident that swamped villages and permanently displaced tens of thousands of people, in Sidoarjo, East Java province, Indonesia, May 30, 2026. REUTERS/Dipta Wahyu Foto: REUTERS/Dipta Wahyu |
Namun, dalam sepekan terakhir, aliran lumpur dan air dari sejumlah pipa pembuangan tidak lagi terlihat. Pantauan di area tanggul penahan lumpur mulai titik 25 hingga titik 35 menunjukkan sedikitnya enam pipa utama dan empat pipa di area spillway tidak mengeluarkan air maupun lumpur seperti biasanya.
Padahal selama ini pengaliran lumpur dilakukan secara mekanis menggunakan kapal keruk dan pompa. Cara tersebut diperlukan karena lumpur yang sangat kental tidak dapat mengalir secara gravitasi menuju Kali Porong.
Puji (58), mantan warga Kelurahan Siring, mengaku masih melihat pipa pembuangan beroperasi sekitar dua pekan lalu.
"Masih keluar air sama lumpur. Tapi sekitar satu minggu ini sudah tidak kelihatan mengalir lagi," kata Puji kepada detikJatim.
Hingga kini belum diketahui penyebab berhentinya aliran tersebut. Begitu pula informasi terbaru mengenai volume semburan maupun suhu lumpur yang sulit diperoleh.
Data Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) tahun lalu menyebut pada awal kemunculannya volume semburan mencapai 100 ribu hingga 120 ribu meter kubik per hari dengan suhu mencapai 100 derajat Celsius. Pada pengukuran tahun 2017, volume semburan masih tercatat sebesar 86.270 meter kubik per hari.
Menanggapi munculnya pertanyaan warga, Kepala Bidang Perencanaan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) Zulyana Tandju memastikan pengaliran lumpur ke Sungai Porong masih terus berlangsung.
"Masih ada (aliran lumpur ke sungai Porong)," kata Zulyana kepada detikJatim, Sabtu (30/5/2026).
Menurutnya, pengaliran lumpur ke Sungai Porong merupakan kegiatan rutin yang terus dilakukan setiap tahun.
"Rutin setiap tahun, sesuai jadwal kegiatan kontrak pengaliran lumpur," tambahnya.
Zulyana menjelaskan pengaliran lumpur tetap dilakukan dengan volume yang cukup besar.
"Pengaliran lumpur saat ini masih ada secara terus menerus dalam volume tertentu, rata-rata 20 juta meter kubik per tahun yang dilakukan secara mekanis menggunakan peralatan alat berat," jelasnya.
Ia mengatakan, pengaliran dilakukan menggunakan kapal keruk dan pompa yang terhubung dengan pipa outlet menuju Kali Porong.
"Ditambah dengan volume air hujan atau curah yang tinggi agar tidak overtopping," tandasnya.
Selain persoalan aliran lumpur, perhatian warga juga tertuju pada kondisi tanggul penahan lumpur di titik 71 Desa Ketapang Keres, Kecamatan Tanggulangin.
Dari pantauan di lokasi, permukaan air di kolam penampungan terlihat hampir sejajar dengan bibir tanggul lama. Kondisi itu membuat PPLS melakukan peninggian tanggul sekitar 1 hingga 1,5 meter.
Salah satu pemandu wisata lumpur Lapindo, Sastro (58), menyebut peninggian tanggul dilakukan setelah kondisi air dinilai mengkhawatirkan.
"Kurang lebih satu minggu kemarin airnya sudah hampir meluber. Akhirnya dilakukan peninggian tanggul oleh PPLS," kata Sastro kepada detikJatim.
Menurutnya, tingginya curah hujan dan meningkatnya volume semburan menyebabkan debit air di kolam penampungan terus bertambah.
"Karena sering hujan dan volume semburan juga meningkat, air di kolam penampungan semakin naik," ujarnya.
Sastro mengaku khawatir apabila tanggul tidak segera ditinggikan.
"Kalau tidak segera ditinggikan kemungkinan bisa meluber ke rel kereta api. Itu tentu membahayakan jalur kereta maupun jalan raya di dekat sini," tambahnya.
Kekhawatiran serupa juga muncul di masyarakat yang menilai peninggian tanggul menjadi tanda kapasitas penampungan lumpur semakin kritis. Namun, PPLS menegaskan peninggian tanggul justru merupakan langkah teknis untuk menjaga keamanan kawasan.
"Semburan lumpur yang masih berlangsung menyebabkan daya tampung kian berkurang, justru upaya peninggian top dan lebar tubuh tanggul atau counter weight dilakukan tujuannya adalah menambah beban penyeimbang agar lereng tidak longsor atau mengalami deformasi," kata Zulyana.
Ia menjelaskan peninggian tanggul bertujuan menjaga stabilitas tanggul sekaligus mempertahankan daya tampung kolam penampungan.
"Di sisi lainnya kegunaannya agar kemampuan daya dukung tanah pada posisi line main tanggul stabil dan ini harus dilakukan untuk pengurangan volume semburan dalam area tanggul dengan cara melakukan pengaliran lumpur ke Kali Porong," jelasnya.
"Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga stabilitas tanggul akibat tekanan lumpur, tetapi juga untuk mempertahankan daya tampung waduk dalam melokalisir semburan lumpur serta meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar secara tidak langsung," tambahnya.
Menurut Zulyana, peninggian tanggul merupakan bagian dari upaya pengendalian semburan lumpur yang masih aktif hingga kini.
"Kegiatan ini memberikan perlindungan terhadap permukiman, infrastruktur, dan lahan sekitar dari potensi luapan lumpur, sekaligus menjadi solusi teknis dalam mengendalikan dampak bencana semburan lumpur secara berkelanjutan," tandasnya.
Di tengah upaya pengendalian tersebut, dampak lain yang masih dirasakan warga adalah fenomena land subsidence atau penurunan tanah di sekitar tanggul penahan lumpur.
Kondisi itu tampak jelas di titik 21 tanggul penahan lumpur di Kelurahan Siring, Kecamatan Porong. Sedikitnya dua rumah warga terlihat miring dan amblas akibat tanah yang terus mengalami penurunan. Marwan (65), warga Kelurahan Siring, mengatakan rumah tersebut sudah lama ditinggalkan pemiliknya.
"Di Kelurahan Siring ada 2 rumah yang dulu mau dijual pemiliknya dengan harga tinggi. Akhirnya tidak dibeli dan sekarang kondisinya miring," ujar Marwan kepada detikJatim.
Menurut Marwan, bagian belakang bangunan mengalami penurunan paling parah.
"Terutama bagian belakang rumah itu turun sekitar satu meter. Dulu rumahnya lantai dua," jelasnya.
Keterangan serupa disampaikan Sastro. Ia menyebut penurunan tanah masih berlangsung meski semburan telah memasuki usia 20 tahun.
"Penurunan tanah di sekitar tanggul ini memang terjadi. Selama 20 tahun hampir turun sekitar satu meter," ujar Sastro.
Menurutnya, rumah yang kini terlihat miring itu dulunya sempat akan dijual kepada pihak Lapindo namun tidak mencapai kesepakatan harga.
"Informasinya dulu rumah itu mau dijual dengan harga tinggi, tapi tidak disetujui Minarak Lapindo," pungkasnya.
Simak Video "Video: Lumpur Lapindo Dekati Bibir Tanggul, Warga Trauma Jebol"
[Gambas:Video 20detik]
(auh/hil)
