Round Up

Supergirl Disebut Lesu dan Merugi, Milly Alcock Ikut Disalahkan

Desi Puspasari
|
detikPop
Supergirl (2026).
Foto: Dok. Warner Bros
Jakarta - Supergirl gak sesuai ekspektasi. Film DCU yang dibuat bersama James Gunn itu dinilai gagal memenuhi ekspektasi.

Padahal modal pembuatan film ini gak sedikit, yakni mencapai USD 170 juta atau sekitar Rp 3 triliun. Dilihat dari Variety, Supergirl cuma berhasil meraih pendapatan sebesar USD 37,1 juta atau sekitar Rp 665,8 miliar di Amerika Utara dan USD 25,5 juta atau sekitar Rp457,6 miliar dari pasar internasional.

Secara keseluruhan pada akhir pekan perdana pemutarannya di box office global, Supergirl mengumpulkan USD 62,6 juta atau sekitar Rp 1,12 triliun.

Pendapatan itu dinilai menjadi sesuatu yang mengecewakan buat semesta baru DC Universe di bawah kepemimpinan James Gunn. Apalagi Warner Bros. juga dikabarkan mengeluarkan dana promosi sampai USD 120 juta atau sekitar Rp 2,15 triliun buat memasarkan film yang dibintangi oleh Milly Alcock itu.

Hasil pendapatan Supergirl yang lesu semakin bikin was-was karena berhadapan langsung dengan film bioskop lainnya pada, seperti Minions & Monsters produksi Universal, versi live-action Moana dari Disney, The Odyssey garapan Christopher Nolan, dan Spider-Man: Brand New Day.

Kondisi ini turut menyorot Milly Alcock sebagai pemeran utama. Host acara The Megyn Kelly Show, Megyn Kelly, memberikan kritik tajam kepada aktris muda asal Australia itu.

Kritik itu muncul setelah Alcock yang akan memerankan Kara Zor-El dalam film DC Studios mendatang, Supergirl: Woman of Tomorrow, menyuarakan keresahannya tentang sisi toksik sebagian fandom.

Kelly menilai Alcock seharusnya bersyukur mendapat kesempatan besar dalam proyek ini. Dia menyayangkan aktris berusia 26 tahun justru mengeluhkan respons para penggemar.

Kritik dari Megyn Kelly dipicu karena wawancara Milly Alcock sebelumnya. Dia sempat mengungkapkan pandangannya soal beban besar dan tekanan psikologis saat masuk ke dalam waralaba pahlawan super.

Alcock menyebut kultur fandom di media sosial bisa menjadi sangat agresif, menghakimi, dan toksik, terutama ketika menyangkut ekspektasi terhadap karakter ikonik seperti Supergirl.

"Kita sudah melewati era 'girlboss' yang dipaksakan kepada kita," katanya.

"Kita tidak lagi termakan oleh narasi itu. Bukan berarti perempuan tidak bisa berdaya, tangguh, dan memiliki segala kualitas hebat lainnya. Hanya saja, berhentilah memaksakan citra itu kepada kita dalam wujud 'Supergirl'," sambungnya kala itu.

Alhasil, Alcock menjadi sasaran sebagai salah satu yang disalahkan terkait kekurangan film Supergirl. Komentator sayap kanan mengkritik pernyataan Alcock soal seksisme dalam genre superhero. Sampai-sampai tinggi badan Alcock juga ikut dikomentari.


(pus/tia)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO