Nasib Anak-Istri Badut di Mojokerto Usai Prahara Pembunuhan Ibu Mertua

Round-Up

Nasib Anak-Istri Badut di Mojokerto Usai Prahara Pembunuhan Ibu Mertua

Denza Perdana - detikJatim
Sabtu, 09 Mei 2026 08:45 WIB
Satuan, badut penjual balon di Mojokerto yang membunuh ibu mertua dan melukai istrinya diringkus di Surabaya.
Satuan, badut penjual balon di Mojokerto yang membunuh ibu mertua dan melukai istrinya. (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Mojokerto -

Kasus pembunuhan sadis yang dilakukan Satuan (43), seorang badut penjual balon di Mojokerto, mengungkap tabir gelap prahara rumah tangga. Pria yang tega menghabisi nyawa ibu mertuanya, Siti Arofah (53), dan melukai istrinya, Sri Wahyuni (35) kini blak-blakan mengenai motif di balik aksi gelap matanya.

Di hadapan polisi, Satuan mengaku tertekan dengan gaya hidup sang istri. Meski penghasilannya sebagai badut tidak menentu, ia menyebut istrinya menuntut gaya hidup yang tinggi hingga terlilit banyak utang.

"Perawatan sudah pasti, lipstiknya saja ada 18, bulu mata lepas satu sudah bingung, setiap hari paket (belanja barang) saja," kata Satuan saat berbincang dengan Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pranata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Surat-surat tidak ada semua digadaikan istri. Mulai KK, KTP, surat nikah, akta kelahiran anak sudah tidak ada, buat utang-utang. Pokoknya satu minggu saya diberi rincian kurang lebih Rp 3 juta utangnya dia," cetusnya.

ADVERTISEMENT

Salah satu fakta pilu yang terungkap adalah Satuan kerap mengajak anak balitanya yang berusia 3,5 tahun saat bekerja sebagai badut. Hal ini terpaksa dilakukan karena sang istri dinilai enggan mengasuh anak jika kebutuhannya tidak terpenuhi.

"Istri mau momong kalau semua dipenuhi. Mintanya ya uang belanja sendiri, uang sekolah sendiri, uang brai (perawatan) sendiri. Sedangkan kayak saya kan penghasilannya tidak menentu, maunya dipenuhi," jelas Satuan.

Masih Cinta Meski Gelap Mata

Meski telah melakukan penganiayaan brutal hingga menyayat leher istrinya, Satuan mengaku masih memiliki perasaan cinta. Sambil menangis, ia memberikan pesan kepada para perempuan agar tidak mempermainkan ketulusan laki-laki.

"Terhadap perempuan di luar sana supaya tidak mempermainkan laki-laki. Karena laki-laki kalau sudah tulus cinta, matipun dilakukan. (Anda cinta?) Cinta pak," ujarnya.

Peristiwa ini berdampak langsung pada kondisi psikologis tiga anak dalam lingkaran keluarga tersebut. Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pranata turun tangan memberikan bantuan pendidikan dan sembako bagi mereka.

"Terhadap 3 anak ini sudah ada pengampunya, ada keluarga besar. Sehingga kami sarankan agar sama-sama fokus untuk masa depan mereka. Jadi, kepentingan anak menjadi prioritas proses penyelesaian atas peristiwa ini," terang Andi.

Kondisi Terkini Istri Sang Badut

Sri Wahyuni, yang menjadi korban luka, sempat terkendala biaya pengobatan karena luka akibat tindak pidana tidak ditanggung BPJS Kesehatan. Namun, pihak Polres Mojokerto bergerak cepat dengan menggalang bantuan agar korban bisa segera pulang dan berkumpul dengan anaknya.

"Kondisi sore tadi sudah dibolehkan pulang untuk rawat jalan. Ada sedikit kendala mungkin di pembiayaan nonBPJS. Dari Polres Mojokerto saya minta ayo rame-rame bantu," pungkas Andi.

Kini, Satuan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi. Ia terancam hukuman 15 tahun penjara atas aksi nekatnya yang dipicu rasa panik saat kepergok menganiaya sang istri oleh ibu mertuanya sendiri.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads