Polisi mengungkap motif di balik pengeroyokan yang menewaskan satu pemuda di Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk.
Wakapolres Nganjuk, Kompol Didid Wahyu Agustyawan menyampaikan bahwa para pelaku nekat melakukan aksi kekerasan karena merasa tersinggung dengan suara bising motor dan kembang api yang dinyalakan rombongan korban.
Didid mengatakan, kejadian bermula saat rombongan korban yang mengendarai tiga motor melintas di Jalan Merapi, Desa Sukorejo, Rabu (24/6/2026), sekitar pukul 02.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat melintas di dekat SDN Sukorejo, rombongan korban dihadang sekelompok pemuda yang sedang berkumpul. Tidak lama kemudian terjadi aksi pelemparan batu hingga korban terjatuh dari kendaraan.
"Para pelaku diduga tersinggung karena korban melakukan blayer-blayer sepeda motor dan menyalakan kembang api saat melintas," ujar Didid konferensi pers di Mapolres Nganjuk, Kamis (25/6/2026).
Kasatreskrim Polres Nganjuk, AKP Sukaca menambahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, kelompok pelaku memang sedang berkumpul di lokasi saat kejadian terjadi.
"Mereka hanya kumpul-kumpul. Kemudian merasa terganggu karena ada sekelompok orang lewat dengan blayer-blayer sepeda motor dan menyalakan kembang api," imbuhnya.
Setelah korban terjatuh, para pelaku secara bersama-sama melakukan pengeroyokan menggunakan tangan kosong, batu, sabuk, dan berbagai benda yang ada di sekitar lokasi.
Akibatnya, korban MK, warga meninggal dunia karena mengalami luka berat pada bagian kepala. Tiga korban lainnya, yakni TR, YP, dan HI, mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan.
Polisi telah menetapkan 14 tersangka dalam perkara tersebut. Namun penyidikan masih terus dikembangkan, termasuk melalui analisis rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian.
Sukaca mengatakan, pihaknya tidak akan berhenti pada penetapan tersangka yang sudah ada apabila ditemukan keterlibatan pelaku lain.
"Didukung hasil analisis CCTV, dimungkinkan masih ada penambahan terduga pelaku yang terlibat dalam kejadian ini," ujarnya.
Sukaca juga mengimbau masyarakat dan para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak pada malam hari.
"Agar tidak terjadi kejadian serupa di kemudian hari," pungkas Sukaca.
(auh/abq)
