5 Fakta Geger Isu Gempa di Palu Picu Bencana Sesar Kendeng Bojonegoro

5 Fakta Geger Isu Gempa di Palu Picu Bencana Sesar Kendeng Bojonegoro

Mira Rachmalia - detikJatim
Sabtu, 20 Jun 2026 10:30 WIB
Unggahan viral soal gempa di Palu berdampak ke Bojonegoro
Unggahan viral soal gempa di Palu berdampak ke Bojonegoro (Foto: Tangkapan layar)
Bojonegoro -

Unggahan di media sosial Threads yang mengaitkan gempa Magnitudo 6,7 di Palu dengan potensi gempa besar di Bojonegoro, Jawa Timur, sempat membuat warga khawatir.

Klaim tersebut menyebut adanya kemungkinan gempa sesar darat berkekuatan besar di sejumlah wilayah, termasuk akibat aktivitas Sesar Kendeng.

Namun, BMKG dan pakar geologi ITS menegaskan bahwa gempa bumi belum dapat diprediksi secara pasti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

5 Fakta Sesar Kendeng dan Isu Gempa Bojonegoro

Berikut sederet fakta terkait isu gempa Palu yang dikaitkan dengan potensi gempa di Bojonegoro.

1. Berawal dari Unggahan Viral

Isu bermula dari unggahan akun Threads @hsuliz2021 yang menyebut gempa Magnitudo 6,7 di Palu dapat berkaitan dengan potensi gempa di sejumlah daerah lain, termasuk Bojonegoro, Pandeglang, Padang Pariaman, hingga Simeulue.

ADVERTISEMENT

Dalam unggahannya, akun tersebut meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa sesar darat berkekuatan besar.

"Dari kejadian gempa Kota Palu 6,7 mag hari ini, mohon teman di Bojonegoro Jatim, Pandeglang Banten, Padang Pariaman, Simeulue Aceh, waspada bisa muncul gempa skala 6-7. Ada gempa sesar darat yang lebih sulit diprediksi."

Akun tersebut juga menyebut adanya tekanan lempeng bumi yang disebut mencapai angka tertentu dan berpotensi memicu gempa besar.

"Data tekanan lempeng bumi udah 1.200 bar, yang tertinggi masih Selat Sunda bisa 1.350 bar, arti bisa ada gempa skala 6-7-8."

Unggahan itu kemudian ramai diperbincangkan dan mendapat banyak komentar dari warganet. Saat ditanya mengenai kemungkinan dampaknya ke Jawa Timur, akun tersebut menyebut "Sesar Kendeng."

2. Respon Pakar ITS

Pakar Geologi ITS sekaligus peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS, Dr Ir Amien Widodo, menjelaskan bahwa gempa Palu tidak memiliki hubungan langsung dengan wilayah Jawa karena lokasi dan arah pergerakan sesarnya berbeda.

Menurut Amien, posisi Palu sangat jauh dari Pulau Jawa dan pergerakan Sesar Palu-Koro tidak mengarah langsung menuju Jawa.

"(Palu) posisinya itu jauh sekali kan, di atas Jawa itu kan Kalimantan, terus Sulawesi sana ya. Nah, Sulawesi itu baru di atas Madura lah kiranya begitu. Nah, terus pergeseran sesarnya, pergeseran patahannya itu ke arah barat laut, jadi ke arah atas begitu, jadi miring terhadap Jawa itu miring. Jadi, enggak lurus langsung."

Ia juga mempertanyakan sumber klaim mengenai tekanan lempeng bumi yang beredar di media sosial.

"Saya enggak tahu dia bisa bilang tekanannya sekian-sekian tadi itu dari mana. Tapi saya tadi mencari, melacak ini orang ini siapa sih, enggak jelas tadi (backgroundnya)."

3. Kondisi Sesar di Bojonegoro

Amien Widodo menjelaskan bahwa wilayah Bojonegoro tidak memiliki sesar aktif yang berada tepat di wilayah tersebut.

