MBG Jalan Setahun Lebih di Sanggau, Wabup Ungkap Angka Stunting Naik 21,82%

Kalimantan Barat

MBG Jalan Setahun Lebih di Sanggau, Wabup Ungkap Angka Stunting Naik 21,82%

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Selasa, 09 Jun 2026 15:20 WIB
Wakil Bupati Sanggau Susana Herpena.
Foto: Wakil Bupati Sanggau Susana Herpena (Dok. Istimewa)
Sanggau -

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan di Kabupaten Sanggau, Kalbar sejak 17 Februari 2025 belum menunjukkan dampak signifikan terhadap penurunan angka stunting. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sanggau, prevalensi stunting pada triwulan I 2026 justru mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya.

Data Dinkes Sanggau mencatat angka stunting pada 2024 berada di level 21,48 persen. Angka tersebut sempat turun menjadi 20,50 persen pada 2025. Namun pada triwulan I 2026, prevalensi stunting kembali naik menjadi 21,82 persen atau meningkat 1,32 persen dibanding tahun sebelumnya.

Angka stunting di Sanggau, Kalbar.Angka stunting di Sanggau, Kalbar. Foto: Dok. Dinas Kesehatan Sanggau

Wakil Bupati Sanggau Susana Herpena mengaku peningkatan angka stunting tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terlebih di tengah pelaksanaan program MBG yang salah satu tujuannya untuk memperbaiki gizi anak dan menekan kasus stunting.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di tahun 2025 kita mendapat prestasi dalam penanganan stunting dengan posisi kedua se-Kalimantan Barat setelah Kota Pontianak. Kalau kita lihat trennya di tahun 2026 ini ada peningkatan kasus, ini anomali menurut saya," kata Susana, Selasa (9/6/2026).

Susana yang juga menjabat Ketua Satgas Percepatan Program MBG Kabupaten Sanggau mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG maupun strategi penanganan stunting yang selama ini dijalankan.

"Kebetulan saya juga Ketua penanganan stunting. Nanti saya koordinasikan dan saya panggil OPD terkait untuk membahas persoalan stunting ini," ujarnya.

Menurut Susana, kenaikan angka stunting di tengah berlangsungnya program MBG menimbulkan sejumlah pertanyaan yang perlu dikaji lebih mendalam. Pemerintah daerah akan menelusuri berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi kondisi tersebut.

"Harusnya program MBG ini mampu menurunkan stunting, tapi faktanya justru angka stunting malah naik. Nanti kita evaluasi lagi," katanya.

Susana menduga salah satu persoalan yang perlu dievaluasi adalah penentuan sasaran program. Menurutnya, daerah dengan prevalensi stunting tinggi seharusnya menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG.

"Kami di daerah hanya mendukung kebijakan pemerintah pusat. Mestinya program MBG ini menyasar daerah yang angka stuntingnya tinggi, bukan di perkotaan dulu yang dibangun dapur-dapur MBG," ujarnya.

Susana menegaskan pemerintah daerah tetap mendukung penuh pelaksanaan program MBG. Namun, ia berharap hasil evaluasi nantinya dapat menjadi masukan agar program tersebut lebih efektif dalam menjawab persoalan gizi dan stunting di daerah.

Halaman 2 dari 2
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads