Sejumlah peternak di Jogja mengeluhkan anjloknya harga ayam hingga telur beberapa waktu belakangan. Para peternak terancam gulung tikar jika harga serapan terus anjlok.
Peternak ayam petelur di Gunungkidul, Joao Paulo Cardoso atau Joni (56) mengatakan fluktuasi harga telur semakin tak terkendali karena program keluarga harapan (PKH) dan MBG. Dia mengaku terancam bangkrut jika harga terus anjlok.
"Kalau situasi ini berlangsung 3-4 bulan lagi saya pun goyah. Ketika program MBG itu menggiurkan, para pemilik dapur atau pemilik yayasan berusaha membangun kandang sendiri baik ayam pedaging dan ayam petelur, entah itu BUMdes atau perorangan," kata Joni saat ditemui di rumahnya, Siraman, Wonosari, Gunungkidul, Kamis (2/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan harga sejalan dengan berkurangnya permintaan pasar. Saat ini, peternak seperti dirinya kini kesulitan menjual telur karena semakin banyak produsen telur, dan terutama saat MBG libur.
"Nah sekarang kalau MBG libur, stok telur banyak, surplus. Karena mereka tadinya yang seharusnya ambil di peternak sekarang ambil sendiri. Bagitu MBG libur mau dikemanakan telur itu, ya sudah menumpuk di pasar dan harganya pasti hancur-hancuran," ujarnya.
"Sebelum MBG libur sudah mulai turun secara bertahap, dari harga Rp 26 ribu, Rp 24 ribu, Rp 23 ribu, sampai Rp 19 ribu per kilogram. Jadi peternak ayam petelur bisa dikatakan siap gulung tikar kalau terus-terusan turun harganya," ucapnya.
Harga Pakan Naik
Usahanya semakin berat karena harga pakan justru naik saat harga telur turun.
"Kalau strategi saya pakai afkir, seperti saat ini saya hanya punya 2.000 ekor ayam karena dipangkas, untuk apa? Untuk bisa membeli pakan yang harganya naik," ucapnya.
Joni berharap pemerintah saat ini bisa mengatur mengatur stok Day Old Chick atau DOC. Di mana pemerintah bisa menghitung jumlah sebaran ayam untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat.
Peternak ayam petelur, Joao Paulo Cardoso di Siraman, Wonosari, Gunungkidul, Kamis (2/7/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
"Jadi dihitung sebaran ayam berapa juta ekor, jangan ditambah dan bibit (ayam) jangan membabi buta. Jadi berimbang produksi dan jumlah masyarakatnya. Selain itu, untuk pakan kasihlah HPP karena saat ini harga pakan gila-gilaan, bisa 3-4 kali naik dalam satu bulan," katanya.
Harga Ayam Hidup Turun
Salah satu Salah satu peternak ayam di Patuk, Gunungkidul, Erlin (40), mengungkap jika penurunan harga ayam pedaging sudah terasa sejak awal Juni lalu. Harga sempat mengalami kenaikan dan kembali turun saat masa libur sekolah.
Saat ini, harga ayam hidup berada di kisaran Rp 15-18 ribu per kilogram dari harga normal Rp 20 ribu.
"Tapi sekarang libur sekolah harga ayamnya turun lagi sampai hari ini. Kalau dari sini (peternak) harganya Rp 17-18 ribu per kilogram," katanya kepada detikJogja di Patuk, Gunungkidul, Kamis (2/7/2026).
Dia menilai ada dua faktor yang menyebabkan harga turun. Pertama karena ayamnya tak terserap MBG saat libur sekolah. Selain itu, tak adanya orang menggelar hajatan juga dinilai membuat permintaan menurun.
"Kalau Suro memang setiap tahun pasti terjadi penurunan harga ayam karena permintaan berkurang. Tapi saat ini ditambah karena MBG libur, karena kalau ada MBG memang permintaan cukup banyak," ujarnya.
Harga Sudah Turun Sebelum Libur Sekolah
Peternak ayam lainnya , Gandung (52), mengungkapkan bahwa penurunan itu terjadi sebelum MBG libur. Dia justru menilai ada faktor lain yang menyebabkan harga ayam menurun.
"Sebelum MBG libur itu harganya sudah turun, mulai awal bulan Juni 2026 kalau tidak salah. Turunnya secara bertahap ya, seperti pekan ini harganya Rp 15 ribu per kilogram, kalau normalnya kan sekitar Rp 20 ribu," ucapnya.
Suasana pedagang ayam dan telur yang harga jualnya menurun di Pasar Beringharjo Jogja, Kamis (2/7/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja |
Menurutnya, penyebab harga turun karena hasil produksi tidak sebanding dengan permintaan pasar.
"Jadi turunnya harga ayam bukan karena MBG, mungkin karena banyak perusahaan baru lalu produksi DOC (Day Old Chick) lebih banyak dari sebelumnya. Nah, serapan di masyarakat kurang, jadinya barang menumpuk dan harganya turun," ujarnya.
Harga Ayam Kerap Turun Saat Suro
Apalagi, kondisi seperti ini memang kerap terjadi setiap tahunnya, khususnya saat di bulan Suro. Sehingga Gandung tidak begitu kaget dengan harga ayam yang turun saat ini.
"Setiap tahun saat bulan Suro memang seperti ini, harganya turun, sudah dari tahun ke tahun seperti ini," kata pria yang memelihara belasan ribu ekor ayam ini.
Gandung mengaku tidak memiliki strategi khusus dalam menyikapi harga ayam yang turun.
"Peternak masih tetap memelihara ayam, kami kan peternak bukan PT jadi tidak terpengaruh. Tapi ya paling kalau saya hanya terpengaruh saat mengisi kandang saya, biasanya dua pekan sekali jadi tiga pekan sekali karena kan mengikuti dari perusahaannya juga," ujarnya.
(afn/alg)



Komentar Terbanyak
Serangan Balik Tiyo Eks BEM UGM Usai Dituding Dekat dengan Tokoh PDIP
Pak Dukuh Tanam Padi di Pekarangan Pakai 840 Galon Bekas, Segini Hasil Panennya
Sederet Jawaban Tiyo Ardiyanto soal Tudingan Aliansi BEM Bersatu