Kondisi Terkini Orang Utan yang Ditemukan Kurus Kering 2023 Lalu

Kondisi Terkini Orang Utan yang Ditemukan Kurus Kering 2023 Lalu

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Selasa, 26 Mei 2026 11:00 WIB
Orang Utan Mauliyan bersama anaknya Ariandi
Orang Utan Mauliyan bersama anaknya Ariandi. Foto: Istimewa (dok BKSDA Kaltim)
Kutai Timur -

Mauliyan dan Ariandi, sepasang induk-anak orang utan, ditemukan dalam kondisi memprihatinkan pada 2023 lalu. Tubuh mereka kurus kering, tergolong malnutrisi. Kini setelah 3 tahun berlalu, bagaimana kabar induk-anak orang utan yang telah dilepasliarkan ini?

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (Kaltim) M Ari Wibawanto menceritakan, dua individu orang utan ini dievakuasi pada 2023 dari kawasan tambang batu bara di Kutai Timur. Mereka kemudian diberi nama Mauliyan dan Ariandi.

Berdasarkan identifikasi tim medis, Mauliyan dan Ariandi saat itu dinyatakan malnutrisi dan dehirdrasi akibat keterbatasan sumber pakan dan air di habitatnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dua individu orang utan itu mengalami malnutrisi sehingga perlu dilakukan peningkatan nutrisi dan pemulihan kesehatan," ujar Ari kepada detikKalimantan, Senin (25/5/2026).

Rehabilitasi yang dilakukan berfokus pada pemulihan kondisi fisik alih-alih perilaku. Ari mengatakan insting liar Mauliyan dan Ariandi saat itu masih sangat baik, sehingga tidak memerlukan rehabilitasi perilaku terlalu lama.

"Perilakunya masih liar sehingga yang dilakukan lebih kepada rehabilitasi kesehatan dan peningkatan nutrisinya," lanjutnya.

Menurut tim Centre for Orangutan Protection (COP), Mauliyan masih menyusui dan Ariandi masih berusia 3 tahun ketika ditemukan. Produksi ASI Mauliyan saat itu sangat sedikit sehingga memengaruhi gizi Ariandi juga.

"Ketika diperiksa saat evakuasi, ASI yang keluar sangat sedikit. Padahal Ariandi masih membutuhkan perawatan dari induknya," ungkap Manajer Pusat Rehabilitasi COP Widi Nursanti.

Kondisi Mauliyan bahkan sempat drop ketika baru dibawa ke pusat rehabilitasi. Ia mengalami gejala hipoglikemia atau kadar gula rendah akibat malnutrisi dan aktivitas menyusui.

"Mauliyan sempat pingsan dari pagi sampai siang dan kami melakukan terapi cairan serta tambahan madu dan gula untuk membantu pemulihan," ujar Paramedis COP Miftachul Hanifah.

Selama proses rehabilitasi, Mauliyan mendapat perlakuan khusus berbeda dibanding orang utan lainnya. Tim medis memberikan porsi makan dua kali lebih banyak. Ia diberi tambahan alpukat, susu kedelai, hingga cairan elektrolit rutin untuk mempercepat pemulihan nutrisi.

"Selama menjalani rehabilitasi, berat badan Mauliyan meningkat signifikan. Dari awalnya hanya sekitar 19 kilogram, berat tubuhnya bertambah menjadi 34 kilogram pada Maret 2024 saat akan dilepasliarkan. Kondisi kulit membaik, rambut mulai tumbuh kembali, dan perilaku liarnya tetap terjaga," lanjut Hanifah.

Kini sudah lebih dari 2 tahun sejak Mauliyan dan Ariandi kembali ke habitatnya di alam liar. Mereka dilepasliarkan di kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur. Pergerakan keduanya masih terus dipantau tim konservasi.

Dalam dokumentasi terbaru, tampak Mauliyan dan Ariandi sedang bercengkerama di pohon. Mauliyan kini sudah tampak gemuk. Ariandi yang sudah berusia 6 tahun masih menempel di gendongan induknya.

Orang Utan Mauliyan bersama anaknya AriandiOrang Utan Mauliyan bersama anaknya Ariandi di tahun 2026. Foto: Istimewa (dok BKSDA Kaltim)



(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads