Film Horor Songko Sajikan Mitos Minahasa, Cast Ungkap Tantangan Syuting
Para pemain membagikan pengalaman mereka selama proses produksi. Imelda Therinne selalu pemeran sosok ibu tiri bernama Helsye mengaku langsung tertarik sejak pertama kali membaca naskah karya Gerald Mamahit selaku penulis dan sutradara.
"Senang banget bisa terlibat di project film Songko ini. Pertama kali aku disodorin sama Gerald, menurut aku Gerald penulis yang dari jahitan tulisannya menurut aku keren banget. Jadi thank you for sharing a beautiful story, dan karena kamu asli dari Sulawesi jadi berasa tulisannya tuh benar-benar mengangkat budaya yang real," kata Imelda Therinne di gala premiere yang digelar di XXI Metropole, Jakarta Pusat, awal pekan ini.
"Buat aku sebagai aktor, aku selalu ingin tahu lebih dalam. Aku sangat appreciate sekali Dunia Mencekam, Santara, Film Machine yang berani mengeksplorasi membuat film dari daerah. Kita jadi menyadari bahwa Indonesia tuh luas dan banyak sekali kekayaan cerita-cerita turun-temurun yang bisa kita angkat," lanjut dia
Dalam proses syuting, Imelda menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi bahasa. Untungnya ia dibantu rekan-rekan seperti Anneth Edoarda yang asli orang Manado.
"Bahasa tuh 80% bahasa Manado! Yes. Dan ternyata ya emang bahasa tuh susah-susah gampang. Cuman karena banyak cece-cece Manado di sini yang ngebantu sekali," ungkapnya.
Selain itu, ia juga harus beradaptasi dengan kondisi alam saat syuting di Tomohon.
"Cuacanya berat banget, kayak kita lagi syuting di luar negeri, dingin banget. Cuman pay off-nya pemandangan indah banget. Semoga ke-capture ya di film. So excited, mudah-mudahan ini film bisa memberikan angin segar ke dunia perfilman Indonesia," tambah Imelda.
Cast dan crew film Songko saat konferensi pers di XXI Metropole, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026). Foto: Febriyantino Nur Pratama/BeritaKlik |
Di sisi lain, aktris Anneth Edoarda yang memerankan Mikha mengaku memiliki kedekatan personal dengan cerita Songko. Terlebih Anneth adalah orang asli Minahasa yang mengetahui sosok mitos hantu Songko.
"Pertama kali aku ditawarkan itu aku langsung ketemu sama Gerald sama Gafi. Kita ketemu di tempat makan terus ditawarin 'Kita ada cerita nih tentang Songko' yang di mana kebetulan aku lahir dan besar di Manado. Jadi aku cukup tahu tentang creature Songko ini. Tapi nggak seperti yang kalian tonton. Aku tahu itu ada, tapi nggak pernah melihat langsung," ujar Anneth.
Ia juga merasa bangga bisa membawa latar kampung halamannya ke layar lebar. Anneth menambahkan, tantangan terbesarnya adalah memerankan karakter remaja 17 tahun. Sehingga ia harus me-recall kembali jiwanya saat usia 17 tahun.
"Aku harus mencari lagi bagaimana suara aku waktu umur 17 tahun, karena saat ditawarkan aku sudah 26 tahun. Tapi aku sangat terbantu oleh para aktor lain," jelasnya.
Ia bahkan mengungkapkan pengalaman emosional saat proses syuting selesai.
"Setelah film wrap, aku benar-benar nangis. Kita semua nangis, kayak nggak mau selesai. Dan sampai sekarang kita jadi makin dekat," katanya.
Cast lainnya, Fergie Brittany berusaha menghadirkan karakter yang berbeda dari peran horor sebelumnya. Ia menggambarkan Lina, karakter yang dia mainkan, sebagai sosok yang penuh pergulatan hidup.
"Penulisan dari Gerald sudah bagus, background Lina juga jelas, jadi sangat membantu. Lina itu banyak struggle dan melihat hidup berbeda dengan Mika. Aku paham kenapa dia punya sudut pandang seperti itu. Tapi jujur memerankan Lina itu capek. Jadi jangan ditiru ya Lina, yang ditiru Mika aja," kata Fergie Brittany.
Sementara itu, Khiva Iskak mengungkapkan tantangannya memerankan tokoh Romo walaupun di dunia nyata dirinya adalah seorang Muslim. Ia pun tak pikir panjang saat di ajak bermain film ini karena berlatar di luar Jawa. Ia juga tertarik karena proses syuting dilakukan langsung di Tomohon.
"Alhamdulillah saya Islam sebenarnya, tapi di sini ditantang dari budaya dan kebiasaan. Pas ditawarin, saya langsung merasa ini sesuatu yang berbeda, sangat lokal dan di luar Pulau Jawa. Pas tahu syutingnya di Tomohon, saya langsung gas. Karena bisa langsung syuting di tempat aslinya, jadi terasa otentik," kata Khiva.
Untuk mendalami karakter Romo, Khiva melakukan riset mendalam. Ia banyak bertanya kepada keluarganya yang menganut Katolik dan kerap diantarnya ke Gereja.
"Saya banyak nanya ke keluarga tentang bagaimana Romo itu berbicara dan bersikap. Karena yang saya tahu sebelumnya hanya di permukaan," kata Khiva.
Eksekutif Produser Santara, Whisnu Baker, mengungkapkan bahwa Songko merupakan bagian dari visi untuk mengangkat cerita-cerita daerah yang selama ini jarang tereksplorasi.
"Kami ingin membawa cerita lokal ke level yang lebih luas, tapi tetap dengan keaslian yang kuat. Dengan melibatkan talenta dari daerah asalnya, kami berharap cerita ini terasa lebih hidup dan memiliki identitas yang kuat," jelas Whisnu.
Sutradara Gerald Mamahit mengungkapkan bahwa film ini bukan hanya tentang menghadirkan rasa takut, tetapi juga tentang menggali sisi gelap manusia saat dilanda teror.
"Yang membuat Songko terasa berbeda adalah bagaimana ketakutan itu berkembang. Bukan hanya dari makhluknya, tapi dari manusia yang mulai kehilangan rasa percaya satu sama lain. Itu yang kami coba hadirkan horor yang terasa dekat dan nyata," pungkas Gerald.
Produksi Songko juga memiliki keunikan dengan pembangunan set desa di kaki Gunung Lokon, Tomohon. Set tersebut dibangun dari nol dan kini masih berdiri sebagai jejak produksi yang bahkan menjadi spot foto bagi masyarakat.
Sekitar 60 persen pemain dan kru berasal dari Manado dan sekitarnya, memperkuat nuansa lokal. Produser kreatif Avandrio Yusuf juga melakukan riset langsung dengan tokoh adat dan warga untuk menjaga keaslian cerita.
Setelah Jakarta, gala premiere film ini akan berlanjut ke Manado sebagai bentuk penghormatan terhadap asal-usul cerita. Berlatar tahun 1986 di Tomohon, film ini mengisahkan teror kematian misterius perempuan muda yang memicu kepanikan warga desa.
Berlatar tahun 1986 di sebuah desa di Tomohon, Minahasa, Songko mengisahkan teror yang dimulai dari kematian misterius perempuan-perempuan muda. Warga percaya bahwa makhluk bernama Songko telah datang untuk mengincar darah suci demi kekekalan. Ketakutan pun berubah menjadi kepanikan.
Film Songko akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 April 2026.
(fbr/aay)

