Wali Kota terpilih New York City (NYC) Zohran Mamdani awal bulan ini mengonfirmasi jika dirinya akan tinggal di rumah dinas Gracie Mansion. Ia menilai akan lebih aman tinggal di sana.
Dengan begitu, rumah sewanya yang berada di Queens akan kosong. Dilansir New York Post, rumah tersebut ditawarkan di luar pasar properti dan yang mengejutkan adalah harganya naik menjadi US$ 3.100 atau Rp 52 juta (kurs Rp 16.785) per bulan. Padahal harga semula yang dikenakan kepada Zohran Mamdani adalah US$ 2.300 atau Rp Rp 38 juta per bulan. Harga tersebut naik US$ 800 atau Rp 13 juta per bulan atau 35 persen.
Apartemen lama Zohran Mamdani Foto: JC Rice via New York Post |
Zohran Mamdani telah menempati apartemen satu kamar tersebut selama tujuh tahun. Pemilik apartemen mengenakan tarif yang jauh lebih rendah daripada yang diizinkan oleh hukum karena itu adalah apartemen bersubsidi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan harga sewa ini bukan hanya karena unit di apartemen tersebut pernah ditempati oleh orang nomor satu di New York City, melainkan pasar sewa di New York disebut sedang tidak baik-baik saja. Banyak rumah sewa ditawarkan dengan harga tinggi.
Sebelum kabar ini mencuat, Mamdani sempat menerima kritik selama kampanye pemilihan wali kota karena tinggal di tempat tinggal yang sangat murah selama bertahun-tahun. Padahal ia memiliki gaji US$ 142.000 atau Rp 2,3 miliar sebagai anggota dewan perwakilan Queens dan berasal dari keluarga yang kaya. Diketahui ia adalah putra dari sutradara film jutawan peraih nominasi penghargaan Mira Nair dan profesor tetap Columbia, Mahmood Mamdani.
Ia pernah bercerita awal mula bisa tinggal di Apartemen Republik Rakyat Astoria pada akhir 2018 adalah karena pada saat itu penghasilannya hanya sekitar US$ 47.000 atau Rp 788 juta per tahun sebagai konselor perumahan pencegahan penyitaan. Pada saat itu juga ia tidak tahu unit tersebut termasuk dalam program sewa stabil atau di Indonesia mirip dengan rumah sewa yang disubsidi.
Tahun berikutnya, ia kedapatan mengeluh tentang uang sewa yang naik tembus US$ 2.000 atau Rp 33 juta per bulan.
"Saat ini, apartemen 1 kamar tidur kami di Astoria yang harga sewanya distabilkan harganya US$ 2000/bulan. Pada tahun 1984, apartemen yang sama harganya US$ 290,60/bulan. Apa ini, kalau bukan pencurian?" tulisnya di X pada November 2019.
Ia juga meminta para pengikutnya untuk memeriksa status stabilisasi apartemen mereka dan meminta riwayat sewa mereka.
Mimpi Mamdani untuk adanya sistem sewa yang stabil terwujud dan telah diterapkan sejak Juni 2025. Namun, kebijakan ini berefek buruk pada pasar properti sewa. Undang-Undang Keadilan dalam Biaya Sewa Apartemen (FARE) yang baru diberlakukan telah melarang biaya perantara. Efeknya menyebabkan harga sewa meroket karena biaya tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari harga sewa. Banyak pemilik properti menaikkan harga sewa pasar guna memberikan keringanan untuk unit-unit yang bersubsidi.
Sejak diberlakukan FARE Act, jumlah listing baru di Residential Listing Service milik Real Estate Board of New York anjlok 77 persen karena semakin banyak broker yang merahasiakan listing eksklusif mereka sebagai cara untuk menghindari larangan tersebut, begitu hasil analisis dari perusahaan real estat UrbanDigs. Dalam kata lain, rumah-rumah sewa itu ditawarkan di luar pasar atau hanya dari mulut ke mulut.
(aqi/das)












































