Pemkot-Kementerian Turun Gunung Atasi Sampah di Sungai Kali Tebu Surabaya

Pemkot-Kementerian Turun Gunung Atasi Sampah di Sungai Kali Tebu Surabaya

Esti Widiyana - detikJatim
Jumat, 05 Jun 2026 22:30 WIB
Tumpukan sampah di Sungai Kali Tebu Surabaya.
Tumpukan sampah di Sungai Kali Tebu Surabaya. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Di balik indahnya Kota Surabaya, terdapat kepungan sampah plastik, kaleng, sampai rumah tangga terperangkap di trash boom Sungai Kali Tebu. Masalah sampah ini tidak hanya ditangani Pemerintah Kota saja, kementerian juga turut mengatasi.

Petugas kebersihan di Sungai Kali Tebu melakukan proses pengelolaan sampah. Pertama, mengangkut sampah dari sungai ke daratan untuk dimasukkan ke dalam karung, lalu didiamkan sebentar sampai setengah kering. Kemudian sampah ditimbang dan diangkut ke bak mobil.

Program Pengelolaan Sampah Plastik Sungai digagas United Nations Development Programme (UNDP) atau Badan Program Pembangunan Persyarikatan Bangsa-bangsa (PBB) berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Kementian Kordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan), Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah Plastik Laut (TKN PSL), Pemkot Surabaya, LSM Ecoton dan Lohjinawi. Surabaya dipilih sebagai pilot projek program yang berkolaborasi dengan Pemerintah Norwegia untuk menekan pencemaran sampah plastik di sungai sebelum bermuara ke laut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Ecoton Daru Setyorini mengatakan, apa yang dikerjakan adalah projek Mission for Zero Plastic Leakage (The Mozaik Project) atau program mencegah kebocoran sampah sampai ke laut.

ADVERTISEMENT

"Kami memasang satu pencegat sampah di sungai supaya tidak masuk ke laut. Setelah dipasang pencegat ini, kami setiap hari melakukan pengangkatan sampah dan setelah sampah yang diangkat kami keringkan dulu kemudian ditimbang dihitung berapa berat total yang bisa diangkat pada hari ini," kata Daru di Sungai Kali Tebu, Jumat (5/6/2026).

Kemudian sampah dibawa ke TPS 3R untuk melewati proses pemilahan, sampah organik akan diproses menjadi pupuk kompos dan sampah anorganik yang masih bernilai akan dijual. "Sedangkan yang residu nanti akan dibawa oleh truk pengangkut sampah DLH (Dinas Lingkungan Hidup (DLH) ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Benowo," ujarnya.

Plt Kepala DLH Surabaya M. Fikser mengatakan, program tersebut sudah berjalan di Kali Tebu dan Kali Merutu untuk mengurangi pencemaran plastik di aliran sungai.

"Setiap hari rata-rata satu ton sampah plastik berhasil diangkat dari kedua sungai tersebut melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan berbagai organisasi lingkungan yang terlibat dalam program ini," kata Fikser di Kantor Bappeda Surabaya.

Menurutnya, masyarakat sekitar merasakan dampak program tersebut karena juga turut terlibat menangani sampah. Sampah yang berhasil dikumpulkan tidak langsung dibuang, melainkan dipilah, disortir, dan dikemas untuk dijual kembali.

Saat ini, sampah di Surabaya mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ton telah dimanfaatkan kembali melalui fasilitas TPS 3R dan aktivitas para pemulung. Sementara 1.600 ton lainnya dikirim ke tempat pemrosesan akhir, dengan sekitar 1.000 ton telah diolah melalui fasilitas gasifikasi menjadi energi listrik. Adapun sekitar 600 ton sisanya masih berakhir di area landfill.

Untuk mempercepat pengurangan sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, pemerintah pusat juga menunjuk Surabaya sebagai salah satu lokasi pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik. Lahan seluas 5,8 hektare telah disiapkan di kawasan Sumberrejo dan saat ini tengah menjalani proses survei.

"Fasilitas tersebut ditargetkan mulai dibangun pada akhir tahun ini dan diharapkan mampu mengolah sisa sampah yang masih masuk ke landfill, termasuk sampah dari wilayah Surabaya Raya seperti Sidoarjo, Gresik, dan Lamongan," jelasnya.

Sementara Koordinator Sekretariat Tim Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Ahmad Bahri Rambe mengatakan, keberhasilan program sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga internasional, dan masyarakat. Melalui kerja sama UNDP dan TKN PSL, program ini dirancang untuk membantu pemerintah mengurangi pencemaran sampah di sungai, baik sampah plastik maupun sampah organik.

"Selain kegiatan pembersihan sungai, edukasi masyarakat menjadi komponen utama program ini. Tujuannya agar perubahan perilaku dapat terbangun dan pengelolaan sampah berjalan berkelanjutan dalam jangka panjang," pungkas Ahmad Bahri.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads