Guru Biologi SMA Negeri 2 Palangka Raya, Helita, merupakan guru pendamping tiga siswa yang meraih medali emas World Invention Creativity (WICO) di Korea Selatan pada 2019. Langkah risetnya tidak berhenti.
Helita terus menggali berbagai tanaman obat tradisional Kalimantan Tengah dengan pendekatan ilmiah. Fokus utamanya adalah membuktikan secara sains soal khasiat tanaman yang selama ini diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dayak.
Ia menjelaskan tanaman yang dulu disebut sebagai bajakah tunggal, kini mengarah pada identifikasi jenis yang lebih spesifik, yakni bajakah hatue. Menurutnya, penelitian yang dilakukan bukan menemukan tanaman baru, melainkan mengeksplorasi dan membuktikan secara ilmiah pengetahuan lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak menemukan tanaman baru. Yang saya lakukan adalah menggali dan mengeksplorasi kearifan lokal masyarakat Kalimantan Tengah, lalu membuktikannya secara ilmiah melalui penelitian," ujar Helita kepada detikKalimantan, Rabu (1/7/2026).
Helita menjelaskan bajakah hatue yang ditelitinya sejak awal merupakan jenis yang secara turun-temurun dipercaya masyarakat Dayak untuk mengatasi penyakit yang dahulu dikenal sebagai baha, yakni bisul berukuran besar.
Dalam perkembangan ilmu kedokteran modern, kondisi tersebut dipahami sebagai pertumbuhan sel yang tidak terkendali atau kanker. Ia juga meluruskan anggapan masyarakat yang kerap menyamakan seluruh tanaman bajakah. Menurutnya, setiap jenis memiliki manfaat yang berbeda.
"Ada bajakah kalalawit yang biasa digunakan masyarakat untuk membantu menurunkan gula darah, ada juga bajakah putih dengan manfaat yang berbeda. Sementara bajakah hatue memang sejak dahulu digunakan masyarakat untuk penyakit yang kini dipahami sebagai kanker," jelasnya.
Untuk diketahui, saat akar bajakah booming pada 2019, banyak yang penasaran dengan akar bajakah tunggal yang diteliti Helita dan tiga siswanya. Termasuk Koordinator Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), dr Danang Ardiyanto.
Menurut dr Danang, tanaman Bajakah memiliki banyak jenis. Seperti bajakah bahenda yaitu akar kuning, bajakah kalalawit yaitu gambir, bajakah latak kambing yang termasuk famili Menispermaceae, dan jenis bajakah lainnya.
"Dari diskusi dengan pakar tanaman obat, masih rancu nama tanaman (yang diteliti siswa), karena ada beberapa jenis tanaman bajakah. Entah yang dipakai pada penelitian tersebut jenis bajakah yang mana. Mungkin sebagai hasil etnomedicine saja," kata dr Danang pada 2019.
Tanaman Obat Lainnya
Tidak hanya berfokus pada bajakah, Helita kini aktif menelusuri berbagai tanaman obat dari sejumlah daerah di Kalimantan Tengah. Dari Kabupaten Kapuas misalnya, ia menemukan pemanfaatan kulit pohon sentul atau kecapi sebagai obat tradisional untuk wasir atau hemoroid. Sementara itu di Kabupaten Katingan, masyarakat menggunakan jenis kulit kayu berbeda dengan tujuan yang sama. Dua tanaman tersebut kemudian dikombinasikan dan diuji secara laboratorium untuk mengetahui kandungan senyawa aktifnya.
"Hasil uji laboratorium menunjukkan kandungan yang sangat baik. Ketika kami mencoba secara terbatas pada penderita hemoroid, hasilnya cukup menggembirakan. Keluhan pendarahan yang biasanya berlangsung beberapa hari dapat berhenti lebih cepat. Tentu temuan ini masih perlu penelitian lebih lanjut agar manfaat dan keamanannya dapat dipastikan secara ilmiah," ungkapnya.
Seluruh penelitian dilakukan bersama para siswa melalui kelompok riset yang dibentuknya. Helita berharap generasi muda tidak hanya mengenal kekayaan hayati Kalimantan Tengah, tetapi juga mampu mengembangkannya melalui penelitian berbasis sains.
"Kalimantan Tengah memiliki kekayaan kearifan lokal yang luar biasa. Tugas kami adalah menggali pengetahuan itu, membuktikannya secara ilmiah, sehingga manfaatnya bisa dipertanggungjawabkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya," pungkas Helita.
(sun/des)
