Kabupaten Pacitan berhadapan langsung dengan Samudra Hindia yang merupakan salah satu zona aktif lempeng tektonik penumpuk energi gempa raksasa atau megathrust di selatan Jawa. Pacitan berpotensi dihantam gempa bumi dangkal destruktif yang bisa memicu gelombang tsunami dalam waktu singkat.
Kondisi geografis itulah yang mendorong adanya upaya mitigasi bencana yang mana rumah sakit tangguh menjadi salah satu faktor krusial dalam mengurangi risiko bencana. Prosedur khusus ini mutlak diberlakukan pada fasilitas kesehatan ketika status darurat ditetapkan demi menjamin keselamatan petugas medis serta pasien yang tidak berdaya.
Urgensi itulah yang melatarbelakangi digelarnya simulasi penanggulangan bencana gempa bumi dan tsunami berskala besar di RSUD dr Darsono, Pacitan. Suasana simulasi di Ruang Bugenvil mulanya tampak tenang. Hanya tampak sejumlah satpam berjaga di samping pintu dan sesekali petugas medis melintas untuk memeriksa pasien.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fasilitas perawatan di lantai dua itu terdiri dari deretan ruangan yang di dalamnya terdapat sedikitnya empat bed khusus untuk merawat pasien stroke. Di tengah keheningan, serta-merta terjadi guncangan hebat disusul raungan sirene dari arah lantai dasar.
Tanda bahaya itu diikuti peringatan darurat melalui pengeras suara di plafon ruangan. Suara seorang pria terdengar jelas mengabarkan bahwa baru saja terjadi gempa bermagnitudo (M) 8,7 dengan pusat gempa di Samudera Indonesia dan berpotensi tsunami.
"Mohon tetap tenang. Jangan panik. Petugas akan segera membantu Bapak Ibu menuju tempat evakuasi," ucap si announcer.
Bersamaan dengan berakhirnya pengumuman tersebut, dua satpam yang berjaga langsung membuka pintu lebar-lebar. Petugas medis dengan sigap bergerak cepat mendorong bed berisi pasien keluar ruangan.
Setelah memastikan koridor lorong bebas hambatan, petugas mengevakuasi para pasien ke lantai dasar melalui jalur tangga darurat secara konvensional. Penggunaan tangga ini untuk memberikan gambaran riil saat bencana, di mana fasilitas lift dipastikan tidak berfungsi akibat aliran listrik padam total.
Setelah melintasi jalur evakuasi khusus, sejumlah pasien berhasil dibawa ke titik kumpul utama di halaman belakang gedung rumah sakit. Pasien yang diperankan karyawan RSUD itu tetap telentang di atas bed didampingi petugas medis yang memastikan peralatan perawatan tetap terpasang dengan benar. Adegan ini menjadi penutup dari rangkaian simulasi.
"Kalau ditanya siap atau enggak, ya rumah sakit harus siap (menghadapi ancaman bencana). Makanya hari ini kita laksanakan simulasi sebagai upaya membangun kesiapsiagaan. Lebih dari itu juga agar dapat diketahui bagian apa saja yang harus diperbaiki dari SOP yang ada," kata dr Netty Nurnaningtyas, Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Darsono kepada wartawan usai simulasi, Kamis (18/6/2026) sore.
Netty menjelaskan, simulasi ini merupakan bagian akhir dari rangkaian pelatihan kapasitas tanggap darurat internal yang berlangsung selama dua hari terakhir. Pelatihan difokuskan pada peningkatan refleks dan kesiapan taktis manajemen rumah sakit dalam menghadapi potensi gempa bumi dan tsunami akibat ancaman nyata dari segmen megathrust.
"Outcome-nya adalah apa yang masih kurang, perbaikan-perbaikan ke depan untuk rumah sakit ini karena kita berproses, bertumbuh, dan berkembang menjadi lebih baik. Harapannya sebagai bentuk upaya kita untuk tanggap darurat," imbuhnya.
Dari hasil evaluasi pascasimulasi, proses evakuasi kelompok rentan di gedung bertingkat menjadi tantangan paling berat yang harus diantisipasi secara matang dalam SOP riil ke depan.
"Yang paling sulit adalah karena pasien kita termasuk dalam kelompok rentan. Hampir semuanya. Apalagi yang kita pakai (simulasi) siang hari ini adalah ruangan perawatan 2 lantai. Lantai atas untuk pasien anak dan di bawahnya untuk perawatan pasien stroke di mana mereka tidak bisa melakukan evakuasi mandiri," pungkas dokter peraih gelar Magister Manajemen Bencana dari UPN Veteran Yogyakarta tersebut.
(auh/dpe)
