Gedung Trocadero di London, Inggris baru-baru ini heboh dibicarakan karena dikabarkan sengaja dibeli oleh miliarder Muslim, Asif Aziz untuk diubah menjadi Masjid. Namun, kenyataannya nggak gitu lho detikers.
Dilansir The Sun, gedung ini merupakan salah satu properti pertama yang dibeli oleh Asif Aziz pada 2005 ketika ia juga baru mendirikan Criterion Capital, perusahaan management dan pengelola aset properti di Inggris.
Asif Aziz Foto: via Aziz Foundation |
Trocadero merupakan salah satu gedung bersejarah di Inggris. Lokasinya pun strategis, di antara Picadilly Circus dan Soho. Usia gedung ini cukup tua, yakni 129 tahun di mana mulai beroperasi pada 1896. Awalnya gedung ini dipakai sebagai restoran, tetapi hanya bertahan hingga 1965.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, gedung ini kembali beroperasi pada 1984 sebagai ruang pameran dan hiburan yang disponsori oleh Sega. Kemudian, Asif Aziz membeli gedung ini pada 2005 seharga lebih dari 225 juta poundsterling atau sekarang setara dengan Rp 5,1 triliun (kurs Rp 22.935). Pada masa itu harganya tidak semahal sekarang.
Konsepnya masih sama, yakni sebagai ruang pameran dan hiburan. Namun, setelah itu pusat perbelanjaan tersebut dilaporkan kesulitan menarik penyewa dan kehilangan salah satu penyewa paling terkenal, Planet Hollywood. Restoran terkenal tersebut pindah ke lokasi baru di Haymarket.
Lantai 3 gedung Trocadero juga kosong sejak taman hiburan dalam ruangan Segaworld pindah. Laporan Westminster menimbulkan kekhawatiran tentang kurangnya cahaya alami atau ventilasi di ruangan-ruangan tersebut.
Asif Aziz pun banting stir dengan mengubah gedung tersebut menjadi hotel bernama Piccadilly Hotel. Operasional perdana dimulai pada 2011 dengan hanya setengah gedung yang digunakan dan banyak fasilitas dibuat kecil. Seluruh bagian hotel baru digunakan seluruhnya pada 2020.
Berdasarkan laporan The Standard yang tayang pada 2012, Asif Aziz mengusung konsep hotel "kapsul" yang menawarkan kamar-kamar kecil dengan harga sangat murah. Kamar-kamar tersebut luasnya hanya 12-17 meter persegi. Dengan harga beragam, ada yang sekitar £ 72 atau sekarang setara Rp 1,6 juta per malam. Di dalamnya sudah dilengkapi dengan TV layar datar, Wi-Fi, dok iPod yang bisa memutar musik secara acak.
Hotel ini terinspirasi dari Pod Hotel di New York yang cukup banyak didatangi oleh kalangan pelancong dan kritikus. Washington Post memuji desainnya yang memanfaatkan ruang kamar tidur seluas 3,1 x 3,1 meter dengan maksimal.
Namun, dinding putih yang bersih di Piccadilly Hotel dipenuhi noda hitam dan The Standard mengatakan kasur tidak selembut yang mereka bayangkan.
Terdapat 495 kamar dan semuanya dengan kamar mandi dalam. Kamar akan tersebar dari lantai 1-7 yang juga terdaftar sebagai Bangunan Bersejarah Kelas II di Piccadilly Circus. Tempat ini disebut ideal untuk tamu yang senang berhemat atau para eksekutif bisnis yang perlu merenung sebelum rapat di Piccadilly.
Pembangunan Masjid di Gedung Trocadero
Rancangan bentuk masjid di Gedung Trocadero di London Foto: Aziz Foundation via The Sun |
Kemudian, pada 2020 yayasan miliknya, Aziz Foundation yang dibentuk pada 2015, mengajukan proposal ingin membangun Masjid di 2 lantai paling bawah gedung Trocadero dengan kapasitas jamaah 1.000 orang. Alasannya Asif Aziz ingin menyediakan tempat untuk melayani umat Muslim yang bekerja di daerah tersebut dan wisatawan yang mengunjungi London.
Proposal pembangunan masjid tersebut diketahui media. Tanpa adanya konfirmasi, media besar internasional, seperti The Sun, The Telegraph, Daily Mail, serta Express menerbitkan berita dengan narasi yang keliru.
Dalam berita yang mereka buat, Aziz Foundation disebut hendak mengubah gedung bersejarah tersebut menjadi Masjid di tengah Inggris. Berita tersebut meledak hingga banyak pembaca yang mayoritas mengecam dan meninggalkan komentar negatif. Rata-rata dari masyarakat yang tidak menyukai Islam atau Islamofobia.
Yayasan pun menarik proposal tersebut setelah melihat reaksi publik. Mereka memberi klarifikasi kepada media bahwa gedung tidak diubah seluruhnya menjadi Masjid, melainkan hanya 2 lantai di bawah saja.
Berselang 3 tahun, tepatnya pada 2023, rencana pembangunan masjid tersebut kembali ke permukaan setelah Dewan Kota Westminster menyatakan mengizinkan proyek itu. Tidak disebutkan apakah yayasan mengajukan proposal ulang atau tidak setelah 2020 karena tiba-tiba Dewan kota menyetujui gedung bersejarah Trocadero diubah menjadi tempat ruang ibadah dan fasilitas untuk komunitas lokal.
Dalam pernyataannya, Dewan Kota Westminster hanya memperbolehkan pembangunan masjid untuk 390 jamaah saja. Nama tempat tersebut adalah 'Piccadilly Prayer Space' dan diresmikan di tahun yang sama dengan pintu masuk di Jalan Rupert.
Berdasarkan laporan media BritishWire, tempat ibadah 'Piccadilly Prayer Space' atau sekarang dikenal dengan Piccadilly Community Centre itu kini sudah beroperasi dan digunakan oleh umat Muslim di sana.
Lalu, beberapa hari ini, cerita soal pembangunan Masjid ini kembali ramai dibahas, baik dari media lokal dan internasional. Sayangnya narasinya keliru karena banyak yang menyebutkan alasan Asif Aziz membeli Trocadero karena ditolak salat di sana dan berniat mengubahnya menjadi Masjid. Padahal Trocadero merupakan salah satu koleksi gedung pertamanya saat mendirikan perusaannya, yakni Criterion Capital. Lalu, tidak seluruh gedung diubah menjadi masjid.
(aqi/das)












































