7 Fakta di Balik Layar Batman Tim Burton
Di balik kesuksesan Michael Keaton memakai jubah hitam dan topeng kelelawar, ada banyak sekali rahasia dapur dan detail unik yang jarang diketahui orang.
Menyambut hari jadi film legendaris ini, berikut fakta-fakta menarik dan tersembunyi dari balik layar pembuatan Batman:
1. Bill Murray dan Eddie Murphy Hampir Jadi Batman & Robin
Penampilan aktor senior Bill Murray. Foto: Dok. Ist |
Jauh sebelum Tim Burton masuk, Warner Bros. pada 1983 sempat berencana merilis film Batman dengan konsep komedi ala serial tahun 1960-an.
Sutradara kawakan Ivan Reitman sempat dilirik, dan ia memiliki ide liar untuk memasangkan Bill Murray sebagai Batman serta Eddie Murphy sebagai Robin. Untungnya, rencana ini batal dan kita mendapatkan versi yang jauh lebih kelam dan ikonik.
2. Ide Suara Serak Batman Lahir dari Michael Keaton
Batman (1989). Foto: Dok. Warner Bros |
Saat diumumkan memerankan Bruce Wayne, Michael Keaton sempat dihujat habis-habisan oleh penggemar komik karena dinilai tidak cocok. Namun, Keaton memberikan kontribusi jenius yang kini ditiru oleh semua aktor Batman: membedakan suara saat menjadi Bruce Wayne dan saat mengenakan topeng Batman.
Keaton sengaja menggunakan register suara yang lebih rendah dan serak saat menjadi Batman agar identitasnya tidak ketahuan. Trik vokal ini kemudian diadopsi oleh Kevin Conroy di versi animasi hingga Christian Bale di trilogi The Dark Knight.
3. Rahasia Set Pabrik Kimia yang Ternyata Bekas Sarang Alien
Batman (1989). Foto: Dok. Warner Bros |
Adegan ikonik di pabrik kimia Axis Chemicals, tempat Jack Napier jatuh dan berubah menjadi Joker, ternyata menggunakan lokasi syuting yang familier bagi pencinta fiksi ilmiah. Adegan tersebut diambil di Pembangkit Listrik Acton Lane di Inggris.
Tempat ini adalah lokasi yang sama yang digunakan oleh sutradara James Cameron untuk properti sarang alien dan kendaraan lapis baja dalam film Aliens (1986).
4. Hampir Menampilkan Duet Maut Michael Jackson dan Prince
UNITED STATES - MARCH 01: MADISON SQUARE GARDEN Photo of Michael JACKSON, Michael Jackson performing on stage, performing Thriller - Bad Tour (Photo by George De Sota (ID 5073478)/Redferns) Foto: Redferns/George De Sota |
Pada era 1980-an, Prince dan Michael Jackson terlibat persaingan musik yang sangat sengit. Produser film ini sempat mencoba memanfaatkan rivalitas tersebut dengan menyatukan mereka dalam satu album soundtrack.
Rencananya, Prince akan menyanyikan lagu-lagu tema bernuansa ceria untuk sang Joker, sementara Michael Jackson akan membawakan lagu balada romantis untuk Batman dan Vicki Vale.
Namun karena kendala kontrak dengan label rekaman, proyek duet ini batal, dan Prince akhirnya menggarap seluruh lagu soundtrack-nya sendirian.
5. Klimaks Film Terinspirasi dari Teater 'Phantom of the Opera'
Batman (1989). Foto: Dok. Warner Bros |
Bagian akhir film di menara lonceng katedral sebenarnya mengalami perombakan total di menit-menit terakhir. Produser Jon Peters diam-diam memesan model menara setinggi 11 meter tanpa memberi tahu Tim Burton.
Ide adegan ini muncul setelah Peters dan Jack Nicholson menonton pertunjukan musikal The Phantom of the Opera karya Andrew Lloyd Webber. Burton bahkan sempat mengaku kebingungan saat mengarahkan adegan tersebut.
Ketika Jack Nicholson bertanya, "Kenapa saya harus menaiki semua tangga ini? Saya mau ke mana?", Burton menjawab jujur, "Saya juga tidak tahu."
6. Munculnya Easter Egg Negara 'Corto Maltese'
Batman (1989). Foto: Dok. Warner Bros |
Dalam film tersebut, jurnalis foto Vicki Vale (Kim Basinger) diceritakan baru saja menyelesaikan tugas liputan dari sebuah negara konflik bernama Corto Maltese sebelum dia datang ke Gotham.
Nama pulau fiktif ini diambil dari komik legendaris Frank Miller, The Dark Knight Returns. Menariknya, 32 tahun kemudian, negara fiktif Corto Maltese ini diangkat menjadi latar tempat utama dalam film The Suicide Squad (2021) garapan James Gunn.
7. Trik Akuntansi Hollywood: Sukses Besar tapi Diklaim "Rugi"
Tim Burton bersama Michael Keaton kala syuting Batman (1989). Foto: Dok. Warner Bros |
Didukung dengan biaya promosi gila-gilaan sebesar 62 juta dolar AS (termahal di masanya), film ini mencetak sejarah dengan memecahkan rekor opening weekend terbesar kala itu dan meraup pendapatan masif di seluruh dunia.
Namun, lewat sistem yang dikenal sebagai Hollywood accounting, pihak studio Warner Bros. secara legal mengklaim bahwa film ini tidak menghasilkan keuntungan bersih karena tingginya biaya distribusi dan potongan lainnya. Trik ini biasa dilakukan studio agar mereka tidak perlu membagikan royalti ekstra kepada para kru dan pemain.
(ass/ass)



















