"Kalau Bojonegoro enggak ada (sesar) malah."

Meski begitu, Bojonegoro tetap dapat merasakan dampak aktivitas sesar di wilayah sekitar, salah satunya Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS).

"Cuma yang agak di sebelah utaranya tadi, ada namanya sesar Rembang, Madura, Kangean ada namanya RMKS. Nah, itu memang melewati sebagian di Madura. Madura itu dilewati sesar tadi dua, kiri dan kanan. Nah, itu melewati memang di Tuban. Kalau Bojonegoro bisa terpengaruh begitu lah."

Ia juga menyebut catatan gempa di Bojonegoro tergolong jarang. Gempa kecil pernah terjadi di sekitar perbatasan Bojonegoro-Tuban, tetapi sudah berlangsung cukup lama.

"Memang dulu ada gempa kecil sekali di Bojonegoro. Sebenarnya tepatnya ya di depan, di sekitar Tuban juga sih. Antara perbatasan dengan Tuban sekitar M 4 atau berapa, sudah lama tapi."

"Jarang. Termasuk jarang di situ (catatan terjadi gempa). Nah, kalau memang terus terjadi sering di tempat yang sama itu baru dipikir. Berarti kan di situ bergeser gitu. Sampai saat ini catatan belum ada."

4. Kondisi Sesar Kendeng

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, menjelaskan bahwa Sesar Kendeng merupakan salah satu zona patahan aktif yang perlu diwaspadai karena melewati wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi.

"Sesar Kendeng adalah salah satu zona sesar atau patahan aktif yang sangat diwaspadai di Pulau Jawa karena jalurnya yang padat penduduk."

Menurut Ricko, jalur Sesar Kendeng membentang sekitar 300 kilometer dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

"Zona Sesar Kendeng melintang sepanjang kurang lebih 300 Kilometer di bagian Utara Pulau Jawa, membentang dari selatan Semarang Jawa Tengah hingga ke wilayah Jawa Timur."

Jalur tersebut melewati sejumlah wilayah, seperti Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo hingga Surabaya.

Berdasarkan kajian Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024, Sesar Kendeng yang tergabung dalam sistem Java Back-arc Thrust memang memiliki potensi menghasilkan gempa besar dalam skenario terburuk.

"Sesar Kendeng dalam Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024 digabung penamaannya dengan Sesar Baribisa dan Sesar Semarang menjadi Java Back-arc Thrust. Magnitudo tertarget dalam Pusgen 2024 yang dimungkinkan terjadi sebagai skenario terburuk dari tiap segmen sesar aktif di segmen tersebut bervariasi Magnitudo enam sampai tujuh."

5. BMKG Tegaskan Gempa Tidak Bisa Diprediks

BMKG menegaskan bahwa potensi gempa berbeda dengan prediksi gempa. Hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat memastikan kapan, di mana, dan seberapa besar gempa akan terjadi.

Ricko Kardoso meminta masyarakat tidak panik dengan informasi mengenai potensi gempa, tetapi meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

"Namun kita jangan menjadi panik dengan angka-angka tersebut, tapi marilah kita meningkatkan kapasitas kita dengan mengetahui langkah-langkah apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan setelah kejadian gempa bumi."

Ia juga menegaskan bahwa BMKG tidak pernah mengeluarkan prediksi gempa bumi.

"BMKG tidak pernah mengeluarkan prediksi gempa bumi. Yang kami lakukan adalah mensosialisasikan potensi berdasarkan kajian para ahli Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN 2024) dan monitoring aktivitas kegempaan dengan jaringan seismograph kami yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia."

Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah percaya terhadap informasi prediksi gempa yang beredar di media sosial dan lebih mengutamakan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana.

"Yang penting adalah meningkatkan kesiapsiagaan individu dengan melatih diri, apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat dan setelah kejadian gempabumi dan tsunami bila dikeluarkan peringatan dini tsunami oleh BMKG."




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads