Selama bulan Ramadan, sore hari di pelataran Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) selalu dipadati ribuan warga. Area masjid ini jadi spot favorit warga buat ngabuburit hingga berbuka puasa bersama (bukber).
Seolah sudah jadi tradisi tahunan warga Pontianak ngabuburit di Masjid Mujahidin, area plataran menjadi ruang kebersamaan lintas generasi di Kota Khatulistiwa.
Sejak pukul 16.30 WIB, warga sudah mulai ramai berdatangan. Ada yang membawa tikar, tas berisi makanan, serta minuman untuk berbuka. Area pelataran yang luas perlahan berubah menjadi hamparan warna-warni alas yang tersusun rapi untuk duduk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiap keluarga duduk melingkar sambil menata hidangan sederhana yang dibawa dari rumah, atau dibeli di Pasar Juadah Halaman Masjid Mujahidin. Terlihat menu seperti es buah, kolak, gorengan, hingga nasi kotak tersusun rapi menanti azan magrib.
Sementara itu terlihat anak-anak berlarian dengan riang di sela kerumunan. Pedagang balon anak dan tisu pun ikut wara-wiri menjajakan dagangan, turut meramaikan suasana.
Warga menanti azan Magrib di pelataran Masjid Mujahidin Pontianak. Foto: (Ocsya Ade CP) |
Menjelang magrib, suasana berubah lebih khusyuk. Sebagian jemaah mengisi waktu dengan membaca Al-Qur'an, berselawat, atau mendengarkan tausiah singkat. Langit Pontianak yang perlahan menggelap menjadi latar momen kebersamaan tersebut.
Salah seorang warga, Sesthya Wara Winnia, mengatakan suasana berbuka di Masjid Mujahidin memiliki makna tersendiri bagi keluarganya. Ibu dua anak itu mengaku rutin datang setiap Ramadan.
"Kalau di rumah memang lebih tenang, tapi di sini terasa semangat Ramadannya. Anak-anak belajar tentang kebersamaan dan berbagi. Kadang kami juga saling tukar makanan dengan keluarga lain," cerita Sesthya.
Menurutnya, tradisi ini selalu dirindukan setiap tahunnya. Tradisi ini bukan hanya soal berbuka puasa, melainkan juga membangun kenangan bagi anak-anaknya tentang indahnya Ramadan.
"Sebagai orang tua, saya ingin mereka ingat bahwa Ramadan itu bukan cuma menahan lapar, tapi juga tentang silaturahmi dan saling menghargai. Jadi, sekali seumur hidup wajib ke sini," tambahnya.
Menariknya, suasana kebersamaan itu juga dirasakan warga non muslim. Agnes Oktaviani mengaku kerap melintas Masjid Mujahidin dan menyaksikan langsung ramainya pelataran masjid saat Ramadan.
"Saya senang lihatnya. Walaupun berbeda keyakinan, tapi terasa sekali kebersamaannya. Teman-teman saya yang muslim juga sering cerita soal buka puasa di sini. Pontianak memang kota yang toleransinya kuat," kata Agnes.
Ia menilai tradisi seperti ini menjadi simbol harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat. Maka dari itu, ia pun mencoba war takjil di Pasar Juadah dan menikmatinya di sela-sela masyarakat Muslim yang berbuka puasa.
Saat azan magrib berkumandang, ribuan jemaah serentak membatalkan puasa. Suara doa terdengar bersamaan, disusul tegukan air dan santapan ringan. Senyum dan sapaan mengalir di antara mereka yang sebelumnya tak saling mengenal.
Usai berbuka, sebagian besar jemaah bergegas mengambil wudu untuk menunaikan salat magrib berjemaah di dalam masjid. Sementara yang lain masih duduk santai, menikmati suasana malam yang mulai turun perlahan.
Masjid Raya Mujahidin Pontianak setiap Ramadan tak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menjadi ruang publik yang mempertemukan beragam latar belakang masyarakat.
Di tengah hiruk-pikuk kota, pelataran masjid ini menghadirkan wajah Ramadan yang hangat-tentang kebersamaan, toleransi, dan tradisi yang terus terjaga dari tahun ke tahun.
(aau/aau)
