Ada banyak stadion besar dan megah di Eropa, sebut saja Wembley Stadium di Inggris atau Bernabeu yang menjadi kandang Real Madrid. Rata-rata stadion itu dibangun di tengah kota atau dataran rendah yang dekat permukiman penduduk.
Namun, lain halnya dengan stadion yang satu ini karena dibangun di bekas tambang batu. Meski terkesan ekstrem dan bukan hal lumrah, tapi malah menjadi daya tarik tersendiri.
Stadion itu bernama Braga Stadium yang terletak di Portugal. Stadion yang memiliki nama lengkap The Estádio Municipal de Braga kini digunakan sebagai kandang klub divisi utama Portugal, S.C Braga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Dezeen, stadion ini dibangun untuk perhelatan Piala Eropa 2004 yang digelar di Portugal. Karena digunakan untuk ajang sepak bola antar negara, maka kapasitasnya harus besar dan berstandar internasional.
Sang arsitek, Souto de Moura, ditugaskan untuk mendesain Stadion Braga. Menariknya, alih-alih membangun stadion di tengah kota, tapi justru berdiri di lokasi bekas tambang batu, tepatnya di lereng Gunung Castro.
Lokasi itu sendiri dulunya merupakan tambang granit yang telah ditutup sejak lama. Guna memanfaatkan lahan kosong itu, sang arsitek menyulap tambang batu menjadi sebuah stadion sepak bola paling unik di dunia.
Soutio de Moura mengaku cukup kesulitan dalam mendesain stadion di bekas tambang batu. Ia harus menggali gunung bekas tambang batu demi bisa membangun stadion yang rata.
"Saya sangat menyukai lokasi penggalian itu sehingga saya berpikir jika saya terus memotong batu sampai ke dasar, itu akan menciptakan sesuatu layaknya teater Romawi," katanya.
Sebagian stadion dibentuk langsung dari batuan yang digali, sedangkan separuh lainnya dibangun dengan beton bertulang. Menariknya, stadion ini sengaja didesain hanya memiliki dua tribun utama, yakni tribun barat dan timur.
Stadion Braga di Portugal. Foto: UEFA via Getty Images/Alex Pantling - UEFA |
Sementara bagian utara dan selatan stadion sengaja tidak dibangun tribun penonton, melainkan hanya sisa-sisa galian tambang batu. Tak hanya sekadar estetika, ada alasan lain mengapai bagian utara dan selatan stadion tidak ada tribun penonton.
"Sepak bola itu dimainkan dari kiri ke kanan dan kanan ke kiri. Menurut saya, tidak masuk akal jika tribun penonton berada di belakang tiang gawang," ujar Souto de Moura.
Ciri khas lain dari Stadion Braga yakni terdapat tali baja yang menghubungkan atap tribun barat dan timur. Tali baja ini berfungsi untuk menopang atap tribun yang tidak ditopang dengan struktur baja ataupun tiang.
Tali baja yang menghubungkan atap Stadion Braga Foto: UEFA via Getty Images/Alex Pantling - UEFA |
Tidak adanya struktur yang menopang atap justru menjadi kelebihan tersendiri. Sebab, para penonton bisa menyaksikan laga secara nyaman sekaligus menikmati panorama gunung tambang batu yang memukau.
Adanya tali baja yang membentang pada atap tribun penonton juga memberikan kesan seperti kanopi, sehingga menambah kesan estetika dan tidak terlihat kaku.
Agar mempertahankan desain stadion yang minimalis dan modern, Souto de Moura enggan menggunakan pipa pembuangan air hujan. Ia memilih mendesain atap agak sedikit miring sehingga air hujan bisa mengalir ke sistem talang.
"Jika saya membuat dua pipa pembuangan, pipa-pipa itu akan terlihat seperti pilar dan tidak akan tampak seperti atap yang ditopang oleh kabel. Desain itu akan menghancurkan konsep stadion," ungkapnya
Air hujan yang terkumpul dari talang air akan dikumpulkan dalam sebuah tempat khusus. Lalu, air tersebut akan digunakan kembali untuk mengairi lahan di sekitar stadion.
Estadio Municipal de Braga mulai dibangun sekitar Januari 2001 dan akhirnya rampung pada Desember 2003. Stadion berkapasitas 30 ribu penonton ini hanya menggelar dua pertandingan di Piala Eropa 2004, yakni laga Bulgaria Vs Denmark di Grup C dan pertandingan Belanda vs Latvia di Grup D.
Kini, Stadion Braga masih digunakan sampai sekarang untuk pertandingan sepak bola, sekaligus menjadi stadion paling unik di Benua Biru.
(ilf/zlf)












































