Alah Tedak, Tarian Cahaya Tato Dayak di Alam Baka

Kalimantan Barat

Alah Tedak, Tarian Cahaya Tato Dayak di Alam Baka

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Sabtu, 20 Jun 2026 13:06 WIB
Tari Alah Tedak yang diangkat dari filosofi tato bagi suku Dayak Kayaan, Kalbar.
Peserta sanggar Givakru membawakan Alah Tedak. Foto: dok Media Center Kota Palangka Raya/Gusti
Kapuas Hulu -

Bagi masyarakat Dayak Kayaan Mendalam di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tato bukan sekadar senian. Tradisi yang dikenal dengan sebutan tedak ini adalah identitas budaya, simbol status sosial, dan bagian dari kepercayaan mereka yang diwariskan turun-temurun, hingga diangkat menjadi karya tari.

Karya tari ini berjudul Alah Tedak, yang mengisahkan filosofi tato perempuan Dayak Kayaan Mendalam sebagai cahaya penerang bagi perjalanan jiwa menuju alam baka. Dalam publikasi berjudul "Alah Tedak" Tatto sebagai Simbol Cahaya bagi Perempuan Dayak Kayaan Mendalam, tarian ini lahir dari pengamatan langsung terhadap generasi terakhir perempuan bertato Dayak Kayaan Mendalam di Kalimantan Barat.

Tedak sebagai Identitas Perempuan Dayak Kayaan Mendalam

Bagi masyarakat Dayak Kayaan Mendalam, tato atau tedak secara tradisional dikhususkan untuk perempuan, terutama perempuan keturunan bangsawan. Selain untuk mempercantik diri, tato juga menjadi tanda status sosial dalam masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepercayaan masyarakat setempat menyebutkan bahwa tato akan bercahaya setelah pemiliknya meninggal dunia. Cahaya tersebut dipercaya menjadi penerang perjalanan roh menuju Apo Lagaan sebelum mencapai Telaang Julaan atau surga. Karena itulah tato punya tempat spesial dalam kehidupan masyarakat Dayak Kayaan Mendalam.

Proses pembuatan tato juga tidak dilakukan sembarangan. Sebelum dirajah, seseorang harus menyediakan tibah atau mahar yang disepakati dengan penato. Mahar bisa berupa manik-manik, gelang, kalung, atau bahkan mandau.

Tato dibuat menggunakan teknik hand-tapping atau metode ketuk dengan dua alat pemukul kayu dan tinta dari arang damar yang dicampur minyak tradisional. Tinta hitam dari arang inilah yang dipercaya kelak berubah menjadi cahaya di alam kematian.

Motif Tedak

Tato bagi suku Dayak adalah yang sakral berhubungan erat dengan beberapa kejadian.Tato bagi suku Dayak adalah yang sakral berhubungan erat dengan beberapa kejadian. Foto: Rengga Sancaya

Ada banyak motif tedak yang masing-masing mengandung filosofi tersendiri. Motif Usung Tingaang misalnya, berbentuk paruh burung enggang yang melambangkan kemuliaan bagi perempuan bangsawan.

Sementara Kajaa' Lejo yang menyerupai telapak kaki harimau adalah simbol keberanian dan kekuatan. Selain itu terdapat motif lain yang juga dapat digunakan oleh perempuan biasa, seperti:

  • Usung Tuva', berbentuk kurva menyerupai angka delapan yang melambangkan kekuatan jiwa
  • Usung Iraang, berbentuk piramida yang melambangkan semangat tinggi
  • Tena'in Ba'ung, motif melingkar sebagai simbol kesiapan berkeluarga
  • Iko', motif bergelombang yang termasuk dari ragam hias tradisional Dayak Kayaan Mendalam

Diterjemahkan Menjadi Sebuah Pertunjukan Tari

Tari Alah Tedak yang diangkat dari filosofi tato bagi suku Dayak Kayaan, Kalbar.Pertunjukan Alah Tedak saat memperingati hari Pahlawan di UPT Taman Budaya Kota Palangka Raya, Senin (10/11/2025). Foto: dok Media Center Kota Palangka Raya/Gusti

Karya tari Alah Tedak menggunakan delapan penari perempuan. Jumlah tersebut dipilih karena ada delapan tingkatan dunia dalam kepercayaan Dayak Kayaan Mendalam yang berkaitan dengan perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga meninggal dunia.

Proses kreatif pertunjukan berlangsung sekitar tiga bulan dan menggunakan tipe tari studi dramatik. Gerakan tari dikembangkan dari motif gerak dasar Dayak Kayaan seperti Luh, Ngayang, Pivak, Seguk, Sembib, dan Soongpak.

Tarian diiringi musik pengiring dari sape', tung atau genggong, serta vokal talimaa' khas Dayak Kayaan Mendalam. Para penari menggunakan busana bernuansa kuning muda dan cokelat dengan motif bunga. Penari juga dilengkapi body painting tato pada tangan, kaki, dan paha untuk memperkuat karakter perempuan bertato yang menjadi tema utama pertunjukan.

Empat Babak yang Menceritakan Perjalanan Tato

Pertunjukan Alah Tedak dibagi menjadi empat bagian utama. Bagian pertama berupa pengenalan yang menggambarkan suasana proses menato. Di bagian ini akan ditampilkan unsur air, pewarna merah, dan proses hand-tapping.

Babak kedua menampilkan prosesi pembuatan tato. Tibah atau mahar dipertunjukkan melalui penari yang membawa mandau di atas kepala. Penari juga akan membalas bunyi ketukan alat tato yang berbunyi "tuk-tuk-tuk" sebagaimana proses pembuatan tato tradisional dilakukan.

Babak berikutnya menggambarkan kebanggaan perempuan terhadap tato yang dimilikinya. Berbagai motif tato diperlihatkan dengan pola lantai berbentuk segitiga, lingkaran, angka delapan, dan zig-zag yang terinspirasi dari motif Usung Iraang, Tena'in Ba'ung, Usung Tuva', dan Iko'.

Sementara pada bagian akhir pertunjukan, penari menunjukkan keyakinan bahwa tato akan menjadi cahaya penerang di alam baka. Motif Usung Tingaang ditarikan dengan gerakan yang menyerupai burung enggang yang mengepakkan sayap, sebelum ditutup dengan simbol cahaya yang menyertai perjalanan roh menuju kehidupan setelah kematian.

Itulah Alah Tedak, tarian ini juga menjadi salah satu upaya untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya Dayak Kayaan Mendalam kepada masyarakat luas. Melalui pertunjukan ini, tato tradisional Dayak itu dikenalkan sebagai identitas masyarakat Daya Kayaan Mendalam yang punya filosofi tentang fase kehidupan.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Belajar Menarikan Tarian Khas dari Sanggar Seni di Singkawang"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads