Menelusuri Fakta di Balik Viral Isu Gempa Palu Berdampak ke Bojonegoro

Round Up

Menelusuri Fakta di Balik Viral Isu Gempa Palu Berdampak ke Bojonegoro

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Sabtu, 20 Jun 2026 05:00 WIB
Unggahan viral soal gempa di Palu berdampak ke Bojonegoro
Unggahan viral soal gempa di Palu berdampak ke Bojonegoro/Foto: Tangkapan layar
Bojonegoro -

Unggahan di media sosial Threads yang mengaitkan gempa Magnitudo 6,7 di Palu dengan potensi gempa di Bojonegoro memicu kekhawatiran warganet. Dalam unggahan tersebut, akun @hsuliz2021 menyebut warga di sejumlah daerah, termasuk Bojonegoro, perlu waspada terhadap kemungkinan gempa sesar darat berkekuatan besar.

Menanggapi ramainya perbincangan itu, BMKG dan pakar geologi dari ITS memberikan penjelasan. Keduanya menegaskan bahwa gempa bumi hingga kini belum dapat diprediksi secara pasti, meski Sesar Kendeng yang melintasi Jawa Timur memang memiliki potensi memicu gempa darat hingga Magnitudo 7 dalam skenario terburuk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Viral Unggahan Kaitkan Gempa Palu dengan Bojonegoro

Perbincangan bermula dari unggahan akun Threads @hsuliz2021 yang menyebut gempa Magnitudo 6,7 di Palu berpotensi memicu gempa di sejumlah wilayah lain, termasuk Bojonegoro, Jawa Timur.

Dalam unggahannya, akun tersebut meminta warga di beberapa daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa sesar darat.

ADVERTISEMENT

"Dari kejadian gempa Kota Palu 6,7 mag hari ini, mohon teman di Bojonegoro Jatim, Pandeglang Banten, Padang Pariaman, Simeulue Aceh, waspada bisa muncul gempa skala 6-7. Ada gempa sesar darat yang lebih sulit diprediksi."

Akun itu juga mengklaim tekanan lempeng bumi telah mencapai angka tertentu.

"Data tekanan lempeng bumi udah 1.200 bar, yang tertinggi masih Selat Sunda bisa 1.350 bar, arti bisa ada gempa skala 6-7-8."

Unggahan tersebut kemudian menuai ratusan komentar dan ribuan tanda suka. Saat ditanya salah satu pengguna mengenai potensi dampak ke Jawa Timur, akun tersebut menjawab singkat, "Sesar Kendeng."

Begini Kata Pakar ITS

Menanggapi klaim tersebut, Pakar Geologi ITS sekaligus peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS, Dr Ir Amien Widodo, menjelaskan bahwa posisi Palu sangat jauh dari Pulau Jawa dan arah pergerakan sesarnya tidak berada dalam satu jalur dengan Jawa.

"(Palu) posisinya itu jauh sekali kan, di atas Jawa itu kan Kalimantan, terus Sulawesi sana ya. Nah, Sulawesi itu baru di atas Madura lah kiranya begitu. Nah, terus pergeseran sesarnya, pergeseran patahannya itu ke arah barat laut, jadi ke arah atas begitu, jadi miring terhadap Jawa itu miring. Jadi, enggak lurus langsung," bebernya.

Amien juga meragukan klaim mengenai tekanan lempeng bumi yang disebut dalam unggahan tersebut.

"Saya enggak tahu dia bisa bilang tekanannya sekian-sekian tadi itu dari mana. Tapi saya tadi mencari, melacak ini orang ini siapa sih, enggak jelas tadi (backgroundnya)," imbuhnya.

Menurut Amien, gempa Palu berada di kawasan Sesar Palu-Koro yang bergerak ke arah barat laut sehingga menjauh dari Jawa.

"Jadi, dia ada di tengah Palu, ada di daerah sesar Palu-Koro, di sebelah utaranya lagi malah gitu. Nah, itu bergeraknya itu menuju ke arah barat laut. Jadi, kalau utara barat itu namanya barat laut, kan menjauh dari Jawa tadi," ungkapnya.

Ia menambahkan, jika berbicara mengenai sesar di Pulau Jawa, faktor yang lebih mungkin memengaruhi aktivitas sesar adalah zona megathrust di selatan Jawa.

"Kalau di Jawa itu memang ada sesar-sesar juga tadi, Sesar Kendeng misalnya tadi. Nah, Sesar Kendeng itu kemungkinan yang mempengaruhi adalah megathrust yang ada di Selatan Jawa kemungkinan. Karena dia didorong dari Selatan begitu. Kalau dari utara kan jarang. Dari utara itu yang terakhir kan yang sesar itu Bawean," pungkasnya.

