Pagi baru saja menyapa Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, ketika suara burung bersahutan di antara pepohonan tua yang menaungi kawasan bersejarah itu. Di tepian Sungai Lamandau, sebuah bangunan kayu ulin berdiri kokoh menantang zaman.
Itulah Astana Al-Nursari, rumah warisan Kesultanan Kotawaringin yang kini menjadi magnet wisata religi dan sejarah di Kalimantan Tengah. Dari kejauhan, bangunan bercat kuning khas kerajaan Melayu itu tampak sederhana.
Namun siapa sangka, di balik dinding-dinding kayunya tersimpan kisah panjang para sultan, pangeran, serta perjalanan dakwah Islam yang membentuk peradaban Kotawaringin hingga hari ini. Setiap akhir pekan, sejumlah pengunjung datang silih berganti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada yang ingin berziarah, ada pula yang sekadar ingin melihat langsung peninggalan Kesultanan Kotawaringin yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita orang tua atau buku sejarah.
"Orang-orang sekarang datang bukan hanya untuk melihat bangunannya, tetapi juga ingin mengetahui sejarah leluhur Kesultanan Kotawaringin," kata Gusti Samudra, putra almarhum Gusti Suseno yang merupakan generasi keenam dari Pangeran Paku Sukma Negara, kepada detikKalimantan saat ditemui di Pangkalan Bun, Senin (15/6/2026).
Bagi Gusti Samudra, Astana Al-Nursari bukan sekadar bangunan tua. Tempat itu adalah saksi hidup perjalanan keluarga besar kerajaan yang diwariskan turun-temurun selama lebih dari satu abad.
Sejarah Astana Al-Nursari berawal dari sosok Pangeran Paku Sukma Negara, salah satu tokoh penting Kesultanan Kotawaringin. Setelah pusat pemerintahan kerajaan berpindah ke Pangkalan Bun, bangunan tersebut menjadi kediaman keluarga kerajaan yang tetap bertahan di Kotawaringin Lama, wilayah yang dahulu menjadi pusat awal berkembangnya kerajaan.
Dari generasi ke generasi, bangunan itu terus dijaga. Kayu ulin yang menjadi material utama konstruksinya masih tampak kuat. Lantai, tiang, hingga dindingnya seolah menyimpan cerita tentang langkah para bangsawan yang pernah menghuni rumah bersejarah tersebut.
"Namun Astana Al-Nursari bukan hanya tentang kejayaan kerajaan. Di kawasan inilah wisatawan juga dapat menyusuri jejak penyebaran Islam di Kotawaringin. Tidak jauh dari bangunan astana terdapat sejumlah makam keluarga kerajaan dan ulama yang menjadi tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah," kata dia.
Menurut Gusti Samudra, hubungan antara kerajaan dan syiar Islam memang tidak bisa dipisahkan. Para pemimpin Kesultanan Kotawaringin memiliki peran besar dalam perkembangan Islam di wilayah pesisir Kalimantan bagian barat.
"Makanya banyak pengunjung yang datang untuk berziarah sekaligus belajar sejarah. Mereka biasanya mengunjungi beberapa situs dalam satu kawasan karena semuanya saling berkaitan," ujarnya.
Perjalanan menuju Astana Al-Nursari pun menghadirkan pengalaman tersendiri. Pengunjung akan melewati perkampungan tua yang masih mempertahankan nuansa masa lampau.
Rumah-rumah kayu berdiri di tepi jalan, sementara Sungai Lamandau mengalir tenang seakan menjadi penjaga kisah-kisah lama yang belum habis diceritakan.
Astana Al-Nursari Kotawaringin Barat/ Foto: Istimewa (dok Dispar Kobar) |
Saat memasuki area astana, suasana terasa berbeda. Tidak ada hiruk-pikuk seperti tempat wisata modern. Yang terdengar hanya semilir angin dan suara dedaunan yang bergesekan. Kesunyian itu justru menjadi daya tarik bagi mereka yang ingin menenangkan diri sambil mengenang perjalanan sejarah para pendahulu.
Kini, Astana Al-Nursari perlahan menjelma menjadi salah satu destinasi wisata religi unggulan di Kotawaringin Barat. Perpaduan antara sejarah kesultanan, warisan budaya Melayu, dan nilai-nilai keislaman menjadikan tempat ini memiliki daya tarik yang sulit ditemukan di lokasi lain.
"Bagi masyarakat Kotawaringin Lama, Astana Al-Nursari bukan hanya peninggalan masa lalu. Ia adalah jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan para leluhur yang pernah membangun peradaban di tepian Sungai Lamandau," tambahnya.
Di tempat inilah sejarah tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan melalui setiap sudut bangunan yang masih berdiri tegak melawan waktu. "Harapan kami, Astana Al-Nursari tetap terpelihara dan semakin dikenal masyarakat luas. Ini bukan hanya warisan keluarga kerajaan, tetapi warisan sejarah untuk seluruh masyarakat Kotawaringin," tutupnya.
(sun/des)

