Hutan Terlarang, itulah julukan yang disematkan untuk Tane' Olen, hutan lindung di Desa Setulang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Lebih dari hutan lindung, Tane' Olen adalah sumber pangan, air bersih, dan obat-obatan tradisional yang masih dijaga hingga saat ini.
Luas Tane' Olen Setulang mencapai sekitar 4.300 hektare lebih dan masih didominasi hutan primer. Berkat aturan adat yang ketat, berbagai jenis tumbuhan khas Kalimantan masih lestari tumbuh dan berkembang secara alami.
Tane' Olen Setulang dikenal memiliki keanekaragaman flora yang sangat tinggi, terutama dari kelompok pohon-pohon hutan hujan tropis Kalimantan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa jenis pohon bernilai ekonomi dan ekologis tinggi yang masih dapat ditemukan di kawasan ini antara lain pohon ulin (Eusideroxylon zwageri), kapur (Dryobalanops sp.), keruing (Dipterocarpus sp.), meranti (Shorea sp.), serta tengkawang (Shorea macrophylla).
Pohon-pohon tersebut merupakan bagian dari keluarga Dipterocarpaceae yang menjadi ciri khas utama hutan hujan Kalimantan. Selain berperan menjaga keseimbangan ekosistem, pohon-pohon besar ini juga menjadi habitat berbagai satwa liar yang hidup di kawasan Tane' Olen.
Tumbuhan Obat yang Dimanfaatkan Masyarakat Dayak Kenyah
Daun Kareumbi (Dok. Australian Plant Society) Foto: Daun Kareumbi (Dok. Australian Plant Society) |
Pengetahuan mengenai tanaman obat di Tane' Olen diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat adat. Berbagai jenis tumbuhan pun dimanfaatkan untuk mengatasi penyakit ringan hingga keluhan kesehatan tertentu.
Penelitian berjudul Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Obat dan Pemanfaatannya di Kawasan Tane' Olen Desa Setulang Malinau, Kalimantan Timur mencatat berbagai tanaman obat yang tumbuh dan dimanfaatkan masyarakat Desa Sentulang.
Salah satu tanaman yang digunakan adalah Homalanthus populneus atau yang dikenal dengan kareumbi, dimanfaatkan sebagai obat kurap. Bagian daun tanaman ini dihaluskan lalu dioleskan pada area kulit yang terkena infeksi.
Untuk mengatasi sakit gigi, masyarakat memanfaatkan cempaka (Elmerrillia tsiampacca). Sementara itu, tanaman talas (Alocasia scabriculata) digunakan sebagai obat yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit ginjal dengan cara bagian tertentu dari tanaman ditumbuk, direbus, lalu air rebusannya diminum.
Menariknya lagi, pohon ulin juga dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak Kenyah di Desa Setulang. Pucuk atau daun mudanya digunakan untuk membantu meredakan nyeri pada pinggang dengan cara ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit.
Tanaman Penurun Demam
Beberapa tanaman lain juga dimanfaatkan untuk menurunkan demam. Akar dari pacing tawar misalnya, digunakan sebagai penurun panas setelah dibersihkan dan dicampur dengan air.
Masyarakat juga memanfaatkan daun paku sayur (Diplazium esculentum) untuk membantu menurunkan panas pada anak-anak. Daun paku direndam dalam air, kemudian air rendamannya digunakan untuk mengompres dahi.
Paku sayur di Tane' Olen (Dok. iNaturalist) Foto: Paku sayur di Tane' Olen (Dok. iNaturalist) |
Salah satu tanaman yang digunakan untuk menawar racun adalah Aristolochia sp. Akar tanaman ini dikeringkan, dipotong-potong, kemudian direbus sebelum dikonsumsi. Namun, penggunaan Aristolochia saat ini resmi dilarang oleh Badan POM karena diketahui memiliki efek samping gagal ginjal.
Selain itu terdapat pula Octomeles sumatrana atau benuang yang digunakan untuk mengatasi panu dan kurap, serta talas Schindapsus sp. yang dimanfaatkan untuk mengobati sakit mata dan gigitan serangga.
Obat Luka dan Penyubur Rambut
Paku sarang burung di Tane' Olen, Malinau, Kalimantan Utara. Foto: Dok. Royal Botanic Garden Edinburgh |
Daun sirih Piper sp. digunakan sebagai obat luka dengan cara ditumbuk lalu dibalurkan pada bagian tubuh yang terluka. Sementara itu, Bauhinia diptera dimanfaatkan untuk membantu mengatasi luka karena benda tajam.
Untuk penyubur rambut, ada tanaman paku jenis sarang burung atau bernama latin Asplenium cf. phyllitidis. Daunnya dihaluskan, dicampur dengan parutan kelapa, lalu air hasil saringannya digunakan untuk mencuci rambut.
Untuk mengatasi keluhan seperti kencing batu dan kencing manis, masyarakat Setulang memanfaatkan rumput kerbau (Paspalum conjugatum). Bagian daun dan akar direbus, kemudian air rebusannya diminum.
Sedangkan tanaman rukam (Flacourtia rukam) dimanfaatkan untuk membantu mengatasi gejala meriang dan menggigil. Daunnya direbus dan air rebusannya digunakan untuk mandi.
Keberadaan puluhan jenis tumbuhan obat di Tane' Olen menunjukkan betapa masyarakat Dayak Kenyah sangat dekat dengan alam.
Melimpahnya kebermanfaatan membuat masyarakat Setulang tetap menjaga kelestarian Tane' Olen. Bagi mereka, hutan adalah kehidupan. Tidak ada hutan, maka tidak ada kehidupan untuk generasi mendatang.


