Beberapa wilayah di Eropa tengah menghadapi gelombang panas ekstrem beberapa hari belakangan ini. Bahkan suhunya memecahkan rekor paling panas selama 50 tahun belakangan ini di negara tertentu.
Ketika menghadapi suhu panas, orang di Indonesia mungkin berpikir hal ini bisa diatasi dengan menyalakan air conditioner (AC) ketika di rumah. Selama ada perangkat itu, siapa pun bisa tidur dengan nyaman. Namun kenyataannya, rumah di Eropa jarang yang memakai AC. Jumlahnya menurut CNN hanya sekitar 20 persen saja. Hal ini berbanding terbalik dengan rumah dan bangunan di Amerika Serikat yang sudah 90 persen telah dilengkapi AC.
Lantas, bagaimana orang Eropa mengatasi suhu super panas?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata banyak penduduk mengatasi panas terik dengan hal sederhana, yakni memakai kipas angin listrik, kompres es, dan mandi air dingin. Bahkan saat ini banyak ditemukan orang Eropa berbondong-bondong pergi ke sungai dan kanal untuk berenang.
Kenapa Orang Eropa Tak Mau Pakai AC?
1. Tidak Membutuhkan
Faktor yang membuat beberapa negara di Eropa banyak yang tak bergantung pada AC atau pendingin ruangan adalah karena dahulu alat ini memang tidak dibutuhkan, terutama di negara di utara Eropa. Dahulu, gelombang panas yang terjadi tidak sampai 40 derajat sehingga masih diatasi dengan cara lain.
"Di Eropa kita memang tidak memiliki tradisi pendingin ruangan karena sampai belum lama ini, hal itu bukanlah kebutuhan utama," kata Brian Motherway, kepala Kantor Efisiensi Energi dan Transisi Inklusif di Badan Energi Internasional, seperti dikutip BeritaKlik pada Kamis (25/6/2026).
2. AC Barang Mahal
Alasan kedua adalah biaya pemasangan dan penggunaannya yang mahal. Perlu diketahui, biaya energi di banyak negara Eropa lebih tinggi daripada di Amerika Serikat, sementara pendapatan mereka cenderung lebih rendah.
Oleh karena itu, secara tidak langsung AC dianggap sebagai barang mewah di Eropa karena masih di luar jangkauan banyak warga Eropa.
3. Arsitektur Bangunan di Eropa Kebal Panas
Ketiga, arsitektur bangunan di Eropa, terutama di bagian selatan dibangun untuk beradaptasi dengan panas. Bangunannya memiliki dinding tebal, jendela kecil yang mencegah sinar matahari masuk ke dalam, dan dirancang untuk memaksimalkan aliran udara.
Dari sini, penggunanya bisa terlindungi dari panas ekstrem di luar karena bangunannya dapat menjaga suhu bangunan tetap lebih adem.
Namun, di bagian lain Eropa malah sebaliknya. Rumah-rumah belum dirancang dengan mempertimbangkan aspek pemanasan seperti saat ini sehingga terasa layaknya tinggal di oven.
"Kita belum terbiasa memikirkan bagaimana cara tetap sejuk di musim panas. Ini benar-benar fenomena yang relatif baru," kata Motherway.
4. Banyak Bangunan Tua, Sulit Pasang AC Sentral
Faktor penghambat berikutnya adalah pemasangan AC sentral di beberapa bangunan juga sulit karena bangunan di Eropa banyak yang sudah tua. Ditambah otoritas Inggris sering menolak permohonan pemasangan AC. Alasannya karena mengganggu tampilan visual bangunan, terutama di kawasan konservasi atau bangunan bersejarah.
5. Ingin Lebih Ramah Lingkungan
Kemudian, beberapa negara di Eropa telah berjanji ingin menjaga lingkungan dan mewujudkan "netral iklim" pada tahun 2050. Pemakaian AC bertentangan dengan komitmen tersebut.
Selain boros energi, pendingin ruangan juga mendorong panas ke luar. Sebuah studi mengungkapkan penggunaan AC di Paris dapat meningkatkan suhu luar ruangan sekitar 2 hingga 4 derajat celcius. Dampak ini sangat terasa di kota-kota Eropa yang umumnya padat penduduk.
6. Adanya Pembatasan Pemakaian AC
Beberapa negara telah membatasi penggunaan AC. Salah satunya adalah Spanyol yang menetapkan peraturan bahwa pendingin ruangan di tempat umum tidak boleh diatur lebih rendah dari 27 derajat Celcius untuk menghemat energi. Aturan ini diresmikan pada 2022.
Namun, kini beberapa negara di Eropa tengah mengalami dilema setelah wilayah mereka dihantam panas ekstrem beberapa hari terakhir. Panas yang terasa dua kali lipat lebih parah dari yang pernah terjadi.
Bahkan menurut laporan BBC ada peningkatan pembelian kipas angin dan AC di beberapa negara, salah satunya Prancis.
(aqi/das)










































