Peternak Gunungkidul Sambat Pakan Mahal Saat Telur Anjlok Imbas MBG Libur

Peternak Gunungkidul Sambat Pakan Mahal Saat Telur Anjlok Imbas MBG Libur

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Kamis, 02 Jul 2026 17:59 WIB
Peternak ayam petelur,  Joao Paulo Cardoso  di Siraman, Wonosari, Gunungkidul, Kamis (2/7/2026).
Peternak ayam petelur, Joao Paulo Cardoso di Siraman, Wonosari, Gunungkidul, Kamis (2/7/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Gunungkidul -

Peternak di Gunungkidul sambat soal mahalnya harga pakan di saat harga telur anjlok imbas dari liburnya program makan bergizi gratis (MBG).

Peternak ayam petelur di Gunungkidul, Joao Paulo Cardoso atau Joni (56) mengatakan fluktuasi harga telur sebenarnya wajar. Namun, menurut dia, program dari pemerintah seperti program keluarga harapan (PKH) dan MBG membuat harga di pasar menjadi tidak terkendali.

"Kalau situasi ini berlangsung 3-4 bulan lagi saya pun goyah. Ketika program MBG itu menggiurkan, para pemilik dapur atau pemilik yayasan berusaha membangun kandang sendiri baik ayam pedaging dan ayam petelur, entah itu BUMdes atau perorangan," kata Joni saat ditemui di rumahnya, Siraman, Wonosari, Gunungkidul, Kamis (2/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Joni mengatakan, banyaknya produsen ayam pedaging dan ayam petelur membuat stok telur menumpuk. Peternak seperti dirinya kini kesulitan menjual telur karena semakin banyak produsen telur.

"Nah sekarang kalau MBG libur, stok telur banyak, surplus. Karena mereka tadinya yang seharusnya ambil di peternak sekarang ambil sendiri. Bagitu MBG libur mau dikemanakan telur itu, ya sudah menumuk di pasar dan harganya pasti hancur-hancuran," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Joni menjelaskan bahwa turunnya harga telur saat ini terjadi secara bertahap sebelum MBG libur. Bahkan, harga telur sempat menyentuh belasan ribu rupiah per kilogram.

"Sebelum MBG libur sudah mulai turun secara bertahap, dari harga Rp 26 ribu, Rp 24 ribu, Rp 23 ribu, sampai Rp 19 ribu per kilogram. Jadi peternak ayam petelur bisa dikatakan siap gulung tikar kalau terus-terusan turun harganya," ucapnya.

Akan tetapi, Joni mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengeluarkan aturan terkait harga acuan pasar untuk telur.

"Kemarin pemerintah mengeluarkan harga acuan pasar yakni Rp 26.500 per kilogram. Itu pekan lalu, tapi kan tidak bisa secepat itu juga naiknya," katanya.

Meski harga telur saat ini belum bisa menyentuh Rp 26.500 per kilogram, Joni menyebut bahwa beberapa hari ini harga telur sudah merangkak naik.

"Dua hari terakhir ini sudah naik, hari ini baru sampai Rp 21,5 ribu perkilogram. Tapi di Jogja mungkin ada yang Rp 20 ribu per kilogram," ujarnya pria yang menggeluti ternak ayam petelur sejak tahun 2005 ini.

Pria yang juga menjadi pemasok telur ke beberapa supermarket di Jogja ini mengungkapkan, sembari menunggu harga telur normal, ia menerapkan sistem afkir. Yaitu memangkas jumlah ayam yang sudah tidak produktif atau sudah tidak bertelur.

"Kalau strategi saya pakai afkir, seperti saat ini saya hanya punya 2.000 ekor ayam karena dipangkas, untuk apa? Untuk bisa membeli pakan yang harganya naik," ucapnya.

Terlepas dari hal tersebut, Joni berharap pemerintah saat ini bisa mengatur mengatur stok Day Old Chick atau DOC. Di mana pemerintah bisa menghitung jumlah sebaran ayam untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat.

"Jadi dihitung sebaran ayam berapa juta ekor, jangan ditambah dan bibit (ayam) jangan membabi buta. Jadi berimbang produksi dan jumlah masyarakatnya. Selain itu, untuk pakan kasihlah HPP karena saat ini harga pakan gila-gilaan, bisa 3-4 kali naik salam satu bulan," katanya.
Joni juga saat ini tengah mengembangkan produksi telur omega 3 dengan label Lourba Jaya. Menurutnya, pasar telur omega 3 masih terbuka luas di Indonesia khususnya Jogja.

"Saya ini pasca COVID-19 mulai coba ke telur omega 3, 6 dan 9 karena pasarnya ada dan dijual Rp 35 ribu per kilogram juga tetap laku. Tapi ya telur biasa tetap jual, yang telur omega itu untuk selingan saja," ujarnya.

Dilansir detikFinance, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan harga sejumlah bahan pokok saat ini berada di bawah harga eceran tertinggi (HET). Kondisi tersebut dipengaruhi oleh liburnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) bertepatan dengan masa libur sekolah.

Budi mencontohkan harga telur ayam di Banyumas saat ini berada di level Rp 26.000 per kilogram (kg), lebih rendah dibandingkan HET sebesar Rp 30.000 per kg. Sementara harga daging ayam tercatat Rp 36.000 per kg, di bawah HET yang ditetapkan sebesar Rp 40.000 per kg.

"Telur itu kemarin harganya Rp 26.000, padahal itu HET-nya kan Rp 30.000 ya. Kemudian ayam, daging ayam itu Rp 36.000 HET-nya kan Rp 40.000. Memang salah satu faktornya MBG yang sekolah libur ini kan juga libur, jadi penyerapan menjadi berkurang," kata Budi saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (30/6/2026).




(dil/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads