Viral Induk-Anak Orang Utan Kurus Menyedihkan, Ini Cerita Selengkapnya

Viral Induk-Anak Orang Utan Kurus Menyedihkan, Ini Cerita Selengkapnya

Riani Rahayu - detikKalimantan
Senin, 25 Mei 2026 21:43 WIB
Orang Utan Mauliyan bersama anaknya Ariandi
Kondisi induk orang utan yang viral melintas jalan hauling dan sudah dievakuasi pada 2023/Foto: Istimewa (dok BKSDA Kaltim)
Kutai Timur -

Video orang utan bersama bayinya yang sangat kurus melintas di jalan hauling tambang kembali viral di media sosial. Satwa endemik Kalimantan itu diketahui sempat ditemukan dalam kondisi malnutrisi dan dehidrasi di kawasan tambang batu bara di Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim).

Berdasarkan penelusuran Jaringan Penulis Alam (JPA), lokasi penemuan berada di perbatasan area konsesi tambang PT Ganda Alam Makmur dan PT Indexim di lanskap Karaitan, kawasan yang selama ini dikenal sebagai habitat orang utan di Kutim. Lanskap tersebut kini dikepung aktivitas pertambangan, perkebunan sawit hingga Hutan Tanaman Industri (HTI), yang menyisakan kantong-kantong hutan kecil yang tidak lagi saling terhubung.

Manajer Pusat Rehabilitasi Orang Utan Centre for Orangutan Protection (COP), Widi Nursanti, mengatakan tim rescue menemukan induk orang utan yang diberi nama Mauliyan bersama anaknya Ariandi di kawasan hutan yang telah beralih fungsi menjadi area pertambangan. Kondisi keduanya saat ditemukan sangat memprihatinkan karena minim sumber pakan di sekitar lokasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tim rescue kami menemukan Mauliyan dan anaknya Ariandi di kawasan hutan yang beralih fungsi menjadi pertambangan dan kondisinya saat itu cukup memprihatinkan," ujar Widi, Senin (25/5/2026).

Ia menyebut Mauliyan mengalami malnutrisi berat dengan kondisi tubuh yang sangat kurus. Saat proses pemeriksaan awal, tim medis juga menemukan induk orang utan itu mengalami dehidrasi saat masih aktif menyusui anaknya.

"Body score Mauliyan saat itu di bawah dua dari nilai maksimal lima. Tulangnya terlihat jelas, kulitnya sangat kering, dan dia masih menyusui anaknya yang saat itu masih usia sekitar 3 tahun," katanya.

Widi menjelaskan kondisi tersebut membuat tim rescue memutuskan melakukan evakuasi ke pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) milik COP di Kabupaten Berau. Saat pemeriksaan, produksi ASI Mauliyan juga disebut sangat sedikit sehingga dikhawatirkan memengaruhi kondisi Ariandi yang masih bergantung pada induknya.

"Ketika diperiksa saat evakuasi, ASI yang keluar sangat sedikit. Padahal Ariandi masih membutuhkan perawatan dari induknya," ungkapnya.

Setelah dibawa ke pusat rehabilitasi, kondisi Mauliyan sempat kembali menurun. Widi mengatakan beberapa hari setelah tiba di klinik, induk orang utan itu mengalami gejala hipoglikemia atau kadar gula darah rendah akibat malnutrisi dan aktivitas menyusui.

"Setelah lima hari di klinik, kondisi fisiknya drop dan dia didiagnosis mengalami hipoglikemia sehingga harus mendapatkan penanganan suportif," jelasnya.

Ia mengatakan proses rehabilitasi kemudian difokuskan untuk memulihkan kondisi fisik Mauliyan, mulai dari peningkatan berat badan hingga pemulihan kondisi kulit dan rambutnya. Selama enam bulan rehabilitasi, perilaku liar Mauliyan juga disebut tetap terjaga meski mulai terbiasa dengan keberadaan perawat satwa.

"Insting liarnya masih sangat kuat dan naluri keibuannya juga tetap terlihat. Dia selalu berada di dekat Ariandi dan terus melindungi anaknya," tuturnya.

Sementara itu, paramedis COP, Miftachul Hanifah, mengatakan kondisi Mauliyan saat pertama tiba di pusat rehabilitasi memang sangat memprihatinkan. Selain malnutrisi dan dehidrasi, menyusui disebut memperparah kondisi fisik orang utan tersebut.

"Mauliyan di-rescue dalam kondisi dehidrasi, malnutrisi, dan masih menyusui anaknya sehingga kondisinya semakin berat," kata Hanifah.

Ia menjelaskan Mauliyan bahkan sempat pingsan akibat kadar gula darah yang sangat rendah. Tim medis kemudian memberikan terapi cairan dan tambahan nutrisi untuk memulihkan kondisi tubuhnya.

"Mauliyan sempat pingsan dari pagi sampai siang dan kami melakukan terapi cairan serta tambahan madu dan gula untuk membantu pemulihan," ujarnya.

Selama proses rehabilitasi, Mauliyan mendapat perlakuan khusus berbeda dibanding orang utan lainnya. Tim medis memberikan porsi makan dua kali lebih besar, tambahan alpukat, susu kedelai, hingga cairan elektrolit rutin untuk mempercepat pemulihan nutrisi.

"Selama menjalani rehabilitasi, berat badan Mauliyan meningkat signifikan. Dari awalnya hanya sekitar 19 kilogram, berat tubuhnya bertambah menjadi 34 kilogram pada Maret 2024 saat akan dilepasliarkan. Kondisi kulit membaik, rambut mulai tumbuh kembali, dan perilaku liarnya tetap terjaga," ungkapnya.

Orang Utan Mauliyan bersama anaknya AriandiKondisi terbaru induk orang utan dan anaknya setelah mendapat perawatan dan dilepasliarkan kembali ke alam serta dalam pantauan/ Foto: Istimewa (dok BKSDA Kaltim)

Terpisah, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, mengatakan dua individu orang utan itu dievakuasi pada 2023 dari kawasan tambang batu bara di Kutai Timur. Berdasarkan hasil identifikasi tim medis, keduanya memang mengalami malnutrisi akibat keterbatasan sumber pakan di habitatnya.

"Dua individu orang utan itu mengalami malnutrisi sehingga perlu dilakukan peningkatan nutrisi dan pemulihan kesehatan," kata Ari.

Ia menegaskan rehabilitasi yang dilakukan lebih difokuskan pada pemulihan kondisi fisik, bukan perilaku. Menurutnya, insting liar Mauliyan dan Ariandi masih sangat baik sehingga tidak memerlukan rehabilitasi perilaku terlalu lama.

"Perilakunya masih liar sehingga yang dilakukan lebih kepada rehabilitasi kesehatan dan peningkatan nutrisinya," jelasnya.

Setelah kondisi keduanya membaik, Mauliyan dan Ariandi dilepasliarkan kembali ke kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur pada Maret 2024. Hingga kini, pergerakan keduanya di alam liar masih terus dipantau tim konservasi.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Menyusuri Perjalanan ke Labuan Cermin di Berau dengan Menggunakan Perahu yang Menyenangkan "
[Gambas:Video 20detik]
(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 



Hide Ads