Geng Bersenjata di Nigeria Kembali Sandera 163 Jemaat Gereja

Internasional

Geng Bersenjata di Nigeria Kembali Sandera 163 Jemaat Gereja

Farih Maulana Sidik - detikJogja
Selasa, 20 Jan 2026 10:21 WIB
Nigeria has been suffering a spate of kidnappings, including of schoolchildren © (Light Oriye Tamunotonye/AFP/File)
Nigeria dilanda penculikan massal, terutama terhadap anak-anak sekolah, beberapa waktu terakhir. Foto: Light Oriye Tamunotonye/AFP/File
Jogja -

Kelompok bersenjata menyerbu dua gereja di Nigeria utara pada Minggu kemarin. Mereka kemudian menyandera 163 jemaat.

Dilansir detikNews yang mengutip AFP, Selasa (20/1/2026), diketahui ini bukan pertama kalinya aksi penculikan dan penyanderaan warga yang menargetkan baik umat Kristen maupun Muslim. Mereka sering melakukan penculikan massal untuk tebusan dan menjarah desa-desa, terutama di bagian utara dan tengah negara terpadat di Afrika tersebut.

"Para penyerang datang dalam jumlah besar dan memblokir pintu masuk gereja dan memaksa para jemaat keluar ke semak-semak," kata Pendeta Joseph Hayab, Kepala Asosiasi Kristen Nigeria untuk wilayah utara Nigeria, Senin (19/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jumlah sebenarnya yang mereka culik adalah 172, tetapi sembilan orang berhasil melarikan diri, jadi 163 orang masih bersama mereka," tambah Hayab.

ADVERTISEMENT

Sebuah laporan keamanan PBB yang dilihat AFP juga mencatat lebih dari 100 orang diculik, menunjukkan bahwa serangan lebih lanjut dapat terjadi di daerah terpencil di negara bagian tersebut.

Para pria bersenjata menyerbu dua gereja selama misa Minggu di desa Kurmin Wali di distrik Kajuru yang mayoritas beragama Kristen.

Nigeria yang terbagi antara wilayah selatan yang mayoritas Kristen dan wilayah utara yang mayoritas Muslim telah dilanda berbagai konflik berkepanjangan. Konflik ini menewaskan baik umat Kristen maupun Muslim, seringkali tanpa membedakan.

Sebelum penculikan ini, dua bulan lalu geng bersenjata menyandera lebih dari 300 siswa dan guru dari sebuah sekolah Katolik di negara bagian Niger. Mereka dibebaskan beberapa minggu kemudian dalam dua gelombang.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memanfaatkan ketidakamanan di Nigeria. Dia telah memberikan tekanan diplomatik kepada Abuja dengan dalih terjadinya pembunuhan umat Kristen.

Pada akhir Desember, AS melancarkan serangan terhadap apa yang menurut mereka dan pemerintah Nigeria adalah militan yang terkait dengan kelompok Negara Islam di negara bagian Sokoto di barat laut.




(afn/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads