Pemkab Sidoarjo Dorong Budaya Pilah Sampah dari Sumbernya

Pemkab Sidoarjo Dorong Budaya Pilah Sampah dari Sumbernya

Suparno - detikJatim
Jumat, 12 Jun 2026 13:30 WIB
Pengelolaan sampah di Sidoarjo
Pengelolaan sampah di Sidoarjo/Foto: Suparno/detikJatim
Sidoarjo -

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus memperkuat upaya penanganan sampah dari hulu hingga hilir. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memetakan kondisi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di berbagai wilayah sebagai dasar penguatan sistem pengelolaan sampah.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo, Arif Mulyono mengatakan, pemilahan sampah sejak dari sumber atau rumah tangga merupakan langkah besar yang menjadi kunci keberhasilan mengatasi persoalan sampah di masa depan.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mencegah krisis kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Griyo Mulyo, Jabon, yang diproyeksikan hanya mampu menampung sampah hingga sekitar tujuh tahun ke depan apabila pola pengelolaan saat ini tidak segera dibenahi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemilahan sampah dari sumber merupakan kunci utama. Kalau sampah sudah dipilah sejak rumah tangga, beban yang masuk ke TPA akan jauh berkurang. Ini menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk menghindari krisis kapasitas TPA," kata Arif kepada detikJatim, Jumat (12/6/2026).

ADVERTISEMENT

Selain melakukan pemetaan TPS 3R, Pemkab Sidoarjo juga memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis digital serta meningkatkan fasilitas pengolahan sampah di tingkat desa.

Namun Arif mengakui, tantangan terbesar saat ini masih berada pada rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah.

"Berdasarkan pengamatan kami, rumah tangga yang sudah memilah sampah baru sekitar 5 sampai 10 persen. Itu pun belum semuanya dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan," ujarnya.

Ia menilai, kondisi tersebut dipengaruhi oleh pola pikir masyarakat yang belum terbiasa memilah sampah. Berbeda dengan sejumlah negara maju yang telah menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari budaya sehari-hari.

Menurut Arif, rendahnya kebiasaan memilah sampah juga tidak lepas dari minimnya pendidikan tentang pengelolaan sampah yang selama ini belum diajarkan secara sistematis sejak usia dini.

"Selama ini masyarakat tidak mendapatkan pendidikan khusus terkait pengelolaan sampah sejak sekolah. Akibatnya, kesadaran itu tidak tumbuh secara alami seperti di negara-negara yang sudah maju dalam pengelolaan lingkungan," jelasnya.

Karena itu, Pemkab Sidoarjo menyiapkan strategi bertahap. Dalam jangka pendek dan menengah, fokus diarahkan pada penguatan TPS 3R agar sampah yang masuk dapat dipilah dan diolah lebih optimal.

"Sambil menunggu budaya memilah sampah dari rumah terbentuk, kami memperkuat TPS 3R. Sistem pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan sampah harus tetap berjalan dengan baik melalui kolaborasi pemerintah, petugas, dan masyarakat," terangnya.

Untuk jangka panjang, Pemkab Sidoarjo berencana memasukkan materi pengelolaan sampah ke dalam muatan lokal pendidikan yang disesuaikan dengan jenjang usia, mulai TK, SD hingga SMP. Langkah tersebut diharapkan mampu membentuk generasi yang terbiasa memilah dan mengelola sampah sejak dini.

"Perubahan perilaku tidak bisa instan. Karena itu kami ingin menanamkan kesadaran sejak kecil. Harapannya 10 sampai 20 tahun mendatang, ketika mereka sudah dewasa, pemilahan sampah dari rumah menjadi kebiasaan yang otomatis dilakukan masyarakat," pungkas Arif.

Dengan penguatan sistem pengelolaan sampah saat ini dan pendidikan lingkungan bagi generasi muda, Pemkab Sidoarjo berharap persoalan sampah dapat ditangani secara berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap TPA di masa mendatang.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads