Sederet Jawaban Tiyo Ardiyanto soal Tudingan Aliansi BEM Bersatu

Round-Up

Sederet Jawaban Tiyo Ardiyanto soal Tudingan Aliansi BEM Bersatu

Tim detikJogja - detikJogja
Jumat, 26 Jun 2026 05:02 WIB
Eks Ketua Bem UGM Tiyo Ardiyanto saat ditemui di UGM, Sleman, Kamis (25/6/2026).
Eks Ketua Bem UGM Tiyo Ardiyanto saat ditemui di UGM, Sleman, Kamis (25/6/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Beragam tudingan dialamatkan ke Eks BEM UGM Tiyo Ardiyanto usai secara menyampaikan kritik keras terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo. Salah satu pihak yang melayangkan tudingan kepada Tiyo yakni Aliansi Mahasiswa BEM Bersatu.

Tudingan itu sebagaimana disampaikan seorang perwakilan dari BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, yang merupakan Ketua BEM Hukum UIC, dalam konferensi pers di Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (16/6/2026).

Ia menyoroti kedekatan eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, yang merupakan salah satu penggerak aksi, dengan seorang purnawirawan jenderal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu didasari kendaraan Fortuner yang digunakan Tiyo terdaftar atas nama Siti Nuraeni, yang terkait dengan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.

"Mobil Fortuner yang digunakannya diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, yang merupakan besan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Dugaan ini diperkuat kehadiran politisi PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi," ujar Djimbula dikutip dari detikNews.

ADVERTISEMENT

Baru Tahu Ada Aliansi BEM Bersatu

Mendapat beragam tudingan, Tiyo menjawab dengan cukup elegan. Dia menyebut, selama ini dirinya tidak pernah tahu jika ada Aliansi BEM Bersatu.

"Saya kira lagi-lagi ya, pertanyaan saya kan satu, itu kan tudingan yang dilakukan oleh BEM Fakultas Bersatu. BEM Fakultas Bersatu itu aliansi yang saya sendiri baru tahu," terang Tiyo saat ditemui di UGM, Sleman, Kamis (25/6/2026).

"Setelah saya lihat beberapa organisasi yang ada di kampus tempat mereka berkuliah, itu kan kemudian mengklarifikasi bahwa 14 orang itu yang mengaku aliansi BEM Fakultas Bersatu ada yang ternyata bukan mahasiswa, ada yang sudah lulus, ada yang bukan ketua BEM tapi ngaku ketua BEM," ungkapnya.

"Apa yang bisa dipercaya dari orang-orang yang sejak dari tubuhnya saja sudah berbohong? Saya nggak pernah menampilkan apa pun yang berkaitan dengan kendaraan atau apa. Sehingga ini tudingan yang saya kira kalau dalam bahasa hukum ya, yang menuding ya yang harus membuktikan," imbuhnya.

Tudingan Hanya untuk Menyibukkan

Selain tudingan itu, Tiyo juga mendapat banyak tudingan miring lainnya. Di antaranya tudingan Tiyo berafiliasi dengan PDI Perjuangan hingga mobil pinjaman.

"Hari ini saya kira memang tuduhan itu dilakukan untuk menyibukkan saya. Jadi saya pribadi memilih fokus untuk pada hal-hal yang strategis dan hal-hal substantif," terang Tiyo.

"Terkait kedekatan dengan pihak-pihak tertentu, saya kira orang bisa melakukan cocoklogi macam-macamlah. Saya tetap independen sebagai individu yang merdeka, yang ingin supaya kekuasaan hari ini berjalan dengan benar," sambungnya.

Penuduh Harus Buktikan

Tiyo menegaskan, siapa yang menuduh maka dialah yang harus membuktikan.

"Apa yang bisa dipercaya dari orang-orang yang sejak dari tubuhnya saja sudah berbohong? Saya enggak pernah menampilkan apa pun yang berkaitan dengan kendaraan atau apa. Sehingga ini tudingan yang saya kira kalau dalam bahasa hukum ya, yang menuding ya yang harus membuktikan," imbuhnya.

Selain dua tudingan itu, Tiyo juga mendapat beberapa tudingan lain yang menurutnya tidak berdasar.

"Saya itu kan sudah dituding macam-macam. Saya dituding sebagai LGBT, gara-gara waktu itu saya belum ada pacar. Saya dituding anaknya Abah, karena pernah satu forum dengan Mas Anies ketika forum alumni ketua BEM. Berbagai tudingan itu dihantamkan pada saya," ujarnya.

Tiyo menegaskan semua tudingan yang ditujukan kepadanya hanya bertujuan untuk membuatnya gentar dan disibukkan untuk mengklarifikasi satu demi satu tudingan itu. Namun, Tiyo menegaskan, ia tetap fokus pada hal-hal yang strategis dan substantif alih-alih sibuk menjawab satu per satu tudingan itu.

"Biarlah waktu yang menentukan apakah tudingan itu benar atau keliru. Biarlah narasi yang saya ucapkan yang jadi ukuran, apakah tudingan itu benar atau keliru. Karena hanya dengan itu cara kita untuk mengukur apakah kita itu adalah sosok yang independen atau kita adalah patron, berpatron pada pihak-pihak tertentu," tegasnya.




(apl/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads