Leluhur Dayak Jadikan Hutan Sebagai Apotek, Tahu Bajakah yang Obat dan Bukan

Leluhur Dayak Jadikan Hutan Sebagai Apotek, Tahu Bajakah yang Obat dan Bukan

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Rabu, 01 Jul 2026 19:30 WIB
Tokoh Adat Dayak Tomun, Martin Kukung
Tokoh Adat Dayak Tomun, Martin Kukung (kiri)/Foto: Istimewa
Pangkalan Bun -

Di balik popularitas akar bajakah sebagai tanaman herbal, ada kisah panjang tentang pengetahuan masyarakat adat Dayak yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Jauh sebelum menjadi bahan penelitian ilmiah dan diburu masyarakat, bajakah telah menjadi bagian dari kehidupan suku Dayak sebagai obat tradisional dari hutan.

Tokoh Adat Dayak Tomun, Martin Kukung, mengatakan masyarakat Dayak sejak dahulu memandang hutan sebagai sumber kehidupan sekaligus 'apotek alami'. Berbagai jenis tanaman obat, termasuk bajakah, dimanfaatkan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

"Bagi masyarakat Dayak, bajakah bukan tanaman yang baru dikenal. Sejak nenek moyang kami, tanaman ini sudah digunakan sebagai ramuan tradisional. Pengetahuan itu diwariskan secara lisan dari orang tua kepada anak cucunya," ujar Martin kepada detikKalimantan, Rabu (1/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Pengelola Sekolah Adat Basangiang di Pangkalan Bun tersebut, masyarakat adat memiliki cara tersendiri dalam mengenali jenis-jenis bajakah. Tidak semua bajakah digunakan sebagai obat karena setiap jenis memiliki karakteristik dan manfaat yang berbeda.

"Orang-orang tua dulu sudah mengetahui mana bajakah yang bisa dimanfaatkan sebagai obat dan mana yang tidak. Itu bukan pengetahuan yang didapat dalam sehari, tetapi hasil pengalaman panjang hidup berdampingan dengan hutan," katanya.

Martin menjelaskan bagian batang maupun akar bajakah biasanya dipotong secukupnya, dibersihkan, lalu direbus hingga menghasilkan air berwarna kemerahan yang diminum sebagai ramuan tradisional. Masyarakat percaya rebusan tersebut membantu menjaga kebugaran tubuh dan mengatasi berbagai keluhan kesehatan, berdasarkan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Namun, ia menegaskan masyarakat Dayak juga memiliki aturan adat dalam memanfaatkan tanaman obat. Bajakah tidak boleh diambil secara berlebihan agar tetap lestari di habitatnya.

"Kami diajarkan mengambil seperlunya saja, jangan merusak tanaman induknya. Kalau hutan rusak dan bajakah habis diambil, bukan hanya tanamannya yang hilang, tetapi juga pengetahuan leluhur yang ikut lenyap," tegasnya.

Nama bajakah mulai menjadi perhatian dunia pada 2019, setelah penelitian tiga pelajar SMA Negeri 2 Palangka Raya meraih penghargaan internasional. Sejak itu, permintaan terhadap tanaman tersebut meningkat pesat dan memicu berbagai penelitian mengenai kandungan senyawa aktifnya.

Meski demikian, Martin mengingatkan agar masyarakat tidak hanya melihat bajakah sebagai komoditas bernilai ekonomi. Baginya, tanaman tersebut merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Dayak yang harus dihormati.

"Kami senang kalau ilmu leluhur mulai dikenal dan diteliti secara ilmiah. Tetapi yang lebih penting adalah menjaga hutannya. Sebab selama hutan tetap lestari, pengetahuan adat dan tanaman obat seperti bajakah akan tetap hidup untuk generasi berikutnya," pungkasnya.

Di tengah berkembangnya penelitian modern, kisah bajakah menjadi bukti bahwa pengetahuan tradisional masyarakat adat menyimpan potensi besar bagi dunia kesehatan. Namun, pelestarian hutan dan penghormatan terhadap kearifan lokal tetap menjadi kunci agar warisan tersebut tidak hilang ditelan eksploitasi zaman.




(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads