Keributan berujung pengeroyokan antarkaryawan di kantor Nescafe, Jalan Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang bermula dari kasus dugaan penggelapan uang internal senilai Rp 600 ribu. Dugaan penggelapan ini terungkap dari hasil audit uang penjualan produk.
Audit internal terhadap sejumlah pegawai itu dilakukan oleh manajemen Nescafe menyusul adanya indikasi kuat penggelapan uang hasil penjualan produk di gerai Nescafe wilayah Wagir, Kabupaten Malang, dengan nominal sebesar Rp 600 ribu.
Guna mengklarifikasi dugaan penyelewengan itu, seorang supervisor berinisial MK memanggil empat karyawan-yakni BL, DV, NF, dan MC-ke kantor Mulyorejo pada Rabu (24/6/2026) malam. Namun, proses interogasi internal itu mendadak berjalan panas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah jalannya pemeriksaan, situasi menjadi tidak terkendali. Karyawan berinisial BL dan DV dilaporkan mendapat bogem mentah atau pukulan dari sejumlah pegawai lain yang berada di lokasi.
Tidak hanya mengalami kekerasan fisik, mereka juga ditekan secara psikologis untuk mengakui tuduhan pencurian dan penggelapan uang gerai tersebut. Sesi interogasi malam itu berakhir setelah pihak supervisor menyita ponsel milik BL, DV, serta NF, lalu meminta mereka datang kembali keesokan harinya.
Aksi Balas Dendam
Tindakan main hakim sendiri saat proses audit itu rupanya memicu dendam. Merasa tidak terima atas pemukulan yang dialaminya, BL kembali mendatangi kantor Nescafe pada Kamis (25/6/2026) dini hari. Namun, kali ini ia tidak datang sendiri melainkan memboyong tujuh orang saudaranya untuk menuntut pertanggungjawaban.
Kedatangan rombongan BL ini langsung mengubah area kantor menjadi arena tawuran dan berujung pada aksi pengeroyokan terhadap karyawan yang berada di sana.
"Kemudian terjadi dugaan pengeroyokan yang dilakukan BL bersama tujuh orang lainnya," ujar Kasi Humas Polresta Malang Kota, Ipda Lukman Sobikhin, saat dikonfirmasi, Jumat (26/6/2026).
Aksi baku hantam massal ini sempat terekam kamera dan videonya viral di media sosial, memperlihatkan sejumlah korban yang bersimbah darah tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Pihak kepolisian memastikan bahwa pusaran kasus yang berawal dari masalah audit keuangan ini sudah masuk ke ranah hukum. Polsek Sukun telah turun tangan melakukan olah TKP, mengumpulkan barang bukti, serta memeriksa sejumlah saksi, termasuk menginterogasi BL mengenai perbuatannya pada Kamis dini hari itu.
Akibat pengeroyokan ini, dilaporkan ada enam orang yang menjadi korban luka. Dua di antaranya telah resmi melayangkan laporan ke polisi karena menderita cedera serius.
"Dari enam korban, dua orang telah melakukan visum dan melapor, karena mengalami luka berat. Perkara ini telah ditangani Polsek Sukun dan sedang dilakukan pendalaman," pungkas Lukman.
(irb/dpe)
