Di Atas Takhta Belum Tentu Bisa Memerintah, Rhaenyra Plenger
Keduanya punya ciri khas dari penceritaan, terlebih kalau mengisahkan tentang kekuasaan. Tolkien itu cenderung idealis, pokoknya kalau raja baik hati, negara otomatis makmur.
George R.R. Martin ini beda banget. Dia lebih suka nunjukkin sisi brutal dan realistis dari kekuasaan, lengkap dengan segala drama dan kesalahan para tokohnya.
Ternyata, ketidaksukaan Martin sama pendekatan Tolkien ini bukan rahasia lagi. Dalam sebuah wawancara lama dengan Rolling Stone, Martin sempat curhat soal ini.
Intinya dia bilang, jadi raja itu gak semudah jadi orang baik, terus rakyat bakal sejahtera. Dia mempertanyakan hal-hal teknis yang menurutnya gak pernah dibahas Tolkien.
Soal Aragorn, misalnya, gimana kebijakan pajaknya, apakah dia punya pasukan tetap, atau gimana dia menangani masa-masa sulit kayak banjir dan paceklik.
Nah, keresahan Martin inilah yang katanya jadi salah satu alasan dia bikin cerita sendiri yang jauh lebih kejam soal realita kekuasaan.
Fokus ke Game of Thrones, kita lihat sendiri gimana Daenerys harus belajar dengan begitu pahit gimana menaklukkan wilayah itu beda banget sama memimpinnya. Jon Snow juga kena getahnya waktu bersikap, tapi malah bikin masalah sama orang-orang yang dia pimpin. Bahkan Ned Stark yang terkenal jujur pun malah kesulitan main politik di King's Landing.
Karya epik terbaru Martin baru saja jadi contoh nyata, House of the Dragon Season 3 Episode 3. Dalam episode berjudul Rhaenyra Triumphant, Rhaenyra baru aja berhasil duduk di Iron Throne, eh langsung dihadapkan sama tumpukan masalah pelik.
Dia dihadapkan sama dilema besar, kayak harus gimana sama pihak Greens yang gak melawan tapi juga gak nyerah. Sampai masalah receh kayak urusan tikus dan penerangan istana yang kurang karena kehabisan lilin.
Jadi jangan heran kalau sepanjang episode ini Rhaenyra keliatan stres berat. Soalnya dia emang lebih jago berjuang untuk diakui sebagai ratu, ketimbang beneran menjalankan pemerintahan sehari-hari.
Apalagi sebagian besar penasihatnya masih tertinggal di Dragonstone, jadi dia kayak jalan sendirian. Ditambah lagi, sosok Raja Viserys I yang dulu jadi panutannya juga bukan contoh raja yang ideal-ideal amat.
Sementara di kubu lawan, Aegon II dan Pangeran Aemond malah bikin situasi makin kacau, dan ujung-ujungnya Rhaenyra yang harus beresin semuanya sendiri.
Pokoknya, episode ini nunjukkin dengan gamblang, merebut takhta itu satu hal, tapi mempertahankan dan menjalankannya itu tantangan yang sama sekali berbeda.
Itu kayak poin yang selama ini pengen ditekankan Martin, sesuatu yang menurutnya jarang banget dibahas di cerita-cerita fantasy klasik kayak Lord of the Rings.
(nu2/dar)

