Keren! Siswi SMK Kaltara Suarakan Pesan Jaga Alam Punan Batu Lewat Diorama

Keren! Siswi SMK Kaltara Suarakan Pesan Jaga Alam Punan Batu Lewat Diorama

Oktavian Balang - detikKalimantan
Selasa, 05 Mei 2026 14:00 WIB
Diorama bertajuk Fragmen Kehidupan Masyarakat Punan Batu Benau karya siswi SMKN 2 Tanjung Selor Anggun Shafa.
Diorama bertajuk Fragmen Kehidupan Masyarakat Punan Batu Benau karya siswi SMKN 2 Tanjung Selor Anggun Shafa. Foto: Dok. Istimewa
Tanjung Selor -

Kepedulian terhadap kelestarian alam dan eksistensi masyarakat adat kini makin nyaring disuarakan oleh Generasi Z Di Tanjung Selor, Kalimantan Utara (Kaltara), seorang siswi SMKN 2 Tanjung Selor bernama Anggun Shafa menyuarakan pesan tersebut melalui sebuah karya seni diorama yang memukau.

Karya kriya kontemporer berkonsep mix-media itu diberi judul 'Fragmen Kehidupan Masyarakat Punan Batu Benau'. Melalui miniatur detail, Anggun memotret kehidupan Suku Punan Batu di wilayah Sajau, Kabupaten Bulungan, yang dikenal sebagai salah satu kelompok pemburu-peramu (hunter-gatherers) otentik terakhir di dunia.

"Menurut Anggun, kehidupan masyarakat Punan Batu Benau sangat menarik dan unik. Mereka diyakini sebagai salah satu suku tertua di Kalimantan yang masih hidup sangat dekat dengan alam," ujar Anggun, Senin (5/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski belum pernah berkunjung langsung ke pedalaman hutan Sajau dan hanya melakukan riset melalui tayangan video, namun Anggun mengaku sangat kagum

"Saya kagum dengan Suku Punan Batu karena masih konsisten menjaga tradisi, identitas, serta kekompakan kelompoknya tanpa terpengaruh dunia luar," bebernya.

Diorama edukatif ini dirampungkan Anggun dalam waktu sekitar 7 jam. Untuk menciptakan representasi alam yang otentik, ia memanfaatkan material mentah organik dan limbah sekitar.

"Ranting pucuk merah kering, batang pakis, kulit kayu, buah cemara, spons cuci piring bekas, hingga serabut kelapa disulap menjadi hutan, rumah, dan perkakas mini," rincinya.

Air terjun dan sungainya dibuat menggunakan cat waterproof. Sementara figur manusianya dibentuk dari clay (tanah liat) berlapis pakaian dari kulit pohon kering asli.

"Pesan tersirat karya ini adalah bahwa kita bisa belajar dari kehidupan masyarakat Punan Batu yang mampu hidup secara berkelanjutan (lsustainability dengan memanfaatkan sumber daya alam. Tugas kita sebagai manusia adalah menjaga alam itu, bukan merusaknya. Dengan begitu, kita bisa tumbuh bersama dan saling menghidupi," tutur Anggun.

Pembuatan karya seni ini pada awalnya dikhususkan untuk mengikuti perlombaan. Guru pendamping sekaligus pengampu mata pelajaran Muatan Lokal Potensi Daerah di SMKN 2 Tanjung Selor, Siska Astari Dewi memberikan apresiasi tinggi atas kepekaan anak didiknya tersebut terhadap isu-isu kebudayaan pedalaman.

"Saya sangat mengapresiasi apabila Gen Z peduli membahas isu Masyarakat Adat. Gen Z harus kritis menyuarakan pesan melalui karya dan apa pun yang bisa dilakukan," ungkap Siska.

Menurut Siska, pembuatan diorama sejalan dengan materi pembelajaran di sekolah yang rutin mengenalkan ragam budaya lokal seperti Dayak, Bulungan, dan Tidung. Lewat karya kriya kontemporer ini, siswa diajak menyelami isu masa kini yang terjadi di sekitar mereka. Ke depannya, karya diorama ini akan disimpan dan didokumentasikan oleh pihak sekolah.

"Karya ini tidak semata-mata dibuat agar 'bagus dilihat', tapi ada pesan yang ingin disampaikan sebagai media edukasi dan dokumentasi budaya. Dari segi teknik, Anggun juga sudah cukup memahami detail komponen karya ini, sehingga pesannya hidup," puji Siska.

"Harapannya, miniatur epik ini bisa menjadi media pembelajaran langsung bagi siswa-siswi lain di SMKN 2 Tanjung Selor agar lebih mengenal dan meneladani kearifan lokal Suku Punan Batu," pungkasnya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video Ricuh Demo Antipemerintah di Peru, Gen Z Bentrok dengan Polisi"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads