Kasus pengeroyokan dan perusakan yang dilakukan oknum suporter Aremania terhadap terhadap wisatawan asal Surabaya di kawasan Pantai Wediawu, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang berakhir damai. Hal ini setelah pelapor mencabut laporan.
Kasus yang sempat menyita perhatian publik itu sebelumnya menyeret lima orang tersangka dan satu anak yang berkonflik dengan hukum. Namun setelah proses mediasi dan pemulihan terhadap para korban, seluruh pelapor sepakat mencabut laporan polisi yang telah diajukan.
Kapolres Malang AKBP Muhammad Taat Resdi mengatakan perkembangan tersebut merupakan bagian dari komitmen Polres Malang dalam memberikan informasi secara terbuka kepada masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami merasa perlu menyampaikan perkembangan perkara ini sebagai bagian dari transparansi penanganan yang dilakukan penyidik," kata Taat kepada wartawan, Selasa (2/6/2026).
Pada prinsipnya para pihak telah menyepakati adanya pemulihan, sehingga laporan yang sebelumnya dibuat dicabut dan proses penyidikan kemudian dihentikan sesuai ketentuan yang berlaku," sambungnya.
Sementara Kasatreskrim Polres Malang AKP Hafiz Prasetia Akbar menjelaskan, perkara tersebut berawal dari insiden yang terjadi di Pantai Wediawu pada Selasa (5/5/2026) lalu.
Dalam proses penyidikan, polisi telah melakukan pemeriksaan saksi, pengumpulan barang bukti, hingga menetapkan lima tersangka dan satu anak yang berkonflik dengan hukum.
"Dalam perkembangannya, para tersangka melalui kuasa hukumnya membangun dialog dan mediasi dengan para korban untuk mengedepankan pemulihan atas kerugian maupun kerusakan yang terjadi. Selama kurang lebih dua minggu terakhir telah dilakukan mediasi yang difasilitasi Satreskrim Polres Malang," ujar Hafiz terpisah.
Menurut Hafiz, hasil mediasi menunjukkan para korban telah menerima pemulihan atas kerugian yang dialami sehingga bersedia mencabut laporan polisi.
"Para korban menyatakan kerugian yang mereka alami telah mendapatkan pemulihan. Berdasarkan pencabutan laporan tersebut, penyidik kemudian melakukan gelar perkara dan memutuskan penghentian penyidikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku," jelasnya.
Dalam proses tersebut, lanjut Hafiz, kuasa hukum para tersangka bersama perwakilan Presidium Aremania menyatakan kesediaan membantu mengembalikan kondisi korban seperti semula. Terutama terkait perbaikan kendaraan yang rusak serta kebutuhan pengobatan korban yang mengalami luka.
Ketua Presidium Aremania Ali Rifki menegaskan kesepakatan yang dicapai seluruh pihak berlangsung tanpa tekanan maupun paksaan.
"Semua pihak mencari solusi terbaik atas peristiwa yang terjadi. Kerugian yang dialami korban, baik kendaraan yang rusak, barang yang hilang maupun kebutuhan pengobatan, telah diselesaikan sesuai kesepakatan. Proses ini berjalan secara baik tanpa ada paksaan dari pihak manapun," kata Ali.
Sebelumnya, sebuah video yang menampilkan rombongan wisatawan asal Surabaya diserang ratusan kelompok suporter diduga aremania viral di media sosial. Tak hanya menyerang, para pelaku juga merusak kendaraan wisatawan.
Dalam video disebutkan lokasi penyerangan terjadi di kawasan Pantai Wediawu, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Peristiwa tersebut menimpa rombongan wisata asal Surabaya yang tengah menginap di sekitar lokasi.
Tampak kaca kendaraan pelat L itu dipecah dan dicoret dengan berbagai kata-kata umpatan kepada sebutan suporter Persebaya. Akibat penyerangan itu sejumlah orang juga tampak mengalami luka-luka.
Padahal rombongan tersebut diketahui murni berlibur tanpa mengenakan embel-embel suporter klub. Namun para pelaku tampak melakukan sweeping dan diduga menjarah di campground dan cottage para wisatawan.
Setelah viral video tersebut, kemudian muncul video berdurasi selama 25 detik. Dalam video tersebut merekam diduga sebuah cottage tempat menginap para wisatawan. Dalam video tampak terdengar sayup-sayup orang bernyanyi.
Dalam keterangan video tersebut ditulis bahwa wisatawan disebut bernyanyi ujaran kebencian atau rasis kepada Arema FC dan aremania. Hal itu lah yang diduga jadi awal pemicu aremania murka dan menyerang rombongan wisatawan asal Surabaya.
(dpe/abq)