Warung STMJ ITB di Nganjuk Ini Jadi Favorit Pemburu Stamina Malam

Warung STMJ ITB di Nganjuk Ini Jadi Favorit Pemburu Stamina Malam

Bakrie - detikJatim
Kamis, 30 Apr 2026 23:00 WIB
Ninik Mujiati saat meracik minuman STMJ di lapaknya Jalan Veteran Nganjuk
Ninik Mujiati saat meracik minuman STMJ di lapaknya Jalan Veteran Nganjuk (Foto: Bakrie/detikJatim)
Nganjuk -

Di tepi Jalan Veteran Nganjuk, ada satu warung yang terlihat selalu ramai pelanggan. Bentuk lapaknya sederhana, hanya gerobak dan beberapa meja-kursi kayu. Namun, hampir setiap malam selalu dipadati pembeli.

Warung STMJ milik Ninik Mujiati (47), wanita warga Jalan Brantas, Kelurahan Werungotok, Kecamatan Nganjuk ini sudah berdiri sejak 2012, atau 14 tahun lalu, dan tetap eksis hingga kini.

"Saya berjualan sendirian. Kadang-kadang saja dibantu anak," ujar Ninik, Kamis (30/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warung Ninik buka mulai pukul 19.00 hingga 23.00 WIB. Namun jangan datang terlalu santai. Dalam waktu dua hingga tiga jam saja, seluruh persediaan STMJ bisa langsung ludes.

Rata-rata, sekitar 100 butir telur, baik telur ayam kampung maupun telur bebek habis setiap malam.

ADVERTISEMENT

Yang membuat warung ini berbeda bukan sekadar STMJ (susu, telur, madu, jahe) biasa. Ninik menawarkan varian spesial yang ia sebut STMJ plus ITB.

Bukan nama kampus, ITB di sini adalah singkatan dari "Isi Tenaga Baru". Menurut Ninik, ITB adalah ramuan khusus yang diklaim mampu mendongkrak vitalitas pria.

"ITB itu racikan saya sendiri. Khasiatnya untuk stamina pria," ujar Ninik.

Setiap sajian terdiri dari segelas besar STMJ panas, lengkap dengan satu cangkir kecil berbahan perak berisi ramuan ITB.

Kombinasi ini menjadi daya tarik utama, terutama bagi pelanggan pria yang mencari minuman penghangat sekaligus penambah tenaga.

Di balik racikan tersebut, tersimpan pengalaman panjang. Sebelum berjualan STMJ, Ninik mengaku pernah belajar ilmu sinshe atau pengobatan tradisional Tionghoa di Jombang.

Dari sanalah ia mengenal berbagai bahan herbal alami, hingga akhirnya meracik sendiri formula ITB berbasis rempah-rempah dan ma'jun, atau sari dari akar-akaran.

"Semua tanpa bahan kimia. Ini murni dari bahan alami yang saya pelajari dulu," ungkapnya.

Soal harga, warung ini masih ramah di kantong. STMJ telur ayam kampung dibanderol Rp17 ribu, telur bebek Rp20 ribu, sementara STMJ ITB dijual Rp35 ribu per porsi.

Salah satu pelanggan setianya, Bagus Jati Kusumo mengaku rutin datang karena cocok dengan racikan Ninik. Warga Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret itu merasakan langsung manfaatnya.

"Ini warung STMJ favorit saya. Setelah minum badan rasanya lebih hangat, lebih segar. Stamina seperti balik lagi setelah seharian kerja," tutur Bagus.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads