Bajakah Dayak Bukan Sekadar Obat, Air dari Akarnya Jaga Stamina

Bajakah Dayak Bukan Sekadar Obat, Air dari Akarnya Jaga Stamina

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Kamis, 02 Jul 2026 18:00 WIB
Tokoh Adat Dayak Tomun, Martin Kukung
Tokoh Adat Dayak Tomun, Martin Kukung (kiri)/Foto: Istimewa
Pangkalan Bun -

Bagi masyarakat Dayak Tomun di Kalimantan, bajakah yang dikenal dengan sebutan akar longkur telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari sumber air alami saat berburu, hingga ramuan obat tradisional yang diwariskan turun-temurun.

Berbeda dengan anggapan banyak orang, bajakah bukan tanaman budidaya maupun tanaman tradisional pada umumnya. Bajakah merupakan tanaman endemik Kalimantan yang tumbuh liar di hutan-hutan, baik di dataran rendah maupun kawasan perbukitan.

Di setiap sub-suku Dayak, bajakah memiliki sebutan yang berbeda. Bagi masyarakat Dayak Tomun, tanaman tersebut dikenal sebagai akar longkur, yang terdiri dari beberapa jenis dengan warna merah dan kekuningan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam kehidupan masyarakat adat, akar longkur memiliki fungsi yang sangat penting, terutama saat berburu di pedalaman hutan. Air yang tersimpan di dalam batang atau akarnya menjadi sumber minuman alami yang dipercaya mampu menjaga stamina. Dulu seringkali digunakan warga dayak untuk berburu di hutan," ungkap tokoh adat Dayak Tomun, Martin Kukung, saat ditemui detikKalimantan di rumahnya, di Pangkalan Lima, Kamis (2/7/2026).

Ia menjelaskan air dari akar longkur sangat jernih, tidak berasa dan tidak berbau. Cara meminumnya cukup dengan memotong akar tersebut, lalu airnya langsung diminum.

"Namun air itu tidak bisa disimpan terlalu lama karena akan cepat basi dan berbau," imbuhnya.

Selain dimanfaatkan sebagai pelepas dahaga alami, bajakah juga telah lama digunakan sebagai obat tradisional. Berdasarkan pengalaman yang diwariskan para leluhur, akar bajakah direbus untuk diminum sebagai ramuan yang dipercaya membantu mengatasi disentri serta menyembuhkan luka dalam.

"Ya paling bagus untuk disentri (mencret) dan menyembuhkan luka dalam," ujarnya.

Pengetahuan tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Dayak dalam memanfaatkan kekayaan alam tanpa merusaknya.

"Masyarakat Dayak tidak memiliki filosofi khusus terhadap akar bajakah. Namun, mereka tetap memegang teguh tradisi leluhur setiap kali mengambil tanaman obat dari hutan," ujarnya.

Sebelum memotong bajakah atau tumbuhan obat lainnya, masyarakat adat terlebih dahulu memohon doa atau meminta izin kepada alam semesta sebagai bentuk penghormatan terhadap alam yang telah menyediakan sumber kehidupan.

Tradisi itu menjadi pengingat bahwa bagi masyarakat Dayak, hutan bukan sekadar tempat mencari hasil alam, melainkan ruang hidup yang harus dihormati dan dijaga.
"Karena itulah, bajakah tidak hanya dipandang sebagai tanaman berkhasiat, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya yang menyatu dengan kehidupan masyarakat adat Kalimantan," pungkasnya.




(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads