Delapan orang menjadi korban dalam insiden jatuhnya helikopter Airbus H130 dengan nomor registrasi PK-CFX di kawasan hutan Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat (Kalbar), Kamis (16/4).
Setelah melalui proses panjang, seluruh korban tewas kini telah dievakuasi dan teridentifikasi. Operasi SAR pun resmi ditutup. Berikut sejumlah fakta mengenai tragedi jatuhnya helikopter di Sekadau.
Evakuasi hingga Identifikasi
Delapan korban kecelakaan helikopter berhasil dievakuasi dan dibawah ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Anton Soedjarwo Polda Kalimantan Barat, Pontianak untuk menjalani proses identifikasi pada hari Jumat (17/4). Suasana duka menyelimuti area rumah sakit saat sejumlah keluarga telah menanti dengan penuh harap sejak pagi hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala RS Bhayangkara Polda Kalbar, Kombes Pol dr. J. Ginting, memastikan bahwa proses identifikasi telah dilakukan maksimal dengan melibatkan tim Biddokkes dan empat dokter forensik.
"Tim identifikasi Rumah Sakit Bhayangkara dan Biddokkes sudah bekerja maksimal. Dari delapan penumpang helikopter yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak, seluruhnya sudah berhasil diidentifikasi," ujar Ginting.
Seiring selesainya proses pencarian dan evakuasi seluruh jenazah, Operasi SAR kemudian resmi ditutup pada pukul 14.35 WIB.
Daftar Nama Korban, Ada WNA Malaysia
Helikopter tersebut mengangkut delapan orang, yang terdiri dari dua kru penerbangan dan enam penumpang. Sebagian besar penumpang diketahui merupakan bagian dari KPN Corp atau KPN Plantations, termasuk jajaran petinggi perusahaan.
Berikut adalah daftar nama lengkap yang berhasil diidentifikasi:
- Capt. Marindra Wibowo (Pilot)
- Harun Arasyd (Co-pilot)
- Patrick Kee Chuan Peng (Penumpang, Warga Negara Malaysia)
- Victor Tan Keng Liam (Penumpang)
- Joko Catur Prasetyo (Penumpang)
- Charles Dominson Lakidang (Penumpang, Warga Kalimantan Barat)
- Fauzi Organta (Penumpang, Warga Kota Jambi)
- Sugito (Penumpang)
Meninjau Perkebunan Sawit
Helikopter yang mengalami nahas ini dioperasikan oleh maskapai penerbangan PT Matthew Air Nusantara. Sebelum kejadian, helikopter dijadwalkan tiba di helipad milik PT Graha Agro Nusantara yang berlokasi di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya pada pukul 08.50 WIB.
Sayangnya, perjalanan tersebut tidak pernah sampai tujuan karena helikopter dilaporkan hilang kontak sekitar pukul 08.39 WIB di wilayah Sekadau sebelum ditemukan hancur.
Helikopter tersebut digunakan untuk mengangkut penumpang dari kawasan perkebunan sawit menuju lokasi lain dalam satu grup perusahaan. Rute penerbangan tersebut juga disebut sudah rutin dilalui oleh pilot.
Kondisi Helikopter Baik, Tanpa Black Box
Meski berakhir dengan tragis, pihak operator menyatakan helikopter PK-CFX tidak mengalami kendala teknis sebelum mengudara. Perwakilan PT Matthew Air Nusantara, I Made Topan, menyebut tidak ditemukan masalah dari sisi mesin maupun kesiapan kru.
"Pada saat sebelum keberangkatan, helikopter dinyatakan layak," ungkapnya.
Penyebab pasti kecelakaan kini sepenuhnya berada di ranah investigasi pihak berwenang. Namun, penyelidikan dipastikan memiliki tantangan tersendiri. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebut helikopter PK-CFX tersebut rupanya tidak dilengkapi dengan black box (kotak hitam).
Investigasi lanjutan terkait pemicu jatuhnya pesawat ini akan tetap dilakukan secara menyeluruh dengan memanfaatkan data teknis lain dan berbagai temuan puing di lokasi kejadian.
Simak Video "Video Presiden Ghana Bentuk Timsus, Usut Kecelakaan Heli Tewaskan 2 Menteri"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