Jejak Gempa di Bojonegoro Tergolong Minim

Amien juga menjelaskan bahwa tidak terdapat sesar aktif yang berada tepat di wilayah Bojonegoro.

"Kalau Bojonegoro enggak ada (sesar) malah," ungkap Amien Widodo.

Meski demikian, Bojonegoro masih dapat merasakan getaran dari aktivitas sesar di wilayah sekitar, salah satunya Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS).

"Cuma yang agak di sebelah utaranya tadi, ada namanya sesar Rembang, Madura, Kangean ada namanya RMKS. Nah, itu memang melewati sebagian di Madura. Madura itu dilewati sesar tadi dua, kiri dan kanan. Nah, itu melewati memang di Tuban. Kalau Bojonegoro bisa terpengaruh begitu lah," ujarnya.

Menurutnya, catatan kegempaan di Bojonegoro juga tergolong jarang. Pernah terjadi gempa kecil di sekitar perbatasan Bojonegoro-Tuban, namun sudah berlangsung cukup lama.

"Memang dulu ada gempa kecil sekali di Bojonegoro. Sebenarnya tepatnya ya di depan, di sekitar Tuban juga sih. Antara perbatasan dengan Tuban sekitar M 4 atau berapa, sudah lama tapi," imbuhnya.

"Jarang. Termasuk jarang di situ (catatan terjadi gempa). Nah, kalau memang terus terjadi sering di tempat yang sama itu baru dipikir. Berarti kan di situ bergeser gitu. Sampai saat ini catatan belum ada," tambahnya.

BMKG: Sesar Kendeng Memang Aktif dan Perlu Diwaspadai

Terpisah, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, menjelaskan bahwa Sesar Kendeng merupakan salah satu zona patahan aktif yang membentang di Pulau Jawa dan melintasi sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Bojonegoro.

"Sesar Kendeng adalah salah satu zona sesar atau patahan aktif yang sangat diwaspadai di Pulau Jawa karena jalurnya yang padat penduduk," ujar Ricko.

Menurut Ricko, jalur sesar tersebut membentang sekitar 300 kilometer dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

"Zona Sesar Kendeng melintang sepanjang kurang lebih 300 Kilometer di bagian Utara Pulau Jawa, membentang dari selatan Semarang Jawa Tengah hingga ke wilayah Jawa Timur," imbuhnya.

Secara administratif, jalur sesar itu melintasi sejumlah daerah mulai dari Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo hingga Surabaya.

Potensi Gempa Magnitudo 7 Ada, Tapi Bukan Prediksi

Ricko menjelaskan bahwa berdasarkan kajian Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024, Sesar Kendeng yang kini tergabung dalam sistem Java Back-arc Thrust memang memiliki potensi menghasilkan gempa besar.

"Sesar Kendeng dalam Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024 digabung penamaannya dengan Sesar Baribisa dan Sesar Semarang menjadi Java Back-arc Thrust. Magnitudo tertarget dalam Pusgen 2024 yang dimungkinkan terjadi sebagai skenario terburuk dari tiap segmen sesar aktif di segmen tersebut bervariasi Magnitudo enam sampai tujuh," beber Ricko.

Meski demikian, ia menegaskan masyarakat tidak perlu panik menghadapi informasi tersebut.

"Namun kita jangan menjadi panik dengan angka-angka tersebut, tapi marilah kita meningkatkan kapasitas kita dengan mengetahui langkah-langkah apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan setelah kejadian gempa bumi," pintanya.

Ricko kembali menegaskan bahwa BMKG tidak pernah mengeluarkan prediksi gempa bumi, melainkan hanya menyampaikan potensi berdasarkan kajian ilmiah dan hasil pemantauan aktivitas seismik.

"BMKG tidak pernah mengeluarkan prediksi gempa bumi. Yang kami lakukan adalah mensosialisasikan potensi berdasarkan kajian para ahli Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN 2024) dan monitoring aktivitas kegempaan dengan jaringan seismograph kami yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia," ungkapnya.

Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah percaya terhadap informasi prediksi gempa yang beredar di media sosial.

Ricko menilai langkah yang lebih penting adalah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

"Yang penting adalah meningkatkan kesiapsiagaan individu dengan melatih diri, apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat dan setelah kejadian gempabumi dan tsunami bila dikeluarkan peringatan dini tsunami oleh BMKG," bebernya.

"Kemudian memberi info kurang dari tiga menit setelah kejadian gempa untuk meminimalisir dampak ikutan dari gempa bumi baik itu tsunami, longsor, dan lainnya," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Gempa M 6,3 Guncang Afghanistan Tewaskan 20 Orang"
[Gambas:Video 20detik]
(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads