Kaltim Punya Mangrove Langka, tapi Terancam Punah karena Alih Fungsi Lahan

Kaltim Punya Mangrove Langka, tapi Terancam Punah karena Alih Fungsi Lahan

Devita Savitri - detikKalimantan
Minggu, 24 Mei 2026 19:00 WIB
Camptostemon philippinensis, mangrove langka asal Indonesia yang kini terancam punah.
Foto: BRIN
Jakarta -

Di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, terdapat jenis mangrove bernama Camptostemon philippinensis yang menjadi habitat bagi hewan endemik Kalimantan, bekantan. Namun, tanaman itu kini masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) atau tanaman yang terancam punah.

Dikutip dari detikEdu, keberadaan mangrove langka ini diketahui dari hasil penelitian yang didanai BRIN dan LPDP melalui skema Pendanaan Ekspedisi dan Eksplorasi pada 2022 serta RIIM Batch II pada 2023-2024. Populasi C. philippinensis sangat terbatas dan kemungkinan punahnya tinggi meski tersebar di beberapa lokasi.

Tim peneliti awalnya melakukan eksplorasi di Kalimantan untuk mengamati dan mendata jenis-jenis mangrove. Penelurusan dilakukan sepanjang 200 kilometer dari Teluk Balikpapan, Sepaku, hingga Kota Balikpapan. C philippinensis ditemukan tim di Pulau Kowangan dan Pantai Lango, Kabupaten Penajam Paser Utara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Survei dilanjutkan dengan penelusuran untuk mengetahui jumlah individu mangrove, tahap pertumbuhan, dan distribusi spesies di habitatnya. Hasilnya, ditemukan 527 individu C. philippinensis di kawasan Pantai Lango, dengan rincian 452 individu semaian atau anakan muda, 49 pohon dewasa, dan 26 pancang.

"Keberadaan C. philippinensis di Teluk Balikpapan menunjukkan kawasan ini memiliki nilai biodiversitas yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian serius dalam upaya konservasi," jelas Peneliti Pusat Riset Botani terapan BRIN Istiana Prihatini dikutip dari laman resmi BRIN.

Dijelaskan juga bahwa habitat C. philippinensis di Teluk Balikpapan berada di zona mangrove lapis kedua. Tanaman ini tumbuh di tekstur tanah yang dominan berpasir dan genangan air yang terjadi saat pasang.

Istiana menjelaskan adanya ancaman serius yang bisa mengakibatkan C. philippinensis semakin langka, yakni dari aktivitas manusia. Aktivitas tersebut mencakup alih fungsi lahan, pencemaran lingkungan, pembalakan liar, hingga pembangunan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Spesies ini juga ditemukan di dekat permukiman penduduk, sehingga aktivitas manusia sangat berdampak pada tanaman tersebut. Kerusakan kecil dapat berimbas pada meningkatkan potensi kepunahan. Dampaknya bisa merembet hingga ke bekantan (Nasalis larvatus) yang diketahui juga memanfaatkan tanaman tersebut sebagai rumah.

BRIN menilai perlu ada langkah konservasi yang lebih kuat. BRIN merekomendasikan upaya pelindungan seperti restorasi kawasan mangrove yang rusak, penyimpanan material genetik, hingga pengembangan konservasi ex-situ dengan memperbanyak tanaman. Selain itu, diperlukan penelitian lanjutan dari studi utama ini.

Penelitian ini sendiri serta penelitian lanjutannya dinilai penting oleh BRIN karena bertujuan untuk mendukung strategi konservasi jangka panjang di Indonesia.

Baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Di balik birunya laut Maratua, sang raksasa lembut menjaga keseimbangan samudra."
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads