Pemda DIY terus mengupayakan kawasan Sumbu Filosofi Jogja menjadi zona rendah emisi. Salah satunya dengan mencoba mengubah kawasan Malioboro menjadi full pedestrian atau hanya untuk pejalan kaki. Namun, rencananya bukan cuma Malioboro yang akan dikurangi akses mobilitasnya.
Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menjelaskan, full pedestrian Malioboro sebenarnya akan diterapkan sejak 2025. Namun karena beberapa hal, pada 2025 baru berhasil dilakukan uji coba saja.
"Sebenarnya targetnya itu 2025. Namun, dengan kondisi yang ada sekarang, pelaksanaannya belum memungkinkan untuk dieksekusi penuh di 2025," kata Made saat ditemui di Kompleks Kepatihan Kota Jogja, Selasa (3/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa permasalahan yang menyebabkan full pedestrian Malioboro belum bisa dilakukan yakni soal pola lalu lintas di jalan pendukung Malioboro hingga sirip-sirip Malioboro. Menurut Made, sirip-sirip Malioboro menjadi tumpuan utama dalam full pedestrian.
"Yang kita benahi sekarang itu sirip-siripnya dulu, pengaturannya seperti apa. Karena ketika kawasan ini sudah menjadi pedestrian, otomatis fungsinya akan bertumpu di sirip-sirip tersebut," ujar Made.
Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti usai dilantik di Kompleks Kepatihan, Selasa (16/9). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja |
"Mobilitas orang akan terbatas pada kendaraan tertentu, termasuk kendaraan tradisional yang memang menjadi ciri khas Malioboro. Beban lalu lintas akan ada di sana," sambungnya.
Pasalnya, sirip-sirip Malioboro dan jalan pendukung seperti Jalan Bhayangkara dan Jalan Mataram adalah satu kesatuan pola lalu lintas. Namun yang terjadi sekarang ini, sirip-sirip malah menjadi tempat parkir dan tempat PKL.
"Jalan Perwakilan itu memang dilebarkan untuk akses, bukan untuk parkir. Itu yang sering keliru. Dilebarkan bukan untuk parkir. (Ilegal) Iya, jelas," ungkap Made.
"Tantangannya pertama, masih soal parkir. Kedua, PKL. Ketika kita bicara pedestrian full, pasti ada dampak yang terjadi. Orang yang biasanya bermobilitas akan berhenti di mana? Pedagang bagaimana? Kami minta kota untuk menginventarisasi," imbuhnya.
Rencana Batasi Kendaraan Bermotor di Sepanjang Sumbu Filosofi Jogja
Made menjelaskan, kawasan rendah emisi bukan hanya akan diterapkan di Malioboro, namun di kawasan Sumbu Filosofi mulai dari Tugu hingga Panggung Krapyak. Begitupun dengan pembatasan akses kendaraan bermotor atau full pedestrian.
Namun, kata Made, pembatasan akses kendaraan tidak bisa disamakan setiap ruas jalan. Pasalnya, karakteristik dan segmentasi setiap jalan berbeda-beda.
"Kita bicara sumbu filosofi kan dari Panggung Krapyak sampai Tugu, sekarang kita tinggal melihat dari sisi pengaturannya itu seperti apa," ujar Made.
"Karena gini, karakteristik antara segmen Jalan Margomulyo, Margo Utomo, sampai Keraton, dan Panggung Krapyak itu beda. Karakteristik aktivitas ekonomi dan kegiatannya juga beda. Antara Margo Utomo sama Malioboro, itu sudah beda," lanjutnya.
Dalam manajemen plan kawasan Sumbu Filosofi, kata Made, memang ada pembatasan mobilisasi kendaraan bermotor. Namun karena perbedaan karakteristik tiap jalan tersebut, maka yang perlu diatur sejauh mana pembatasannya.
"Harapannya begitu (seluruh sumbu filosofi jadi kawasan rendah emisi), cuma kadarnya beda. Apalagi lihat kondisi lapangan itu kan beda. Misalnya dari Titik Nol ke Panggung Krapyak, itu sudah beda," papar Made.
Made mencontohkan, di kawasan Malioboro yang berisi pertokoan diperlukan akses bagi kendaraan loading barang. Maka cara yang diambil adalah memberi waktu khusus untuk mobil loading bisa melintas di Jalan Malioboro.
"Waktu uji coba dulu sudah kita atur. Sampai jam 9.00 itu boleh loading. Sekarang ini antara yang benar-benar loading dan yang bukan jadi bercampur. Kita jadi bingung. Nanti perlu sistem, bisa pakai tiket atau izin. Jadi jelas, ini kendaraan untuk apa dan ke mana," ujarnya.
"Kita juga bekerja sama dengan Pemerintah Kota dan Kabupaten Bantul. Di wilayah Panggung Krapyak ke selatan itu memang cukup sulit direkayasa," pungkasnya.


Komentar Terbanyak
Serangan Balik Tiyo Eks BEM UGM Usai Dituding Dekat dengan Tokoh PDIP
Eks Ketua BEM UGM Tiyo Sebut Pelapor Dirinya ke Polisi Lagi Caper ke Presiden
Sederet Jawaban Tiyo Ardiyanto soal Tudingan Aliansi BEM Bersatu