MBG Libur, Harga Ayam Hidup di Gunungkidul Anjlok Jadi Rp 17 Ribu/Kg

MBG Libur, Harga Ayam Hidup di Gunungkidul Anjlok Jadi Rp 17 Ribu/Kg

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Kamis, 02 Jul 2026 15:51 WIB
Kandang ayam broiler di Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (2/7/2026).
Kandang ayam broiler di Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (2/7/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Gunungkidul -

Harga ayam hidup di Gunungkidul mengalami penurunan cukup signifikan. Penurunan harga ini disebut-sebut imbas dari liburnya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Salah satu peternak ayam di Patuk, Gunungkidul, Erlin (40), mengungkapkan harga ayam mulai mengalami penurunan sejak sebelum libur tahun baru Islam 2026. Namun, saat mulai masuk sekolah, harga ayam kembali naik.

"Tapi sekarang libur sekolah harga ayamnya turun lagi sampai hari ini. Kalau dari sini (peternak) harganya Rp 17-18 ribu per kilogram," katanya kepada detikJogja di Patuk, Gunungkidul, Kamis (2/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terkait penyebabnya, Erlin menilai karena beberapa faktor. Salah satunya karena saat ini masih bulan Suro, di mana pada bulan tersebut orang Jawa tidak ada yang menggelar hajatan.

"Kalau Suro memang setiap tahun pasti terjadi penurunan harga ayam karena permintaan berkurang. Tapi saat ini ditambah karena MBG libur, karena kalau ada MBG memang permintaan cukup banyak," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Pria yang memelihara enam ribu ekor ayam ini mengaku situasi serupa memang kerap terjadi setiap tahunnya. Oleh sebab itu, Erlin memilih untuk tidak mengurangi jumlah ayam ternakannya.

Kandang ayam broiler di Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (2/7/2026).Kandang ayam broiler di Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (2/7/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

"Strateginya ya tetap ternak ayam, karena saya kan kerja sama sama PT (perusahaan). Kalau jumlah ayam yang diternakkan dikurangi sama saja, misal kandang saya kapasitas lima ribu ekor dan saya kurangi jumlahnya jadi tiga ribu ekor itu sama saja biaya operasionalnya, jadi mending jumlahnya tetap," ucapnya.

Di sisi lain, Erlin berharap harga ayam bisa kembali merangkak. Mengingat dengan banyaknya ayam yang terserap perusahaan maka pemasukannya juga meningkat.

"Kita hanya peternak jadi sebenarnya tidak terpengaruh juga, karena yang terpengaruh kan PT-nya. Tapi harapannya ya harga ayam naik, karena misal saya sapat dua ton, dan jika di harga tinggi saya jadi dapat pemasukan banyak, gitu," kata dia sambil tertawa.

Peternak ayam lainnya di Patuk, Gandung (52), mengatakan dirinya sudah menggeluti ternak ayam selama 26 tahun. Gandung juga menjalin kerja sama dengan perusahaan penyedia ayam.

Menurutnya, harga ayam per kilogram saat ini mengalami penurunan. Gandung mengungkapkan bahwa penurunan itu terjadi sebelum MBG libur.

"Sebelum MBG libur itu harganya sudah turun, mulai awal bulan Juni 2026 kalau tidak salah. Turunnya secara bertahap ya, seperti pekan ini harganya Rp 15 ribu per kilogram, kalau normalnya kan sekitar Rp 20 ribu," ucapnya.

Oleh sebab itu, Gandung menyebut jika penyebab harga ayam turun bukan semata-mata karena MBG libur. Menurutnya, penyebab harga turun karena hasil produksi tidak sebanding dengan permintaan pasar.

"Jadi turunnya harga ayam bukan karena MBG, mungkin karena banyak perusahaan baru lalu produksi DOC (Day Old Chick) lebih banyak dari sebelumnya. Nah, serapan di masyarakat kurang, jadinya barang menumpuk dan harganya turun," ujarnya.

Apalagi, kondisi seperti ini memang kerap terjadi setiap tahunnya, khususnya saat di bulan Suro. Sehingga Gandung tidak begitu kaget dengan harga ayam yang turun saat ini.

"Setiap tahun saat bulan Suro memang seperti ini, harganya turun, sudah dari tahun ke tahun seperti ini," kata pria yang memelihara belasan ribu ekor ayam ini.

Gandung mengaku tidak memiliki strategi khusus dalam menyikapi harga ayam yang turun.

"Peternak masih tetap memelihara ayam, kami kan peternak bukan PT jadi tidak terpengaruh. Tapi ya paling kalau saya hanya terpengaruh saat mengisi kandang saya, biasanya dua pekan sekali jadi tiga pekan sekali karena kan mengikuti dari perusahaannya juga," ujarnya.

Dilansir detikFinance, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan harga sejumlah bahan pokok saat ini berada di bawah harga eceran tertinggi (HET). Kondisi tersebut dipengaruhi oleh liburnya program MBG bertepatan dengan masa libur sekolah.

Budi mencontohkan harga telur ayam di Banyumas saat ini berada di level Rp 26.000 per kilogram (kg), lebih rendah dibandingkan HET sebesar Rp 30.000 per kg. Sementara harga daging ayam tercatat Rp 36.000 per kg, di bawah HET yang ditetapkan sebesar Rp 40.000 per kg.

"Telur itu kemarin harganya Rp 26.000, padahal itu HET-nya kan Rp 30.000 ya. Kemudian ayam, daging ayam itu Rp 36.000 HET-nya kan Rp 40.000. Memang salah satu faktornya MBG yang sekolah libur ini kan juga libur, jadi penyerapan menjadi berkurang," kata Budi saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (30/6).




(dil/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads